16 October 2019

KH Hasan Abdullah Sahal Pimpinan Pondok Gontor: Ulama Pergerakan yang Pluralis dan Berani Kritis

KONFRONTASI- Ulama besar yang sangat cerdas, berani dan bersikap kritis itu bernama KH Hasan Abdullah Sahal, pemimpin Pesantren Modern Pondok Gontor. Beliau  lahir di Gontor, 24 Mei 1947 dan KH Hasan Sahal  adalah seorang Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo bersama 2 orang lainnya Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasyi, MA dan KH Syamsul Hadi Abdan, S.Ag. Ulama ini bersikap sangat pluralis dan bernai kritis, serta mengingatkan bahwa multikultarisme/kebhinekaan hanya bisa dijaga kalau ada keadllan, kejujuran, gotong royong, kesetaraan, kebangsaan, solidaritas dan saling ''give and take ''di antara semua anak bangsa..

Tahun lalu, kunjungan Rizal Ramli ke Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor 3, Kediri, Jawa Timur,  disambut baik oleh KH Haan Sahal ini dan  bukan hanya bernuansa nostalgia.
Memang, kebetulan Rizal Ramli pernah "nyantri" di tempat tersebut meski dalam waktu yang tidak lama. Namun, obrolan Rizal Ramli dengan KH Hasan Abdullah Sahal, sang sesepuh pesantren yang juga putra pendiri Pesantren Gontor, KH Abdullah Sahal, terasa penuh rasa kekeluargaan.

Menurut KH Hasan Abdullah Sahal, kalau seluruh rakyat negeri ini, terutama para elitenya jujur, bekerja keras, dan berdisiplin, maka Indonesia akan menjadi "Rajanya Dunia", karena Indonesia dibekali modal kekayaan alam yang sangat berlimpah oleh Tuhan.

"Tapi bisa menjadi dosa besar, undang-undang yang seharusnya mencerdaskan bangsa, malah yang terjadi adalah kebodohan dan penipuan-penipuan," kata KH Hasan Abdullah Sahal yang duduk bersebelahan dengan Rizal Ramli sambil berpegangan tangan dengan erat.

Suasana obrolan yang berlangsung di depan para santri dan para pengajar pondok pesantren tersebut sangat cair dan penuh dengan canda. Kiai Hasan mengatakan, para elite penguasa Indonesia jangan memanipulasi kebenaran.

Dia memberi ilustrasi tentang seekor kuda yang dipakaikan kacamata hijau supaya yang tampak pada mata sang kuda selalu terlihat hijau, padahal tanah yang ada sangat gersang. Tujuan memakaikan kacamata kuda itu adalah agar sang kuda bernafsu untuk makan.

"’Tidak boleh manipulatif. Negara ini sekarang sudah jadi republik teka teki," kata Kiai Hasan.

Menurutnya, pemahaman mengenai arti kemerdekaan sangat penting, Kiai Hasan yakin, seandainya para tokoh penguasa saat ini ditanya mengenai arti dan makna kemerdekaan, tentu jawabannya tidak sama.

"Coba saja tanyakan, pasti jawabannya berbeda. Nah, arti dan makna merdeka ini harus lebih dulu disamakan," tegasnya.

Rizal Ramli pernah "nyantri" singkat di Pondok Pesantren Gontor. Mantan Menko Kemaritiman dan Sumber Daya itu mondok selama satu minggu pada tahun 1976 untuk berdiskusi dengan para pendiri Pondok Pesantren Gontor.

Saat itu Rizal Ramli baru kembali dari studi beasiswa di Jepang dan mencoba mencari jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapi rakyat waktu itu dengan melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa.

KH Hasan bersama KH Shoiman Luqmanul Hakim kemudian Drs. KH. Imam Badri sebelum Kyai Syamsul menjabat. Ia adalah putera keenam dari KH Ahmad Sahal. KH Ahmad Sahal adalah salah seorang dari tiga Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor (KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi.

Ia menyelesaikan pendidikan dasar (SD) di Gontor tahun 1959. Tiga bulan sebelum menyelesaikan SD, ia telah diterima di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor. Setamat KMI tahun 1965, Hasan Abdullah Sahal melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD (ISID-red)) sekaligus mengajar di KMI selama dua setengah tahun. Pada tahun 1967 ia mendapat kesempatan melanjutkan studi di Fakultas Da'wah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah. Pada tahun 1992 mengambil spesialisasi Hadits di Universitas Al-Azhar Mesir.
Pengalaman Organisasi

1. Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo (1985 – sekarang)
2. Pendiri Pondok Pesantren Putri al-Mawaddah Coper, Jetis, Ponorogo tahun 1989.
3. Pendiri dan Pengasuh Pondok Tahfidz Qur'an Al-Muqoddasah Nglumpang, Mlarak, Ponorogotahun 1992.
4. Dosen Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Ponorogo(1977 – sekarang)
Pengalaman ke Luar Negeri

1. Mengikuti Seminar Bahasa Arab di Brunei Darussalam tahun 1993.
2. Da'wah di Malaysia tahun 1999, Hongkong tahun 1999 dan 2000, Korea Selatan tahun 1999, dan Jepang tahun 2001
3. Kunjungan luar negeri lainnya, yaitu ke Singapura tahun 1999; Jordan, Syiria, Israel, Turki, Jerman, Prancis, dan Belgia tahun 2002; Australia tahun 2003; dan Saudi Arabia, Mesir, Thailand, India, serta Pakistan dan Amerika Serikat.
[1]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...