16 December 2019

Soal Debat Pilpres, Rizal Ramli: Jokowi Hanya Mengulang Praktik Lama yang Gagal. Strategi dan Komitmen Prabowo Tegas bagi Daulat Pangan, Ekonomi

KONFRONTASI-  Jokowi tidak punya pergeseran strategi yang penting, kecuali mengulang praktik-praktik lama yang gagal. Apalagi kebijakan impor yang jor-joran tersebut ditunggangi oleh kartel pemburu rente.

Demikian pandangan tokoh nasional/ekonom senior, Rizal Ramli  (RR) dalam menilai debat pilpres semalam. Menurutnya, Jokowi saat tampil di panggung debat Pilpres 2019 kedua semalam, Minggu (17/2/2019) hanya mengulang strategi lama yang gagal. . Jokowi, kata RR, hanya sibuk mempertahankan dan mengampanyekan hal-hal yang telah dikerjakannya. 

Namun, kata Rizal Ramli, selama 4 tahun terakhir janji kampanye Jokowi tentang kedaulatan pangan semakin jauh dari jangkauan. 

"Semakin sulit untuk tercapai. Dengan kinerja seperti itu, nyaris tidak mungkin mencapai cita-cita kedaulatan pangan. Apalagi fokus terbesar hanya soal stabilitas harga. Artinya, kebijakan impor akan tetap menjadi strategi penting dari pemerintahan Jokowi yang akan datang," katanya melalui pesan tertulis yang diterima Times Indonesia, Minggu (17/02/2019).

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia ini menilai bahwa tak ada strategi penting dan mendasar yang bakal digunakan apabila nantinya dia terpilih kembali menjadi presiden.

"Tidak ada pergeseran strategi yang penting, kecuali mengulang praktik-praktik lama yang gagal. Apalagi kebijakan impor yang jor-joran tersebut ditunggangi oleh kartel pemburu rente," katanya.

Jokowi, lanjut dia, membiarkan pemburu rente untuk merusak kedaulatan pangan Indonesia. Sementara, untuk capres penantang, Prabowo Subianto, kata dia, tidak terlalu detail menjelaskan strategi kedaulatan pangan.

Meski demikian, niat dan komitmen Prabowo untuk menciptakan kedaulatan pangan menjadi kenyataan sangat tegas dan jelas. "Yang paling penting, keberpihakannya kepada kepentingan petani pangan, petani kebun, dan nelayan, sangat kuat. Keberpihakan tersebut merupakan kunci dan arah penting dari arah kebijakan," katanya.

"Kelihatannya Prabowo tidak ingin bekerja untuk petani di Thailand, Vietnam, maupun pedagang garam besar di Australia," tambah dia.

Selanjutnya, untuk persoalan Migas, kata Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Indonesia ini, pernyataan Prabowo yang bakal menurunkan tarif listrik untuk rakyat juga sangat luar biasa. Hal ini bakal berefek pada daya beli masyarakat.

"Kita surprise bahwa capres Prabowo menyatakan akan menurunkan tarif listrik yang selama ini sangat memukul daya beli golongan menengah ke bawah, pengguna listrik 450 kWh dan 900 kWh," katanya.

"Mereka termasuk kategori miskin dan nyaris miskin. Inilah salah satu penyebab merosotnya daya beli golongan menengah ke bawah sejak 2 tahun terakhir," tambah Rizal Ramli menyoroti debat Pilpres 2019 kedua. (*)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...