17 October 2019

Rezim Neo-Otoriter Jokowi Berhadapan dengan Kekecewaan Ummat Islam? Awas, Bisa Benturan

KONFRONTASI- Rezim Neo-otoriter Jokowi seperti Rezim otoriter  Orde Baru Soeharto yaitu  sangat represif terhadap kelompok Muslim dan Islam politik. Sampai kapan?  Dalam pemilu 1971, awal Orba Soeharto, salah satu anak lelaki SM Kartosuwiryo yang  tidak berpendidikan dan mungkin buta huruf, ditangkap dengan tuduhan makar, subersif dan mau mendirikan Negara Islam. Perintah penangkapan dari kelompok Letjen Purn Ali Moertopo. Dia tak tahu menahu sama sekali dengan semua tuduhan dan fitnah itu. Penahanannya disemburkan rezim Orba ke media massa dan kalayak publik, dengan pembingkaian (framing)  horor ‘’Ekstrim Kanan’’, ‘’Negara Islam/Darul Islam’’ dan framing  itu berhasil memojokkan ummat Islam. Rezim otoriter Orba melenggang dengan mengorbankan kalangan Islam untuk naik tahta dan mempertahankan kekuasaan. Hal itu berulang terus  di zaman Panglima ABRI Benny Moerdani yang berguru ke Ali Moertopo dan menurunkan ilmu sangarnya ke generasi perwira militer rezim Otoriter Orba yang lain, sampai pemilu 1977/78, dimana lagi-lagi anak –anak  SM Kartosuwiryo (Pendiri Daru Islam/Negara Islam Indonesia atau DI/NII) ditangkap dan ditahan lagi dengan tuduhan makar, mau mendirikan Negara Islam. Di penjara Sukamiskin, para mahasiwa/demonstran  ITB/Unpad dll dari Gerakan Mahasiswa 1977/78 bertemu mereka. Anak-Anak Kartosuwiryo itu terheran-heran melihat wajahnya ditayang televisi Orba dan media massa sebagai sosok pelaku makar/penggerak NII/DI, padahal mereka sama sekali tidak tahu-menahu dan hanya tinggal di rumah saja. Apalagi mereka miskin dan berpendidikan sangat rendah, bahkan buta hruuf barangkali.

Drama itu berlanjut sampai munculnya rekayasa Rezim Otoriter Orba mencuatkan Komando Jihad di Bandung, Surakarta dan seterusnya sampai Teror Warman/Pembajakan Woyla dan Peristiwa Priok 1984 dan seterusnya.

Intinya para elite militer rezim otoriter Orba Soeharto menggunakan isu NII/DI dan ekstrim Kanan untuk menghancurkan, menstigma dan mendiskreditkan ummat Islam, Sampai era rezim neo-otoriter Joko Widodo (Jokowi) hari ini, perilaku represif/koersif rezimis  yang sama atas ummat Islam masih diteruskan dengan menyemburkan isu Khilafah, Syariahisme, NII dan sejenisnya kepada civil society.  Para analis menilai, untuk menutupi kegagalan ekonomi dan kejahatan kecurangan pemilu pilpres 2019, maka rezim Jokowi menyemburkan isu Khilafah, Islam radikal, Islam militan dan sejenisnya.  Akibatnya ummat Islam yang moderat dan santun pun merasa  tersinggung, marah dan geram. Kubu Habib Rzieq yang semula tak disukai banyak orang Muslim, kini malah mendapat simpati dan dukungan ummat Islam karena ‘’tuduhan/stigma/tudingan’’ Khilafah,. Islam radikal dan sejenisnya dari elite penguasa. Di mata ummat Islam, pimpinan rezim dan para purnawirawan militer  yang Islamophobia, telah  menuduh, menstigma dan melukai kaum Muslim yang moderat, yang lunak.  Maka mereka ini menjadi begah, geram dan gerah.

Habib Rizieq  merasa difitnah kelompok komunis dan ustad-ustadnya merasa di persekusi oleh kelompok komunis, isu itu mencuat dan meluas di masyarakat melalui internet dan media sosial. Apalagi ada penutupan paksa akun-akun sosmed Islami, pembubaran paksa HTI, pembubaran pengajian Islami, sampai vonis pengadilan sesat pada Buni Yani mewarnai perjalanan umat Islam Indonesia di tahun 2017 Masehi.

Peristiwa diatas erat kaitannya dengan kelakuan rezim jokowi dan para pendukung setianya yang berawal dari kekalahan telak ahok di Pilkada DKI. Tapi itu baru permulaan saja, tahun 2018 dan 2019 mereka lebih giat lagi. ‘’Situasi  bagai bara dalam sekam,’’ kata analis Islam politik Muhamad Nabil dari CSRD UIN Jakarta.

