25 June 2019

Mobnas Esemka Jokowi Dikhawatirkan Ethok-Ethok, itu kan Kebohongan yang bisa Makan Korban

KONFRONTASI- Mobil Esemka dikhawatirkan jadi mobnas ethok-ethok,pura-pura, karena itu  kebohongan Joko Widodo yang bisa memakan korban. Salah satu korbannya malah rival Jokowi di dua kali Pilpres yaitu Prabowo Subianto. Mobil Esemka yang pernah dibangga-banggakan Presdien Joko Widodo  dicurigai sebagai rekayasa pencitraan, sebagai mobil yang penuh dengan kepura-puraan karena bukan buatan Indonesia, melainkan dari China. Demikian pendapat  dua panelis yang juga analis otomotif yakni, Ir Mochtar Niode dan Mantan Sekretaris Meneg BUMN  Dr Said Didu.

Keduanya juga mengungkapkan, setelah hingar-bingar tentang dahsyat dan hebatnya Esemka di media dan ruang publik, pihaknya langsung mengecek tentang asal-usul mobil yang katanya akan dijadikan sebagai mobil nasional, yang dinilai publik/media  sebagai suatu mobnas pura-pura, ethok-ethok, semacam tipu muslihat ala penguasa..''Itu pandangan publik dan media yang saya tahu (perhatikan),''kata Mochtar.

"Setelah d kita cek Esemka  itu, ternyata mobil produk China.  Setelah dibawa masuk  ke Indonesia, lalu tinggal tempel saja merk Esemka, namun keburu terbongkar media/pers," kata  para panelis itu dalam diskusi bertajuk "Indonesia Pasca Jokowi Mewujudkan Mobil Nasional Bukan Pencitraan Seperti Esemka" di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I Nomor 35, Kebayoran Baru, Rabu (23/1).

"Pak Prabowo juga nyaris jadi korban, saya rasa karena dia mau beli 5 biji," kata Said Didu.

Menurut Said Didu, kebohongan adalah induk dari kejahatan. Politisi boleh berdebat dengan kiasan tapi jangan sampai berbohong. Seorang politisi yang sudah bohong pasti hancur.

Dia mengungkapkan, semasa Jokowi masih menjadi Walikota Solo, ada pihak yang memintanya untuk ikut mempromosikan mobil Esemka dengan membeli mobil itu.

"Pada saat itu mobil Esemka, saya Ketua Persatuan Insinyur Indonesia, "Pak, Bapak endors lah ini". Tapi saya tidak mau karena menurut saya ini kebohongan. Esemka itu adalah kebohongan di depan publik," tegasnya.
Pekan lalu, sebelumnya Mantan Sekjen Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), M. Said Didu  mengatakan bahwa mobil Esemka itu mobnas pura-pura, ethok-ethok karena ternyata buatan China. Hal itu juga pernah disampaikan dalam diskusi bertajuk "Jejak-jejak Kebohongan Jokowi?" di Kantor Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo-Sandi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (22/1).


Said Didu pernah mengusulkan agar dibuat patung mobil Esemka sebagai monumen Anti Kebohongan.

Dia menggagas ide monumen patung Mobil Esemka dengan alasan agar tidak terjadi lagi pencitraan berbasis kebohongan.

"Untuk menjaga agar tidak terjadi lagi pencitraan berbasis kebohongan mungkin suatu saat kita buat Monumen anti kebohongan berupa patung mobil esemka," kata dia di akun twitternya @saididu beberapa waktu lalu.

Dalam hal ini,  solusi yang ditawarkan oleh ahli otomotif Mouchtar Niode MSc adalah membuat mobil rakyat dengan semangat kreatifitas dan inovasi yakni membuat mobil listrik untuk:

Pertama, Mengurangi Impor BBM -

 

Kedua, Mengurangi Emisi Gas Buang

Ketiga, Mengangkat Martabat Bangsa

Keempat, Meningkatkan Perekonomian Bangsa  dan menyelamatkan Bumi yang Sekarat

''Selama ini Industri Mobil Indonesia dinikmati oleh Jepang, Korea, Amerika dan Eropa Kapasitas terpasang  :  2.2 juta per tahun ( 90% merk Jepang; 10% Amerika, Korea, Jerman dan Perancis) Produksi  mereka tahun 2017  : 1.2 juta per tahun ( Rp. 240 triliun) Export tahun 2017     : 200.000 per tahun ( Rp. 40 triliun),'' kata Mocjtar Niode.

''Dengan ciri mobnas rakyat itu berupa mobil dengan Jumlah Penumpang : 6-7 orang (Mobil Keluarga). Jarak tempuh :300 km, Motor  = 110 HP, Kecepatan  Max 120 km/jam dalam 15 detik. Baterai Li-ion Solid State:  50 kwh, 50 km per litreEq. Waktu pengisian baterai L3 DC :  10 menit  fast charger . Produksi : 50.000 unit per tahun. Adapun harga : di bawah harga Mobil MPV yang ada(low cost family car,''imbuhnya.

Di sini, Mochtar menambahkan, perlu sekali kita menggunakan ide-ide yang baik dari dalam dan  luar perusahaan.'' Kerjasama dengan orang-orang ahli dan pintar di dalam dan di luar perusahaan. Kerjasama dengan R&D di dalam dan luar perusahaan.,'' katanya.

Menurutnya, kita tidak perlu menemukan sesuatu yang pertama untuk mengambil keuntungan . '' Kita harus mengutamakan membangun model bisnis yang baik dari pada memasuki pasar terlebih dahulu. Apabila kita membuat sesuatu yang baik pilih ide dari dalam dan ide dari luar, kita akan menang,'' kata Mochtar, alumnus ITB

[rus]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Selasa, 25 Jun 2019 - 19:24
Selasa, 25 Jun 2019 - 19:20
Selasa, 25 Jun 2019 - 19:16
Selasa, 25 Jun 2019 - 19:11
Selasa, 25 Jun 2019 - 19:07
Selasa, 25 Jun 2019 - 18:33
Selasa, 25 Jun 2019 - 18:28
Selasa, 25 Jun 2019 - 18:25
Selasa, 25 Jun 2019 - 18:20
Selasa, 25 Jun 2019 - 17:02
Selasa, 25 Jun 2019 - 16:57
Selasa, 25 Jun 2019 - 15:56