29 February 2020

Rakyat Tidak Mentolerir Kejahatan Pemilu Curang. Jokowi Kalah dan Prabowo Presiden Rakyat?

KONFRONTASI- Para analis menilai Prabowo-Sandi menang, dan Jokowi-Maruf pasti kalah karena mayoritas rakyat telah memilh paslon 02. Dan rakyat tidak mentolerir kejahatan pemilu curang di TPS/KPPS sampai KPU yang akan memaksakan menang paslon 01 (Jokowi) 22 Mei. KPU sudah delegitimasi dan tidak dipercaya karena paksakan menang Jokowi. ''Itu pandangan para aktivis dan analis yang melihat jurdil hilang dalam pemilu kali ini,'' kata Bennie Akbar Fatah, aktivis senior Gerakan 1998 dan mantan pimpinan KPU era Presiden Habibie.

Sejauh ini, puluhan juta rakyat  sudah mendukung, mendoakan dan  sembahyang di Jakarta, kota-kota lain dan di seantero Tanah air di Indonesia. Rakyat sudah merayakan kemenangan Prabowo-Sandi (02), dan mengingatkan KPU yang sudah mengalami krisis kepercayaan dan delegitimasi itu, agar pemilu jurdil.

Tokoh nasional Rizal Ramli desak audit menyeluruh terhadap IT KPU dan menegaskan bahwa pemilu paling buruk ini harus disadari oleh semua pihak. ''Kita ingatkan bahwa Prabowo sudah menang, dan kemenangan itu jangan sampai dikotori/dirusak dengan kecurangan oleh KPU dan seluruh pihak terkait  hanya  untuk memaksakan Jokowi yang unggul, padahal mayoritas rakyat pilih Prabowo,'' kata RR .

Pasar, publik dan dunia internasional tahu bahwa Prabowo menang, tapi dicurangi brutal, namun toh tetap menang sehingga tak boleh dirusak/dicurangi oleh KPU dan pihak-pihak terkait hanya untuk memaksakan Jokowi unggul, ‘’Dan itu kejahatan sontoloyo,'' kata relawan 02 antara lain peneliti  F Reinhard, dan jurnalis Arief Sofyanto serta analis Muda Saleh.

Mereka mendesak dan mengingatkan pentingnya  langkah  KPK melakukan audit dan langkah jitu terhadap KPU dan instansi terkait, apalagi KOORDINATOR Relawan Informasi Teknologi (IT) BPN 02, Mustofa Nahrawardaya sudah membawa lebih dari 73 ribu lembar temuan kesalahan dari input sistem hitung atau Situng milik Komisi Pemilihan Umum (KPU).  Sementara Relawan BPN 02,  KAUKUS KEBANGSAAN dan BAWASLU  MENYIMPULKAN PELANGGARAN BAHWA :

1. KPPS mengerahkan pemilih utk memilih paslon tertentu di 4.589 TPS.

2. KPPS mencoblos sisa surat suara yg tdk terpakai di 860 TPS, terjadi kecurangan di ribuan TPS di daerah2.

3. KPPS menutup TPS sebelum jam 13:00 di 3.066 TPS.

4. Ditemukan dan telah beredarnya banyak Audio, Foto dan Video Kecurangan Pemilu 2019.

5. Ada 73.715 kesalahan input data Situng atau sebesar 15,4% dari total 477.021 TPS yang ditemukan oleh relawan BPN.

6. Meninggalnya 474 petugas KPPS, setelah melaksanakan tugas. Tidak dapat dikatakan sebagai hal yang kebetulan. Justeru menggelitik kecerdasan emosional kami untuk mencari tahu fenomena yang anomali itu. Dan para dokter FKUI maupun USU Mdan mensinyalir, bukan tidak mungkin adanya upaya sistemetis dan massive menghilangkan nyawa petugas KPPS tersebut demi menghilangkan jejak kecurangan.

7. Banyak Kotak Suara yang dibakar / Dibobol. Baik di dalam negeri maupun Di luar negeri.

8. Keterlibatan ASN, institusi-institusi negara (jajaran personil TNI/POLRI/ASN/ Intelijen), camat, kepala desa/lurah, BUMN-BUMN dan kartel/taipan-taipan.

Bukti tersebut bertebaran diruang publik dan masyarakat dan dibawa ke Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu untuk ditindaklanjuti sebagai dugaan pelanggaran Pemilu 2019. Menurut temuan Mustafa, kesalahan terbesar ditemukan di Jawa Tengah sebanyak 7.666 TPS, Jawa Timur 5.826 TPS, Sumatera Utara 4.327 TPS, Sumatera Selatan 3.296 TPS, dan Sulawesi Selatan 3.219 TPS. Mustofa mengungkapkan kesalahan tersebut sangat brutal.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...