20 November 2018

Rizal Ramli: Pak Jokowi Harus Tarik Garis Pemisah dengan Menkeu Neoliberal

KONFRONTASI- “Pilihan sulit bagi Pak Jokowi. Jika terus mendengarkan Menkeu Neoliberal Sri Mulyani, elektibilitas Jokowi akan terus merosot. Kalangan bisnis sudah sebel karena aturan pajak terus berubah”.  Maka Presiden Jokowi tidak ada pilihan, harus menarik garis pemisah dari Menkeu Neoliberal Sri Mulyani, yang bekerja terutama untuk kepentingan kreditors” . Demikian pandangan Mantan Menko Ekuin dan Menko Kemaritiman Rizal Ramli (RR) yang kini Capres Rakyat.

‘’Selamat Pak Jokowi, akhirnya berani beda dengan Menkeu Neoliberal Sri Mulyani terkait aturan pajak yang berubah-rubah,’’ kata RR, sang Capres Rakyat.

Terkait impor pangan,  RR sudah mengingatkan di twiternya agar pemerintah jangan impor beras, garam dan sembako lainnya lagi  sebab  itu bukti kemandirian terus sekedar dijadikan slogan dan lipstik pencitraan

Saat Dr. Rizal Ramli bersama Prof Sir James Mirrless (peraih nobel ekonomi/kiri, rambut putih) ketika masih menjadi anggota panel ahli ekonomi PBB di New York beberapa tahun lalu

Jokowi  perlu menyadari bahwa para sarjana menganggur, kemiskinan meluas dan korupsi merata, sementara pertumbuhan ekonomi merosot tajam, bahkan stagnan. Tantangan yang dihadapi Indonesia terletak pada persoalan mengatasi kesulitan ekonomi ini. Sosok presiden yang dibutuhan adalah yang memahami ekonomi dan di saat bersamaan memiliki keberpihakan pada kepentingan rakyat.

"Kalau mau pertumbuhan ekonomi 10 persen, pilih Rizal Ramli jadi presiden," kata budayawan Jaya Suprana saat menyampaikan orasi di acara peluncuran buku "Nalar Politik Rente" karya Dahnil Anzar Simanjuntak di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Rabu (28/2).

Acara peluncuran buku tersebut dihadiri sejumlah tokoh antara lain Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, politisi Gerindra yang juga keponakan Prabowo Subianto, Aryo Djojohadikusomo dan Rizal Ramli.

Jaya Suprana mengatakan dirinya pernah mewawancarai Rizal yang dikenal sebagai ekonom senior di Jaya Suprana Show awal Januari lalu. Dalam wawancara itu Rizal  membicarakan kondisi perekonomian saat ini, berbagai tantangan yang dihadapi dan cara mengatasi.

"Kalau jadi presiden Pak Rizal mengatakan bisa memompa pertumbuhan ekonomi sebesar 10 persen dalam lima tahun berturut-turut," kata pendiri Pusat Studi Kelirumologi dan Museum Rekor Indonesia (MURI) itu.

Mendengar pernyataan Jaya Suprana, Rizal Ramli yang duduk di barisan depan mengacungkan jempol, tanda membenarkan. Sementara pengunjung yang memadati Aula KH Ahmad Dahlan di Gedung PP Muhammadiyah itu menyambut dengan tepuk tangan meriah.

Banyak kalangan, termasuk lembaga survei, yang mendorong agar kontetasi politik di tahun 2019 diikuti oleh figur yang memiliki pemahaman mumpuni di bidang ekonomi.

Sejauh ini, tim ekonomi pemerintahan Jokowi gagalmemenuhi target pertumbuhan yang dicanangkan sebesar 7 persen. Pada kenyataannya, pertumbuhan ekonomi mentok di kisaran 5 persen.

Soal kemampuan Rizal Ramli tak perlu diragukan. Dalam pemerintahan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Rizal dipercaya menduduki kursi Menko Ekuin. Pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan dari minus 3 persen tumbuh menjadi hampir 6,5 persen.

Utang negara dan indeks kesenjangan ekonomi pun berkurang. Pemerintah juga mampu tidak melakukan impor beras dengan tetap menjaga stabilitas pasokan dan harga.

Prestasi lain Rizal yang pernah menjadi penasihat ekonomi PBB adalah bisa menaikkan gaji PNS dua kali lipat.

"Negara yang mandiri dalam kebijakan ekonomi punya kesempatan untuk maju lebih hebat. Jepang dan China ekonominya dapat tumbuh di atas 10 hingga 12 persen. Kita bisa juga, kok," kata Rizal dalam satu kesempatan. [dem]

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...