29 March 2020

Rizal Ramli Khawatir isu Radikalisme Digoreng Terus untuk Melupakan Persoalan Ekonomi dan Sosial

KONFRONTASI- Di tangan Menkeu Sri Mulyani, beberapa waktu belakangan ini, Selasa merupakan “hari utang”, yakni hari ketika pemerintah terbitkan surat utang, atau surat pinjaman. Sepanjang 4 Selasa pertama Oktober ini, pemerintah telah menjala Rp65,1 trilyun  utang baru. Rencananya (29/10/19) akan terbitkan surat utang lagi dengan target perolehan Rp7Trilyun.

Secara terpisah, sehabis bertemu Prabowo Subianto dan Natalius Pigai, sosok  dari Papua, tokoh nasional Rizal Ramli khawatir dan gelisah bahwa  ekonomi makin merosot dan setahun ke depan agaknya akan digoreng terus isu 3R (Radikalisasi, Radikulisasi dan Radikolisasi). Supaya diskursus soal-soal ekonomi, kemiskinan dan persoalan sosial lain,  seperti Papua, ketimpangan dll,  menjadi tidak lagi penting.

Sebagaimana kita ketahui, Tokoh nasional, DR Rizal Ramli memuji visi Jokowi lima tahun lalu yang ingin agar produksi pangan meningkat dan Indonesia berdaulat di bidang pangan. Tapi yang terjadi, selama memerintah Jokowi justru banyak melakukan impor pangan yang justru mematikan petani.

“Kepingin batasin impor, tapi malah impornya Indonesia ugal-ugalan. Itu karena menterinya yang dipilih raja impor,” ujarnya dalam talkshow bertajuk “Kupas Tuntas Wajah Baru Pembantu Jokowi” yang disiarkan salah satu TV swasta nasional, Kamis (24/10) lalu.

Tidak hanya soal impor. Jokowi dulu juga ingin ekonomi berpihak para rakyat dengan mengusung nawacita trisakti. Tapi yang terjadi lagi-lagi salah arah.

“Kebijakan malah neoliberal. Karena memilih menteri seperti SPG (Sales Promotion Girl) dari Bank Dunia,” tegasnya.

Sedangkan Menkeu Sri Mulyani bertekad menambah utang terus karena sudah buntu mencari solusi krisis ekonomi yang dia hadapi. Bank Dunia menyatakan pertumbuhan ekonomi RI bakal merosot dan suram sedang utang membengkak. ( ff)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...