24 January 2018

Rizal Ramli Punya Kiat dan Gagasan Genjot Pertumbuhan Ekonomi Diatas 6 Persen Era Jokowi

KONFRONTASI- Presiden Joko Widodo hanya mematok pertumbuhan ekonomi di 2018 sebesar 5,4 persen. Padahal Jokowi sendiri saat kampanye menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen sementara pemerintah Jokowi tinggal dua tahun lagi. Angka tersebut dianggap banyak pihak tak akan tercapai jika taka da terobosan kebijakan penting bagi pemerintah.

Tapi bagi Menteri Perekonomian era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli jika pemerintah serius dan mau mengubah kebijakan ekonominya maka dalam dua tahun bisa digenjot perekonomian nasional mencapai 6,5 persen.

Bahkan kebijakan pemerintah terutama Menteri Keuangan Sri Mulyani sangat kontra produktif di saat perekonomian itu tengah melambat, yaitu dengan melakukan kebijakan yang ketat. Dengan begitu tentu saja ekonomi nasional menjadi kian berat.

“Padahal di negara lain di Eropa, China dan lainnya kala ekonomi melambat justru perlu dipompa dan dilonggrakan. Misalnya, ekonomi lagi susah jangan kejar pajak dulu. Nanti kalau ekonomi bergeliat juga pajak itu bisa naik dengan sendirinya,” kata Rizal di Jakarta, ditulis Senin (28/8/17).

Maka dari itu, dirinya pun menegaskan, kalau untuk mengubah perekonomian dari 5 persen ke 6,5 persen dalam waktu kurang dari 2 tahun sangat mungkin dilakukan. “Tetapi tidak boleh menggunakan pakem ekonomi neoliberal. Tidak boleh menggunakan obat dari Bank Dunia,” tegas dia, sebagaimana dikutip dari laman Aktual.

Caranya, kata dia, harus dipompa perekonomian ini, tapi bukan dipompa dengan anggaran. Melainkan dipompa dengan skema Build Operate Transfer (BOT) dan Build Own Operate (BOO), dipompa dengan revaluasi asset, juga dipompa dengan sekuritisasi asset, sehingga ada mesin pertumbuhan yang lain di luar APBN, terutama di luar Jawa.

“Kemudian juga pompa daya beli. Selama ini semua pangan di Indonesia itu impor, hal itu yang membuat mahal sekali. Harga gula saja 2 x harga internasional. Harga daging juga 2 x harga dunia, makanya semuanya jadi mahal,” tegas dia.

Kondisi mahal juga, menurut dia, karena sistem impor itu dikelola dengan sistem kuota dan pemegang cuma 6-7 orang kartel atau taipan yang sudah puluhan tahun menikmati untung ini. Mestinya, kata dia, sistemnya diubah menjadi skema tarif. “Jadi siapa pun boleh impor tapi harus menggunakan tariff untuk melindungi industri di Indonesia. Jangan dibiasakan ngeles, daya beli tidak turun, ini tidak turun. Yang kita kepengen ada tindakan nyata karena ini kecenderungannya melambat,” ujar Rizal.

Hal berikutnya yang menjadi kiat dia adalah laju kredit harus digenjot. Laju kredit, kata dia, jangan hanya bertumbuh 10 persen. Mesti dipompa, jika mau 6,5 persen, maka lajukreditnya bisa mencapai 15-17 persen. Tapi tetap harus prudent.

“Juga harus ada kebijakan terobosan lain tak hanya andalkan paket kebijakan ekonomi yang tak efektif ini. Karema selama ini tak berdampak. Ini kebijakan ece-ece. Harus ada kebijakan terobosan seeprti yang saya lakukan terhadap Garuda Indonesia dan dunia penerbangan Indonesia,” pungkasnya.

(Fya)

Berbagi :

Tags: 
Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...
Selasa, 23 Jan 2018 - 23:33
Selasa, 23 Jan 2018 - 23:29
Selasa, 23 Jan 2018 - 23:25
Selasa, 23 Jan 2018 - 22:39
Selasa, 23 Jan 2018 - 22:34
Selasa, 23 Jan 2018 - 22:29
Selasa, 23 Jan 2018 - 22:26
Selasa, 23 Jan 2018 - 22:24