19 March 2019

Lampu Kuning Setengah Merah, Prabowo Pepet dan Salip Jokowi di GoogleTrends

KONFRONTASI- Pemilu 2019 telah menghadirkan dua kombinasi kompetisi baik di darat maupun di udara. Di dua wilayah itu para kandidat saling berebut pengaruh dan perhatian pemilih. Menariknya, dalam satu bulan terakhir Prabowo kian menempel Jokowi khususnya di mesin pencarian. Situasi ini menjadi peringatan keras bagi kubu Jokowi. Potensi terjungkal di Pemilu 2019 tidaklah mustahil.

Data Google Trend yang diolah Drone Emprit, lembaga penganalisa percakapan di media sosial dan internet patut menjadi cermatan calon petahana dan timnya. Data GoogleTrend peringatan keras bagi pasangan petahana untuk lebih giat lagi dalam berkampanye.

Drone Emprit menganalisa dalam satu bulan terakhir, mesin pencairan Google kian menempatkan kompetisi di antara Jokowi dan Prabowo kian menempel ketat. Dalam sebulan terakhir, interest publik terhadap Prabowo semakin menempel Jokowi, ujar pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi kepada INILAH.COM saat dihubungi, Kamis (28/2/2019).

Kendati demikian, Fahmi menggarisbawahi ketertarikan publik dalam mesin pencairan Google itu hanya menampilan perbandingan volume pencarian. Risikonya, tidak diketahui sentimen negatif maupun positif dalam mesin pencarian tersebut. Interest bisa diterjemahkan menjadi popularitas. Semakin populer semakin banyak orang ingin tahu, imbuh alumnus ITB ini.

Dalam konteks Pilpres 2019 ini, Fahmi mewanti-wanti Jokowi dan timnya untuk mewaspadai tren popularitas Prabowo yang semakin menempel ketat sekaligus peringatan bagi kubu Jokowi. Jika muncul banyak informasi positif terhadap Prabowo maka persepsi negatif yang selama ini dibangun oleh kubu 01 kepada Prabowo bisa dikoreksi, tegas Fahmi.

Data Google Trends ini, Fahmi menyebutkan linier dengan data yang dimiliki oleh Drone Emprit. Lembaga ini mencatat pada Juli 2018 lalu, share of voice Prabowo jauh lebih rendah. Namun situasi berubah total sejak memasuki 2019, persaingan kedua tokoh makin mepet. Bulan Februari ini ada tren jarak tersebut semakin tipis, ungkap Fahmi.

Fahmi mencontohkan, percakapan yang terjadi di media sosial pada 27 Februari 2019 kemarin. Kubu 01 tidak memiliki isu yang bertengger di lini masa Twitter. Hal tersebut berbeda dengan kubu 02 yang memiliki sejumlah tanda pagar terkait kampanye yang menjadi topik yang sedang tren dibicarakan warga internet. Hasilnya tampak jelas, tren percakapan tentang Jokowi lebih rendah dibanding Prabowo. Share of voice 46% lawan 54% untuk Prabowo, sebut Fahmi.

Fahmi menyebutkan trens positif Prabwo di Google ini akan linier dengan kondisi di lapangan. Menurut dia, riset yang dilakukan sejumlah lembaga survei tak jauh beda dengan jumlah pengguna mesin pencari ini di internet. Kalau kubu 02 bisa memanfaatkan media sosial dan online dengan baik, mengabarkan kebaikan dan program Prabowo-Sandi, saya kira bisa seperti (Jokowi) di 2014 (Prabowo menang Pilpres), tandas Fahmi.

Bila melihat tren di lapangan terkait sejumlah kunjungan yang dilakukan Prabowo di Sandi di sejumlah daerah, antusiasime masyarakat menyambut kehadiran pasangan calon nomor urut 02 ini cukup antusias. Seperti yang terjadi di Pamekasan Madura, awal pekan ini yang tumpah ruah. Euforia penyambutan warga Madura ke Prabowo tampak mengonfirmasi tren yang terjadi di Google. Di sisi lain, ini peringatan keras bagi kandidat petahana, jika tak hati-hati, kursi presiden bakal direbut Prabowo. Ini sudah lampu kuning etengah merah. Artinya, Indonesia Menang adalah keniscayaan,  dan itu kemenangan Prabowo mengakhiri Joko Widodo yang  tidak kompeten, sudah tidak pantas jadi presiden, ngomong datanya ngasal, ngawur, bodong, dan mengakhiri keterpurukan ekonomi-sosial bangsa ini era Jokowi.   (sumber2/inilahcom/google)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...