24 January 2018

Rizal Ramli: Sebentar lagi Panen, Kok Mau impor Beras? Mau Cari Untung dan Merusak Pak Jokowi?

KONFRONTASI- Tokoh nasional Rizal Ramli (RR) kembali mengingatkan para elite dan pejabat bahwa '' sebentar lagi Musim Panen, Kok malah mau impor beras''!' Kata Rizal Ramli: ''Mau Cari Untung dan mau merusak Pak  Jokowi? Sebentar lagi panen, Kok mau impor Beras? Mau cari Untung dan mau merusak elektabilitas dan kredibilitas  Pak Jokowi?''

''Yang bener aja, sebentar lagi mau panen,'' imbuhnya. RR khawatir naiknya harga beras bakal memberatkan rakyat, namun impor beras saat mau panen jelas membuat kaum tani jatuh dan nama baik serta  image Presiden Jokowi dirusak oleh langkah impor beras yang motivnya memburu rente/komisi oleh para pejabat dan importir itu.

 TV One melaporkan, harga beras naik terus dan rakyat kecil makin susah. Para warga kecil mengeluh naiknya harga beras yang mencapai Rp10.000/kg, sementara rakyat ingin harga  Rp8000 per kg  'Warga ingin agar harga beras terjangkau,'' ungkap para warga.

Masalahnya, kata RR, adalah data mana yang benar. Departemen Perdagangan maunya impor karena ada komisi (rente) 20-30 Dolar AS/ton, namun Departemen Pertanian bilang beras selalu cukup. Lalu Bulog? Bulog biasanya sudah ngerti bahwa setiap tahun harus ada stok cukup di gudang.

Tahun lalu Bulog hanya beli sekitar 50 persen beras dari petani, bukan seratus persen. Maka tahun ini  stok beras jadi kurang.

Harga beras merangkak per awal tahun 2018 ini.  Untuk itu,  Rizal Ramli memberikan pandangan dan saran kepada pemerintah agar hal tersebut kembali normal.

Untuk diketahui, sejak awal tahun ini harga beras naik. Kenaikan harga beras terjadi seperti di Pasar Induk Cipinang terjadi kenaikan Rp800 untuk kategori beras medium dan Rp500 untuk kategori beras premium. Pemerintah pun mulai mengambil langkah dengan melakukan berbagai operasi pasar.

Rizal menuturkan seharusnya dalam kondisi demikian pemerintah bisa mengantisipasi sebelum kenaikan harga terjadi. Salah satunya dengan cara ‘monitoring’ di seluruh pasar pusat jual beli beras.

“Jaga ‘food price’ itu sederhana. Kita anggap beras seperti valuta. Stok kita cuma 2-3 juta ton beras, bagaimana bisa menstabilkan pasar beras yang kebutuhannya 25 juta ton. Kita buat pusat informasi dari pasar-pasar beras di seluruh Indonesia,” tuturnya dalam dialog di TV One kemarin malam.

Hasil gambar untuk jokowi rizal ramli

Rizal pun menjelaskan hal itu pernah dilakukannya pada saat dia menjadi Menko Perekonomian saat era kepemimpinan Presiden Gus Dur. Bahkan dia mengatakan saat itu harga beras terus stabil.

“Setiap hari kita dapat informasi, dari pasar ini naik Rp10-50 perak. Lalu ada yang naik Rp100 perak langsung kita telepon (pengelola pasar) kenapa nih? Katanya ada pedagang yang nahan, saya bilang banjirin stok, saya ingin lihat siapa yang kuat. Akibatnya harga beras zaman Gus Dur tidak berubah,” tandas Rizal.

Ekonom senior ini sangat prihatin soal laju pertumbuhan ekonomi yang terus anjlok dalam perkembangannya.

Salah satu yang menjadi sorotannya adalah masalah impor beras yang terus dilakukan pemerintah.

"Monggo dilihat kembali ketika saya mendapatkan amanat menjabat menko dalam pemerintahan Gus Dur (2000-2001). Harga beras stabil," terang Rizal Ramli .
 
Selain stabilnya harga beras, kata Rizal lagi, negara juga tidak melakukan impor beras.

"Swasta yang melakukan impor kena tarif. Tidak ada kuota. Sistem ini berlanjut hingga 2002-2004 (dengan perubahan negara via bulog kembali impor beras)," terang dia.

Bahkan, setelah 2004, harga beras terus naik. Selisih harga beras dengan Bangkok juga semakin meningkat.

"Sayangnya yang menikmati bukan petani, melainkan broker swasta dan semi negara," tandasnya.

Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya rata-rata mengkonsumsi beras sebagai bahan makanan pokok. Namun harga beras sejak awal tahun 2018 ini naik melambung tinggi. Menko Perekonomian era Gus Dur, Rizal Ramli mengungkapkan, “Jika pengelolaan beras sama seperti mengelola Valuta asing seperti dulu yang pernah Ia praktikan pada era Gus Dur maka kenaikan ini bisa dikendalikan dan diatasi”.

“Rizal mengungkapkan bahwa Ia pernah menerapkan praktik untuk menekan harga beras agar tidak naik melambung tinggi, saat masih menjabat sebagai KaBulog. Menurut Rizal  menjaga food price itu sederhana. Karena kami anggap beras itu seperti Valuta asing. Stok kita Cuma 2 juta tapi bagaimana agar harga beras kita stabil pasar besar sebanyak 25 juta ton”.

Menurut dia, saat itu dirinya membuat pusat informasi dari pasar-pasar beras di Indonesia. Sehingga ketika ada kenaikan atau penurunan harga beras akan mudah terdeteksi.

Pada saat Rizal menerapkan praktik tersebut, setiap saat ia mendapat informasi dari pasar besaran jumlah angka harga yang naik. jumlah angka yang naik berkisar  hingga Rp 10 perak. Lalu ada yang naik sampai Rp 100 perak. Dari situ kita langsung menghubungi (pengelola pasar) kenapa nih? Katanya ada pedagang yang nahan, saya bilang banjirin stok, saya mau lihat siapa yang kuat. Akhirnya harga stabil,” kata dia.

Dengan melonjaknya harga beras di awal tahun 2018 ini sebaiknya kita mengambil kebijakan seperti itu kata dia. semestinya saat ini kita meniru kebijakan perberasan di era Gus Dur. Makanya di era Gus Dur harga beras tetap stabil seperti biasanya. Dalam hal ini kita bisa mengendalikan harga beras tanpa perlu repot-repot melakukan impor beras.

Kenaikan harga beras yang melonjak saat ini diketahui terjadi di Pasar Induk Cipinang. dengan rata-rata berkisar hingga 800 untuk kategori beras medium. Kenaikan harga beras yang tinggi ini menjadi keluhan masyarakat indonesia diawal tahun 2018. karena rata-rata hampir terjadi dipenjuru daerah Indonesia

(KF)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...