19 June 2019

Pimpinan Honorer K2 Pendukung Prabowo Serukan Salat Tahajud

KONFRONTASI -   Seluruh rakyat Indonesia yang punya hak memilih, termasuk honorer K2 akan melakukan pencoblosan Pemilu 2019, Rabu (17/4). Khusus pilpres, honorer K2 terbelah, ada yang dukung Jokowi – Ma’ruf, ada yang ke Prabowo – Sandi.

PILPRES 2019 membuat honorer K2 terpecah dalam dua kubu. Sejatinya perpecahan sudah terjadi jauh sebelum Pilpres. Tepatnya saat pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla memberikan kesempatan kepada honorer K2 usia 35 tahun ke bawah untuk mengikuti tes CPNS pada 2018.

Sebanyak 13 ribuan formasi dari total honorer K2 438.590 yang disiapkan, terisi hanya 6 ribuan karena banyak tidak memenuhi syarat.

Perpecahan makin kentara saat Jokowi mengeluarkan PP.49/2018 tentang Manajemen PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja). Pro kontra di kalangan honorer K2 membuat mereka terkotak-kotak secara politik.

BACA JUGA: Bima Arya Dukung Jokowi – Ma’ruf, Pelanggarannya Tak Hanya Satu

Yang nyata-nyata menolak PPPK kemudian melakukan perlawanan dengan mendukung capres-cawapres 02 Prabowo-Sandiaga. Sedangkan yang menerima PPPK tapi tetap berjuang untuk mendapatkan status PNS condong ke capres-cawapres 01 Jokowi-Ma'ruf.

Lantas apa kiat masing-masing kubu untuk memenangkan jagoannya. Koordinator Wilayah Perkumpulan Hononer K2 Indonesia (PHK2I) Jawa Timur Eko Mardiono mengatakan, di masa tenang ini konsolidasi terus dilakukan. Terutama Tim 9 PHK2I terus bergerak untuk memenangkan Jokowi-Ma'ruf.

Walaupun telah memerintah 4,5 tahun, Jokowi belum memenuhi janjinya, tapi Eko dan kawan-kawannya tetap optimistis akan ada perubahan. Mengingat 2019-2024, program Jokowi adalah pengembangan SDM.

"Apakah salah jika K2 saat ini kami masih berharap ke Presiden Jokowi? Jawabnya tentu tidak salah dong karena beliau adalah presiden kita saat ini. Nantinya kan ada terobosan yang berpihak kepada honorer K2 bila beliau terpilih lagi," ujar Eko kepada JPNN, Selasa (16/4).

Seharusnya menurut Eko, seluruh honorer K2 berterima kasih kepada Jokowi. Dia juga mengklaim, massa honorer K2 yang mendukung Jokowi cukup banyak. Dengan pergerakan perjuangan yang lebih elegan karena bawa massa banyak secara senyap menuju Istana.

Eko yakin deklarasi yang sudah dilakukan bisa meminimalisir pernyataan pihak lawan bahwa suara K2 hanya ada di ProPAS (Pro Prabowo-Sandi). Pengalaman 2014, honorer K2 dukung Prabowo.

Namun honorer K2 yang lain tidak terlibat hanya diam. Bahkan tidak ada gerakan sama sekali akibatnya K2 sulit mendapat tempat dari Istana.

"Saat ini kami harus gerak dan lawan. Tunjukkan kami masih fokus kepada Pak Jokowi. Semoga pilihan kami benar dan harusnya Pak Jokowi menang," tegasnya.

Bagaimana dengan honorer K2 pendukung Prabowo-Sandi. Menurut Ketum ProPAS K2 Indonesia Bhimma, untuk memenangkan jagoannya, mereka tetap bergerilya meski di masa tenang.

Dengan kekuatan penuh, seluruh anggota ProPAS all out di 30 provinsi sesuai dengan kabupaten/kota masing-masing.

Bhimma mengaku, sampai hari ini sudah dua minggu full bergerilya ke 32 kecamatan di Jawa Barat. Dia optimistis 90 persen suara honorer se-Jawa Barat akan masuk ke kantong Prabowo-Sandi.

"Ada doa yang selalu kami panjatkan semoga 02 menang mutlak agar kecurangan bisa ditebas," ucapnya.

Dia pun mengajak seluruh honorer K2 ProPAS untuk terus mengamankan suara Prabowo-Sandi dengan menjaga TPS. Handphone harus selalu standby agar bisa merekam bila terjadi kecurangan.

Hasil perhitungan suara difoto dan dikumpulkan untuk diserahkan kepada BPD Prabowo-Sandi.

Bhimma menyerukan, yang ingin berinfak dan ingin beramal jariah membantu fakir miskin, anak yatim, kaum duafa tetapi tidak punya kelebihan harta, cukup coblos 02. Sebab, Prabowo-Sandi jika terpilih akan memberikan seluruh gajinya kepada fakir miskin, kaum duafa dan anak yatim piatu.

"Pendukung Prabowo-Sandi harus militan. Malam ini seluruh honorer K2 salat tahajud minta agar Allah merestui perjuangan ini. Sudah saatnya Indonesia memiliki presiden baru," tutupnya. (jft/jpnn)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...