Akhir Desember 2017 tokoh-tokoh umat Islam melakukan pertemuan dengan Habib Rizieq di Makkah. Diantara mereka adalah Ustad Abdul Shomad, Gus Nur, dan Ismail Yusanto. Pertemuan para tokoh yang tidak disukai rezim jokowi dan para pendukung setianya itu tidak bisa kita abaikan.

Pertemuan tersebut mesti dianalisis secara politik. Para tokoh tersebut sama-sama pernah dilukai rezim jokowi dan pendukung setianya. Para tokoh itu juga memiliki kekuatan politik, basis masa, dan omongan mereka didengar banyak orang.

Setidaknya para tokoh itu tahu kalau tahun  2018 perlakuan keji yang menimpa mereka dan umat Islam akan semakin massive dan gencar. Jadi mereka akan tetap solid untuk saling melindungi, mendukung, dan mengayomi. Mereka akan tetap bersama membimbing umat dan melindungi umat dari tirani.

Sebagaimana yang kita tahu kalau 2018 dan 2019 adalah tahun politik. Rezim jokowi dan para pendukung loyalisnya sangat benci dengan pergerakan umat Islam karena tidak mendukung kepentingan mereka. Bahkan umat Islam membongkar konspirasi-konspirasi politik mereka dan menghadang gerakannya.

Melalui medsos, ceramah, dan aksi-aksi damai umat Islam terus melakukan pergerakan. Walaupun sering dihadang, dipersekusi, dihapus akun sosmednya ternyata kekuatan mereka semakin solid, persatuan mereka semakin terasa, dan semangat mereka semakin membara.

Tentu hal ini sangat dibenci oleh rezim jokowi dan pendukung setianya. Cara-cara lain untuk menghadang gerakan ini pasti akan dipersiapkan. Berita teranyar adalah tentang mesin baru Kominfo senilai 194 miliar bernama AIS. Mesin tersebut telah selesai uji cobanya dan akan aktif pada  3 Januari 2018.

Mesin ini mirip dengan mesin milik CIA yang disebut oleh Edward Snowden. Mesin ini bisa memata-matai siapa saja di Internet. Kita hanya tinggal memasukan kata yang kita inginkan lalu akan muncul jutaan konten terkait kata tersebut. Hampir sama dengan google bedanya adalah mesin ini lebih radikal.

Tujuan mesin ini adalah untuk menyaring konten-konten negatif yang kata kominfo diantaranya adalah pornografi, judi, kekerasan, radikalisme, dan SARA. Dari dua kata yang terakhir itu kita bisa tahu siapa yang sebenarnya yang ingin mereka incar. Pornografi dsb. lebih kepada bumbu manis saja.

Bukan hanya itu, sepanjang 2017-2019 ini kita tahu konten-konten seperti apa dan akun-akun siapa saja yang telah mereka bunuh dan blokir. Akun-akun umat Islam yang telah mereka bunuh, postingan-postingan umat Islam yang telah mereka bunuh, situs-situs Islam yang mereka blokir, dan itu terus terjadi sampai hari ini.

Lihat saja para pentolan MCA sering mengupdate status tentang postingan mereka yang dihapus paksa. Bahkan postingan seorang Profesor dan Guru Besar Undip bernama Suteki terkait LGBT dihapus. Bukannya LGBT itu yang harusnya dihapus karena porno dan negatif? Kok yang kampanye nolak LGBT yang kontennya dihapus? lalu juga akun dakwah yang bisa mencegah maraknya judi, kekerasan, dan pornografi kok dihapus?

Sekali lagi, para analis menilai, untuk menutupi kegagalan ekonomi dan kejahatan kecurangan pemilu pilpres 2019, maka rezim Jokowi  terus menyemburkan isu Khilafah, Islam radikal, Islam militan dan sejenisnya.  Akibatnya ummat Islam yang moderat dan santun pun merasa  tersinggung, marah dan geram.

Video ceramah ulama ternama juga suka hilang tiba-tiba, akun-akun youtube Islami banyak yang dibunuh. Apa yang negatif dari mereka? Apa karena mereka mendakwahkan Islam yang hakiki sampai mereka diperlakukan tidak adil seperti itu? apa rezim jokowi ini tak suka dakwah Islam? Apa dakwah Islam ini sesat? Semua itu menjadi sumber ketegangan dan konflik antara rezim Jokowi vs kelompok Islam,  atau benturan Muslim vs komunis, dan yang jelas semua itu  tidak kondusif  dan tidak baik bagi demokrasi,HAM dan pembangunan kita. Harus dicari solusi terbaik  oleh negara, rezim Jokowi  maupun masyarakat Islam agar tidak terjadi benturan dan kekerasan, tidak terjadi anarki dan amuk, serta  stabilitas tetap bisa dijaga. . (catatan Frank DF/berbagai sumber)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...