27 May 2018

SBY: Kebebasan Pers Jangan Disalahgunakan

KONFRONTASI - Kebebasan berdemokrasi di Indonesia sedang diuji, khususnya menyangkut penggunaan kekuasaan dan kebebasan pasca-reformasi 1998, kata Presiden SBY

Menurut SBY, saat bangsa ini berada pada era kebebasan (open society) yang dijalankan berdasarkan hukum, nilai, dan norma-norma reformasi, setiap elemen bangsa dituntut agar makin pandai dan arif menggunakan kekuasaan dan kebebesan yang diraih dengan susah payah itu.

Sebab, selain menikmati surplus kebebasan, rakyat Indonesia juga kini mendapat perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi dan nilai-nilai yang ada dalam sebuah open society.

“Siapa pun yang memegang kekuasaan (power prudence) apakah pemerintah, parlemen, pers, maupun penegak hukum agar hati-hati menggunakan kekuasaan itu. Jangan disalahgunakan,” kata Presiden SBY saat berpidato pada Peluncuran Kembali Antaranews.com dan Penganugerahan Antara CSR Awards ​2014, Tokoh Filantropi 2014, dan Tokoh Peduli Peningkatan Kecerdasan Anak Indonesia di Ballroom Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (20/7).

SBY mengatakan, kebebasan dan kekuasaan itu harus dijalani secara bertanggung jawab. Dikatakan, tidak ada seorang pun di negeri ini dapat menggunakan kedua aspek itu sesuka hatinya. Mengutip ucapan seorang pemikir Inggris terkemuka, Lord John Dalberg-Acton, yang berbunyi: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely,” Presiden mengakui kekuasaan cenderung disalahgunakan.

“Kekuasaan yang absolut bisa disalahgunakan secara absolut pula. Ini ujian bagi siapa pun yang memegang kekuasaan,” katanya.

Kebebasan Bertanggung Jawab
Selanjutnya, SBY mengutip ucapan seorang ahli sejarah asal Amerika Serikat, Gertrude Himmelfarb yang mengatakan: "Liberty too can corrupt. Absolute liberty can corrupt absolutely". Diartikan oleh Presiden, “Kebebasan bisa disalahgunakan. Kalau kebebasan itu begitu absolutnya, penyalahgunaannya juga bisa dahsyat,” katanya.

Dia juga mengutip ucapan seorang novelis, kritikus, dan politikus Irlandia, George Bernard Shaw yang menyatakan: “Liberty means responsibility. That is why most men dread it.” Dijelaskan SBY, “Kebebasan itu juga tanggung jawab”.

Presiden mencontohkan, saat bangsa Indonesia berada pada era otoriter, jika ada pihak yang mengatakan, pers harus bertanggung jawab, pasti dianggap berusaha mengontrol dunia pers.

“Sekarang kebebasan ada di mana-mana, jadi kalau ada yang mengatakan responsibility (tanggung jawab) itu penting, mari kita camkan karena itu akan mengoreksi diri kita semua,” kata Presiden.

Menurut dia, ungkapan George Bernard Shaw “Liberty means responsibility. That is why most men dread it” mengandung makna bahwa bangsa Indonesia selalu mawas diri dan introspeksi diri. “Banyak orang yang cemas, jangan-jangan keliru saya menggunakan liberty ini, bagus untuk berkaca diri,” ujar dia.

Presiden juga mengutip ucapan Presiden Amerika Serikat ke-26 Theodore Roosevelt yang menyatakan “Order without liberty and liberty without order are equally destructive.” Disebutkan, apabila bangsa Indonesia hanya mengutamakan tatanan yang baik, stabil tapi tidak ada kebebasan, maka tidak ada manfaatnya alias buruk. Keadaan itu sama buruknya dengan kebebasan di mana-mana, tapi tidak ada ketentraman hidup dan tidak ada stabilitas.

“Saya pernah mengatakan, mungkin lebih dari sekali, bahwa 'Too much security there will be no democracy, too much liberty there will be no stability.' Jadi jangan dianggap yang ekstrem-ekstrem ujung-ujungnya. Ada liberty (kebebasan, freedom), ada security. Mari kita pilih satu titik, yang dua-duanya tidak saling dikorbankan. Kita bisa sebenarnya membangun demokrasi seperti itu,” katanya.

Sebelum mengakhiri pidatonya, Presiden mengutip ucapan seorang novelis Inggris, Virginia Woolf yang mengatakan, “To enjoy freedom we have to control ourselves.” Dikatakan, setiap anak bangsa wajib merasakan indahnya kebebasan. Selain itu, anak bangsa juga harus bersyukur atas hadirnya kebebasan di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, tanpa mengabaikan mawas diri dan introspeksi diri baik bagi pribadi, kelompok atau komunitas.

“Itulah keindahan freedom, liberty, democracy yang tidak mengorbankan tujuan yang lain –stabilitas, ketenangan, dan keamanan yang menjadi prasyarat bagi pembangunan di negeri ini, Mari kita gunakan semua itu dengan bijak agar membawa manfaat. Karena tujuan akhir dari freedom, democracy, dan apa pun adalah untuk kebaikan bersama bagi rakyat Indonesia (common good of the people),” kata Presiden.[bs/ian]

Category: 
Loading...