7 December 2019

Pilpres Harus Jurdil dan Bermartabat. Buat Apa Menang Pilpres kalau Curang?

KONFRONTASI- Kalau mau memang musti curang, kata pepatah China kuno. Karena itu, berbagai kalangan mendesak pemerintah dan masyarakat agar pemilu/Pilpres 2019 berlangsung jujur, adil, bebas dan  rahasia tanpa kecurangan. Buat apa menang kalau curang?
Kubu Jokowi dan relawannya, juga kubu-kubu lawan politiknya harus sepakat dan tegas bahwa pemilu jurdil adalah harga mati. Sekali lagi, buat apa menang kalau curang? ‘’Memang pihak-pihak tertentu meneguhkan bahwa ‘’kalau mau menang musti curang’’. Masalahnya, dosa dunia akhiratnya tak terhingga, itu kalau para petarung pilpres/pemilu masih percaya Tuhan,’’ kata peneliti Dr Jerry Massie dari IPI dan Muslim Arbi, analis politik yang mantan aktivis HMI ITB.
Dalam kaitan ini, menurut sineas Garin Nugroho, kehadiran Rizal Ramli di bursa calon presiden patut diapresiasi. Bersama track record yang dimilikinya, kehadiran Rizal Ramli bagai angin segar yang bertiup di musim kemarau parau. RR meneguhkan pentingnya pilpres/pemilu jurdil, bermartabat dan Luber, bahkan dia ingin Carter Center  dan Uni Eropa memantau pemilu/pilpres 2019..

Sineas dan seniman Indonesia, Garin Nugroho menegaskan, Rizal Ramli bukan hanya hadir di tengah krisis tokoh yang berani mencalonkan diri sebagai presiden untuk menghadapi petahana Joko Widodo. Kehadiran sosok dan perjuangannya yang orisinil sangat dibutuhkan di saat panggung politik nasional dipenuhi atraksi pencitraan dan kepalsuan.


Dalam hal ini, Djoko Edhi Abdurrahman, mantan Anggota DPR RI dan kini Wasek Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama, PBNU, mengatakan, president Treshold 20% (PT 20%)  itu memang tidak fair,  dan 20% itu dihitung dari hasil Pemilu 2014. Itu tidak adil dan tidak jujur. Ibarat (andai) tiket bioskop, sudah dipakai pada tahun 2014, mau dipakai lagi tahun 2019. Tiketnya sudah disobek. Filmnya sudah ditonton. 1000% curang. Tidak JURDIL (jujur dan adil). ‘’Padahal azas Pemilu kudu JURDIL. Itu reasonnya. Sebelumnya, pokok perkara yang sama sudah diuji. Kalah pemohonnya. Menang Jokowi yang merancang Kotak Kosong untuk lanjut dua periode. Kemenangan itu berkat Arief, Ketua MK yang memihak rezim,’’tuturnya.


Tapi Arief, ungkap Djoko Edhi, sudah tersingkir dari Ketua MK karena sejumlah profesor protes atas pelanggaran etika, dan terindikasi dia tidak amanah. Makanya, Ketua MK yang baru harus obyektif, rasional dan netral . ‘’Kesitulah pikiran waras judicial review (JR) dititip. Jika gol, jadi Prof Yusril Ihza, Prof Amien Rais, Prof SBY, Prof Rizal Ramli, Jenderal Gatot Nurmantio, tak lupa Jenderal Prabowo Sùbianto, maju jadi Capres. Mending orang-orang jelas ini jadi presiden, kapok beli kucing dalam karung. Ini  substansi siaran pers Deny Indrayana tentang permohonanjudicial review ( JR) itu,’’ ungkap Djoko Edhi
Menurutnya, syarat ambang batas pencalonan presiden ( presidential threshold) telah mendegradasi kadar pemilihan langsung oleh rakyat yang telah ditegaskan dalam UUD 1945.
Dalam hal ini, Djoko Edhi sependapat dengan Garin Nugroho, bahwa Rizal Ramli ingin pilpres jurdil dan bermartabat, selain  RR sendiri  memiliki kadar kepemimpinan yang mumpuni, bersikap amanah dan kaya gagasan kebangsaan serta pemahaman terhadap persoalan makro dan mikro, juga persoalan di level lokal, nasional, kawasan dan global.

(FF)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...