8 December 2019

Menristek: IPB, ITB, dan Unpad Masuk 10 Besar Kampus Berbasis Riset Terbaik 2019

KONFRONTASI -   Sebanyak 3 perguruan tinggi negeri dari Jawa Barat masuk 10 besar kampus terbaik berbasis kualitas dan kuantitas penelitian versi Kementerian Riset Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional 2019.

Yaitu, Institut Pertanian Bogor (2), Institut Teknologi Bandung (5) dan Universitas Padjadjaran (7). Hasil penelitian tersebut dirilis setiap 3 tahun sejak 2007.

Menristek/BRIN Bambang Brodjonegoro menyatakan, pemeringkatan tersebut akan menjadi acuan bagi pemerintah untuk menyalurkan dana riset dan pengembangan.

Dengan demikian, ia berharap, semua perguruan tinggi tidak memandang hasil tersebut sebagai bentuk penelitian biasa. Ada banyak proyek penelitian strategis berbiaya besar dan mengacu kepada Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) yang akan diimplementasikam dengan melibatkan kampus terbaik.

"Pemeringkatan ini adalah suatu konsekuensi logis dari perhatian pemerintah terhadap mutu penelitian. Kami akan memberikan penelitian kepada PTN yang cocok menjalankan RIRN. Jadi mohon pemeringkatan ini disikapi serius agar universitas yang dipimpin masing-masing rektor meningkatan ranking dan masuk ke klaster tertinggi," kata Bambang dalam Konferensi Pers Hasil Penilaian Kinerja Penelitian Perguruan Tinggi Tahun 2016-2018 di Gedung II BPPT, Ruang Rapat Lt. 24, Jakarta, Selasa, 19 November 2019.

Berdasarkan analisis terhadap data yang telah diverifikasi, terdapat 47 perguruan tinggi yang masuk dalam kelompok Mandiri (klaster tertinggi), 146 kelompok Utama, 479 kelompok Madya, dan sebanyak 1.305 kelompok Binaan. Jumlah kontributor sebanyak 1.977 perguruan tinggi, meningkat dari periode 2013-2015 yang sebanyak 1.447 perguruan tinggi.

Selain 3 kampus di atas, 7 lainnya yang masuk 10 besar adalah Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Andalas, Universitas Airlangga, Universitas Hasanuddin, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Udayana. Bambang menegaskan, data tersebut masih belum memuaskan karena sebagian besar dari kontributor masih masuk kelompok Binaan.

Kendati demikian, terdapat 21 perguruan tinggi yang berhasil meningkatkan klaster penelitiannya sehingga masuk ke klaster Mandiri pada periode penilaian 2016-2018. Seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Haluoleo, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Sriwijaya, dan Universitas Negeri Malang

“Penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi untuk periode tahun2016-2018 dilakukan berdasarkan data yang sudah dikumpulkan oleh masing-masing perguruan tinggi di Sistem Informasi Manajemen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Simlitabmas)," ujar Bambang.

Ia menjelaskan bahwa penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi berdampak kepada kuota anggaran penelitian. Selain itu juga memengaruhi pengelolaan dana desentralisasi sesuai dengan rencana induk penelitian masing-masing perguruan tinggi, peta kebutuhan program penguatan kapasitas per klaster, dan meknisme pengelolaan penelitian. Komponen yang dievaluasi meliputi sumber daya penelitian (30%), manajemen penelitian (15%), luaran/output (50%), dan revenue generating (5%)," .

“Mengingat peran strategis penilaian kinerja penelitian perguruan tinggi, semua perguruan tinggi berkewajiban menyampaikan data kinerja penelitiannya untuk penilaian pada periode berikutnya. Hal ini juga berlaku untuk perguruan tinggi yang belum pernahmenyampaikan data kinerja penelitiannya," ucapnya.

Anggaran maksimal yang dapat dikelola perguruan tinggi klaster Mandiri sebanyak Rp 30 miliar, klaster Utama sebesar Rp 15 miliar, klaster madya Rp 7,5 miliar, sedangkan klaster binaan dapat mengelola dana penelitian sebesar Rp 2 miliar per tahun. "Jadi pemeringkatan ini berbeda dengan pemeringkatan perguruan tinggi berbasis kelembagaan yang dirilis setahun sekali. Ini berbasis penelitian yang dinilai dalam 3 tahun terakhir," ujar Deputi Riset dan Pengembangan BRIN Muhammad Dimyati.(Jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...