18 September 2019

Kilas Balik: Selain 35.000 MW, Apa Lagi 'Kepretan' Rizal Ramli yang Terbukti?

KONFRONTASI- Mantan Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman, Rizal Ramli (RR,sang Rajawali) pernah mengatakan proyek 35.000 MW bisa mengganggu keuangan PLN. Pernyataan Rizal ini terbukti setelah surat Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, ke Menteri ESDM Ignasius Jonan, dan Menteri BUMN Rini Soemarno, beredar di publik. Mari kita kilas balik agar soal itu menjadi jelas.

Dalam surat bernomor S-781/MK.08/2017, yang dirilis 19 September 2017 itu, dijelaskan kondisi kondisi keuangan PLN mengkhawatirkan akibat besarnya kewajiban pembayaran pokok dan bunga pinjaman yang tidak didukung pertumbuhan kas bersih operasi. Ada potensi terjadinya gagal bayar.

Bukan itu saja, kondisi ini berpotensi memburuk karena PLN harus investasi untuk program pembangunan 35.000 MW yang merupakan penugasan pemerintah.


Nah, setelah proyek 35.000, apa lagi kepretan Rizal Ramli yang sempat ramai dan terbukti? Saat masih menjabat Menko Kemaritiman, Rizal Ramli pernah meminta PT Garuda Indonesia Tbk membatalkan rencana pembelian 30 pesawat Airbus 350 XWB. Pernyataan ini disampaikan Rizal saat serah terima jabatan Menko Kemaritiman dari Indoroyono Susilo ke dirinya, Kamis (13/8/2015) lalu.

Menurut Rizal, pesawat A350 XWB hanya cocok untuk penerbangan internasional jarak jauh. Sementara, rata-rata tingkat isian (load factor) penumpang pada penerbangan internasional jarak jauh Garuda hanya 30% atau tidak pernah penuh. Alhasil, rute internasional Garuda tidak menguntungkan secara bisnis.

Selain itu, kata Rizal, Garuda juga pernah memiliki pengalaman buruk saat pengadaan pesawat berbadan lebar yang dibiayai dari pinjaman Eropa. Pesawat itu juga melayani penerbangan internasional. Garuda saat itu, sempat dinilai gagal bayar dan armadanya akan disita namun langkah tersebut berhasil diselesaikan melalui program resrukturisasi.

"Beberapa minggu lalu saya ketemu presiden, saya sampaikan kalau saya nggak mau Garuda bangkrut lagi, jenis Airbus 350, itu hanya cocok untuk penerbangan ke Amerika-Eropa-Jakarta," kata Rizal Ramli pada Agustus 2015 silam.
Foto: Istimewa


Pernyataan Rizal Ramli nampaknya dipertimbangkan Bos Garuda saat ini, Pahala Mansury. Usai dilantik menjadi Direktur Utama, Pahala mengatakan akan melakukan optimalisasi di Garuda. Pahala berupaya membuat Garuda bisa terus melakukan efisiensi dan bisa terus bersaing.

"Salah satunya dari sisi cost kita akan review secara menyeluruh biaya yang ada baik dari sisi biaya flat, kemudian biaya bahan bakar fuel, kemudian maintenance dan hal-hal apa yang bisa kita optimalkan," tutur Pahala, Rabu (12/4/2017) lalu.

"Kita coba lihat dari biaya itu tadi dan hal-hal apa yang harus kita optimalkan dan melibatkan seluruh jajaran yang ada di Garuda untuk mencapai kesuksesannya dan optimalisasi dari revenue itu sendiri bagaimana kita optimalkan pendapat yang kita peroleh dengan strategi pricing, strategi distribusi dan melihat profitabilitas," tambah Pahala. (hns/ang)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...