21 February 2017

Mafia-Mafia dalam Pertamina Harus Dibasmi agar Program Jokowi Bagi Ketahanan Energi Terlaksana

KONFRONTASI-  Untuk membangun daulat energi sesuai NAwacita Presiden Jokowi , maka KPK, Kejagung dan pemerintahan Presiden Jokowi harus membasmi mafia-mafia di lingkungan Pertamina dan kementrian BUMN yang selalu ''minta uang atau semacamnya'' kepada para investor dan pemodal yang ingin membangun kilang BBM mini maupun storage penyimpanan BBM di sejumlah titik di Tanah Air.

Para investor mengeluh kepada KONFRONTASI bahwa sudah jadi rahasia umum para oknum di Pertamina selalu memeras dan meminta uang kepada mereka yang tertarik membantu pemerintahan Jokowi untuk membangun kilang mini 20.000 bph dan membangun storage penyimpanan BBM maupun crude oil. ‘’Para mafia itu, baik mafia alumni ITB maupun Non-ITB, adalah orang dalam Pertamina dan kementrian BBM, Presiden Jokowi dan KPK harus menindak dan mengerahkan intelijen untuk basmi mereka,’’ kata seorang investor. '' Para mafia alumni ITB  dan non-ITB di Pertamina harus koreksi diri, kelakuan mereka sudah tercium busuknya. Mereka harus malu pada semangat juang Trisakti ala Menko Kemaritiman Dr Rizal Ramli,'' kata seorang investor  yang juga alumnus ITB.

Komisi VII DPR RI mengemukakan Indonesia saat ini mengalami krisis energi, lantaran tidak memiliki stok atau cadangan minyak nasional. Cadangan minyak mentah (crude oil) Indonesia saat ini hanya untuk 14 hari, bahan bakar minyak (BBM) 22 hari, dan elpiji 17 hari.

Anggota Komisi VII DPR RI Dito Ganinduto menyebutkan, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa, ‎cadangan BBM di Tanah Air hanya sampai 22 hari. Sementara di negara lain, seperti Singapura, China, maupun Amerika Serikat (AS), cadangan BBM-nya bisa mencapai 90-200 hari.

"Singapura penduduknya 4,7 juta jiwa, cadangan BBM-nya 90 hari. Malaysia penduduknya 28 juta jiwa, cadangan BBM-nya 25 hari, China penduduknya 1,3 miliar jiwa cadangan BBM-nya 90 hari, AS penduduknya 310 juta jiwa, cadangan BBM-nya 260 hari. Indonesia penduduknya 250 juta jiwa, cadangan BBM-nya cuma 22 hari," ungkapnya di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (7/3/2016).

Artinya, sambung dia, Indonesia tidak memiliki cadangan minyak nasional sama sekali. Bahkan, Dito membayangkan, jika Indonesia harus menghadapi peperangan dalam lima hari, maka sudah dapat dipastikan akan kalah karena tidak memiliki BBM.

"Kita tidak punya cadangan nasional sama sekali. Bisa dibayangkan kalau kita perang lima hari, habis kita karena enggak ada BBM. ‎Artinya, energi kita situasinya kritis, kita tidak punya cadangan nasional sama sekali. Yang disebut ketahanan energi itu kan mengamankan energi masa depan bangsa‎," tandasnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengemukakan, rencana Indonesia membangun kilang minyak dan gas (migas) di dalam negeri sudah sangat mendesak. Pasalnya, kepemilikan kilang minyak menjadi simbol pertahanan negara, sementara saat ini Indonesia baru memiliki empat kilang minyak skala besar.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM I GN Wiratmaja Puja ‎mengatakan, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak daerah terpencil (remote area) dan lapangan marjinal (marginal field) dengan pasokan migas terbatas. Pembangunan kilang minyak skala besar di atas 100 ribu barel per hari (bph) memerlukan biaya besar dan jarak distribusi BBM pun panjang.

‎Karena itu, solusi yang paling tepat dan cepat yaitu dengan pembangunan kilang minyak mini yang memiliki skala maksimal hanya 20.000 bph. "‎Kita negara besar dan banyak remote area dan marginal field. Minyaknya sedikit cuma 3.000 barel, tapi prosesnya banyak, sehingga kalau bisa bangun kilang mini akan meningkatkan ketahanan nasional," katanya di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (7/3/2016).

Wirat mencontohkan, Rusia saat ini memiliki banyak kilang minyak mini di negaranya. Hal ini dilakukan karena jarak distribusi dan penyaluran dari kilang besar yang dimilikinya cukup jauh. Selain itu, kilang mini tersebut dibangun Rusia juga untuk mengantisipasi perang yang membutuhkan BBM yang banyak.

"‎Saya melihat Rusia bangun kilang mini, karena jauh dan dia siap perang. Kalau kita hanya punya empat kilang, kalau di bom empat-empatnya tewas kita. Artinya, tidak hanya ketahanan energi tapi juga pertahanan negara‎," imbuh dia.

Sementara, Wakil Kepala SKK Migas M Zikrullah mengatakan, pembangunan kilang mini akan mengurangi biaya distribusi atau operational cost BBM. Karena, untuk mengirim BBM 3.000 barel per hari ke remote area membutuhkan ongkos yang mahal.

"‎Kemudian, buat pemerintah sendiri, Pertamina tidak perlu mengambil dan mengantarkan kembali (BBM). Ini cost yang akan efisienkan. Dan transportasi untuk tracking-nya juga membantu masyarakat sekitar. Menumbuhkan ekonomi masyarakat sekitar, jadi dari sisi ekonomi akan menarik manfaat. Dari sisi hulu akan mengurangi production cost, jadi akan memberikan dampak positif sekali ke hulu," tandasnya.

Category: 

Berita Terkait

Baca juga


Loading...