8 December 2019

September Meroket: Rakyat Miskin Makin Banyak, Apa Masih Percaya Jokowi?

KONFRONTASI - Jumlah orang miskin meningkat di masa awal pe­merintahan Presiden Jokowi. Warga pemilik akun Twitter dan Facebook sedih mengetahui jumlah orang miskin meningkat. Namun, mereka tak kaget melihat orang susah bertambah di masa awal pe­merintahan Presiden Jokowi.

Di Twitter, akun @yudhakwn me­nilai, jumlah orang miskin yang terus meningkat merupakan lampu kuning bagi pemerintah. Dia mengingatkan, pemerintah harus melakukan tinda­kan nyata untuk mengurangi jumlah orang miskin di Indonesia. "Walaupun persentasenya rendah. Tapi ini adalah masalah," kicaunya.

Akun @ardiansulistyo5 mencibir, pemerintah yang selalu mencari-cari alasan apabila mendapatkan laporan negatif tentang kinerjanya. Padahal, survei angka kemiskinan dari BPS sudah memberikan gambaran hasil kinerja pemerintah. "Prestasi yang hebat cuma selalu cari kambing hitam," sindirnya.

Akun @HelmiHelmimoze bilang, dengan bertambahnya jumlah orang miskin di Indonesia, membuktikan pemerintah gagal dalam mengelola perekonomian di Indonesia.

"Miskin bertambah bukti ber­bagai program yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 'Sontoloyo'," kicaunya.

Akun @titikastuty menagih janji Presiden Joko Widodo yang mengatakan ekonomi Indonesia akan menin­gkat tajam pada bulan September. Dia menyindir, saat ini bukannya ekonomi Indonesia yang meningkat, melainkan jumlah orang miskin yang terus meningkat tajam. "Presiden bilang September ekonomi akan meroket, orang miskin yang meroket jumlahnya kalee," kicaunya.

Akun @BBHesti berpendapat, salah satu penyebab terbesar orang miskin terus meningkat adalah peri­laku membeli barang-barang impor. Sehingga berdampak langsung den­gan industri dalam negeri.

"Pemicu utama kemiskinan di Indonesia yakni tidak mau mengon­sumsi barang atau jasa produk dalam negeri, sehingga tenaga kerja tidak terserap industri," kicaunya.

Akun @Bpasbar menduga, pe­mutusan hubungan kerja (PHK) memberikan pengaruh yang besar dalam meningkatkan jumlah orang miskin di Tanah Air. Serta, lanjut dia, sikap pemerintah yang tidak turun langsung melihat kehidupan masyarakat. "Menurutku sih gara-gara kurangnya lapangan kerja dan pemerintah nggak mau lihat ke­nyataan di bawah," kicaunya.

Akun @SonyWidodo1 sedih melihat banyaknya warga Indonesia yang termasuk kategori miskin. Kata dia, kemiskinan era SBY masih lebih rendah.

"Miris banget. Selama enam bulan bisa naik hingga 800 ribu orang? Nggak salah itu?" tanyanya.

Akun @lovelyliraa bilang, masalah kemiskinan harus mendapat­kan perhatian serius dari pemerintah. Menurutnya, keadaan Indonesia sudah semakin memprihatinkan. "Ini sudah gawat. Jangan diem aja," kicaunya.

Akun @pinastiimahanda membandingkan keadaan rakyat Indonesia yang semakin banyak tergo­long orang miskin dengan pengeluaran pemerintah dan legislatif. "Sementara untuk kunjungan kerja Pejabat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) miliaran rupiah," kicaunya.

Berbeda, akun @Uhe212 tidak menyalahkan siapa-siapa dalam hasil temuan BPS tersebut. Dia menyarankan pemerintah tetap fokus dalam menangani fenomena kemiskinan. "Tetap optimis atasi penduduk miskin dengan #Industridesa," usulnya.

Akun @anggabwardhana men­coba menenangkan. Dia mengin­gatkan, Presiden Jokowi dan kabinet kerjanya masih memiliki waktu empat tahun lagi bekerja untuk negeri ini. "Masih ada sisa empat tahun lagi kok. Hasilnya gimana ya?" kicaunya.

Akun @cikem05 berpantun, di era pemerintahan Jokowi masyarakat ibarat bersakit-sakit dahulu akan senang kemudian. "Satu tahun awal masa membangun. Percayalah tak lama lagi kita akan sejahtera. Di akhir masa pemerintah, Indonesia berdikari secara ekonomi," katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) men­catat, jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2015 sebanyak 28,59 juta orang atau 11,22 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Itu artinya, jumlah penduduk mis­kin di Indonesia bertambah diband­ingkan pada September 2014 ketika penduduk miskin berjumlah 27,73 juta jiwa atau 10,96 persen dari total jumlah penduduk. Kemudian, da­lam enam bulan, jumlah penduduk miskin telah bertambah sebanyak 860.000 orang.

Namun, bila persentase jumlah penduduk miskin pada Maret 2015 sebesar 11,22 persen dibandingkan pada Maret 2014, yakni ketika porsi penduduk miskin sebanyak 11,25 persen, maka terjadi penurunan persentase penduduk miskin terh­adap total jumlah penduduk, yakni sebanyak 0,03 persen.

Meski terjadi penurunan persentase secara tahunan (year on year), jum­lah penduduk miskin pada bulan Maret 2015 yang sebanyak 28,59 juta jiwa secara absolut lebih banyak dibandingkan pada Maret 2014 yang sebanyak 28,28 juta jiwa.

Kepala BPS Suryamin menga­takan beberapa faktor penyebab kemiskinan pada Maret 2015 naik dibanding pada September 2014. "Selama periode September 2014-Maret 2015, inflasi terjadi cu­kup tinggi, sebesar 4,03 persen," ujarnya, kemarin.

Tingkat inflasi pedesaan periode September 2014-Maret 2015 pun sebesar 4,4 persen. Secara nasional, rata-rata harga beras mengalami peningkatan 14,48 persen, yaitu dari Rp 11.433 per kilogram pada September 2014 menjadi Rp 13.089 per kilogram pada Maret 2015.

Secara riil, rata-rata upah buruh tani per hari pada Maret 2015 turun 1,34 persen dibanding upah buruh tani per September 2014. [***/rmol]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...