21 August 2019

Rizal Ramli: Daya Kritis Pers harus lebih tajam agar Pemerintah Berbenah

KONFRONTASI- Tokoh nasional Rizal Ramli menyerukan agar media/pers harus konsisten dan komitmen untuk menjaga demokrasi di negeri ini. Daya kritis  media/pers terhadap pemerintah harus lebih tajam agar pemerintah mampu berbenah, Salah satunya, dengan tetap independen dan tidak berpihak pada kubu calon presiden dan calon anggota legislatif manapun di tahun politik.


Begitu pesan ekonom senior DR Rizal Ramli saat menghadiri Kongres ke-VI Poros Wartawan Jakarta yang digelar di Cilember, Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (8/12) hingga Minggu (9/12). Dalam kesempatan ini, Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu mengisi diskusi bertajuk "Membangun Asa Negeri dari Perspektif Jurnalis”.

"Produk jurnalistik bukanlah propaganda politik. Jadi, kalau kawan-kawan jurnalis masih merasa sebagai jurnalis, sebaiknya tidak terjebak pada dukung mendukung capres atau caleg,” harapnya.

Rizal Ramli menjelaskan bahwa produk jurnalistik bersifat memberi informasi secara obyektif. Informasi itu juga harus memberi efek mencerdaskan masyarakat.

Rizal Ramli: Produk Jurnalistik Bukan Propaganda Politik

“Selain itu, daya kritis pers/media harus lebih tajam agar pemerintah mampu berbenah," terangnya.

Objektivitas yang diangkat media harus didasarkan pada data dan fakta yang kuat. Sehingga produk yang dihasilkan bukan hoax.

“Sebaiknya harus ada kroscek lagi, jangan sampai justru 'dimanfaatkan' narasumber tersebut. Misalnya soal klaim pemerintah soal terlampauinya target penerimaan negara, apa benar demikian?" tutur Rizal Ramli.

Dalam kongres ini, Tri Wibowo Santoso kembali terpilih sebagai ketua umum untuk masa bakti 2018 hingga 2020.

Saat memberi sambutan, pria yang akrab disapa Bowo itu menilai tahun politik tidak hanya menjadi ujian bagi wartawan untuk menjaga independensi saja. Tapi, yang harus diperhatikan adalah keselamatan bagi wartawan terhadap kemungkinan-kemungkinan intimidasi dari pihak tertentu yang tidak suka dengan pemberitaan yang ditulis wartawan tersebut.

"Jangan sampai dampak dari pemberitaan wartawan membuat pihak tertentu menjadi geram, dan yang dijadikan sasaran adalah wartawan yang menulis berita. Ini yang sering menjadi masalah, perlindungan terhadap wartawan masih kurang," tandas Bowo. [ian]

 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:39
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:33
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:29
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:26
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:22
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:14
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:06
Selasa, 20 Aug 2019 - 21:00
Selasa, 20 Aug 2019 - 20:51
Selasa, 20 Aug 2019 - 20:16
Selasa, 20 Aug 2019 - 20:08
Selasa, 20 Aug 2019 - 20:05