21 May 2018

Ke Mana Golkar Berlabuh? Jokowi atau Prabowo?

KONFRONTASI-Meski Partai Golongan Karya (Golkar) menempati posisi kedua dalam pemilihan legislatif (pileg) beberapa waktu lalu, namun hingga saat ini partai beringin tersebut nampaknya masih galau dalam menentukan arah politiknya. Ke manakah Golkar akan berlabuh, Jokowi atau Prabowo? Mungkinkah Aburizal Bakrie (ARB) akan tetap maju sebagai calon presiden (capres) dengan elektabilitas yang dapat dikatakan sangat rendah? Atau mungkinkah Golkar akan membentuk poros koalisi baru? Jika iya, dengan siapa? Serentetan pertanyaan tersebut masih menjadi teka-teki hingga saat ini.

Konstalasi politik di internal Golkar sampai saat ini nampaknya belum menemukan formula pasangan capres-cawapres untuk pilpres 9 Juli mendatang sehingga mendorong banyak pihak mengusulkan agar Sang Ketua umum Partai Golkar menempatkan posisi sebagai king maker atau figur yang mengatur menentukan siapa yang akan dimajukan sebagai cawapres.

Menurut pengamat politik dari Charta Politika Yunarto Wijaya, apabila ARB menjadi tidak melanjutkan pencalonan presiden dan menjadi king maker, mestinya mengarahkan dukungan pada Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung sebagai Cawapres Golkar.

“Akbar punya rekam jejak yang bagus di partai, pengalaman, dan memiliki banyak basis dukungan, dibandingkan dengan elite Golkar lainnya,” kata Yunarto dalam diskusi bertema “Capres-Cawapres Golkar” yang diselenggarakan Freedom Foundation, Senin sore (12/5/2014).

Pendapat serupa dikemukakan pengamat politik LIPI Siti Zuhro, mengatakan, ARB tidak boleh mutlak-mutlakan dalam situasi politik saat ini. Dia harus memiliki banyak opsi agar partai Golkar memiliki bargaining kuat dalam pembicaraan koalisi.Karena itu rapat pimpinan nasional atau Rapimnas mestinya segera digelar dan diputuskan beberapa opsi.

Dalam kaitan mengajukan cawapres, apabila ARB menjadi king maker, Siti mengungkapkan, dua mantan Ketua Umum Golkar yaitu Akbar dan JK memang bersaing ketat untuk dijadikan cawapres, tetapi dari sisi usia dan pengalaman, basis dukungan, rekam jejak dalam politik, Akbar lebih unggul.

“Capres yang dinilai akan saling berhadapan, Jokowi dan Prabowo, harus melihat calon pendampingnya, bukan sekadar elektabilitas saat pemilihan, tetapi bagaimana liam tahun pemerintahan berjalan. Akbar punya kemammpuan untuk mendampingi dan memberi nilai tambah baik saat pemilihan maupun keika pemerintahan berjalan,” kata Siti.

Anggota Dewan Penasehat Golkar Ibrahim Ambong sebagai salah satu pembicara diskusi mengatakan, Golkar sejak masa reformasi memang ada anomali ketika pemilihan presiden. Mengacu pada pilpres 2004, JK maju bersama SBY, padahal capres Golkar ketiak itu adalah Wiranto. Begitu juga saat Munas di Bali 2005, lampiran pertanggungjawaban Ketua umum Golkar Akbar Tandjung diterima dengan sambutan luar biasa, namun saat pemilihan ketua umum, JK yang dipilih.

“Ini ada erosi di kalangan elite dan kader Golkar. Jika erosi terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Golkar akan kehilangan banyak suara dan kursi dalam pemilu-pemilu berikutnya,” kata Ambong

Saat ditanya mengenai Akbar, mantan pimpinan Komisi I DPR ini mengatakan, kepemimpinan Akbar sudah terbukti dan teruji sampai saat ini.

“Jadi, bukan sekadar elektabilitas, namun kepentingan jangka panjang lima tahun pemerintahan harus menjadi perhatian capres dalam memilih cawapres,” katanya.

Siti Zuhro, mengatakan, banyak partai politik papan tengah yang tak ingin berkoalisi dengan Partai Golkar untuk menghadapi pemilu presiden mendatang. Hal itu, menurut dia, tidak terlepas dari rendahnya elektabilitas bakal calon presiden yang diusung partai itu, yakni Aburizal Bakrie alias Ical.

"Partai-partai menengah justru tidak ingin dilamar Golkar. Padahal, partai dengan perolehan suara kecil sebelumnya selalu ingin mendekat ke partai besar," kata Siti dalam diskusi Menakar Capres-Cawapres Golkar di Jakarta, Senin (12/5/2014).

Siti membandingkan perolehan suara Partai Gerindra yang lebih rendah daripada Golkar pada pemilu legislatif lalu, tetapi elektabiltas bakal calon presiden Gerindra, Prabowo Subianto, jauh lebih tinggi dibanding Ical. Karena itu, ada parpol papan tengah yang ingin berkoalisi dengan Gerindra, seperti PPP.

Faktor lain, kata Siti, Golkar terlalu terburu-buru mencalonkan Ical sebagai bakal capres. Pencapresan Ical sudah diputuskan dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Golkar tahun 2012. Ketika itu, Golkar menjadi parpol pertama yang mendeklarasikan bakal capresnya.

"Strategi dan taktik yang diambil Golkar ini adalah fenomena lama yang punya empati pas-pasan sehingga kurang membaca kebutuhan makro masyarakat," ujarnya.

Dalam kesempatan berbeda Ketua Umum Satuan Karya (Satkar) Ulama Indonesia Partai Golkar, Ali Yahya mengatakan dalam rapat pimpinan nasional Golkar nanti ARB tetap diplot sebagai calon presiden. Namun, jika akhirnya ada suara yang menginginkan Ical menjadi Cawapres, maka calon wakil presiden dari Golkar tidak hanya Ical seorang.

"Jika pak ARB tidak menjadi Capres, maka Cawapres Golkar tidak hanya satu. Ada enam nama yang juga akn menjadi Cawapres dari Golkar," kata Ali dalam diskusi bertema 'Dilema Capres Jelang Pilpres' di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (8/5/2014).

Ali menuturkan, enam nama yang juga berpeluang menjadi Cawapres adalah Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Akbar Tandjung, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Luhut Pandjaaitan, politisi senior Golkar Jusuf Kalla.

Selain ketiga nama itu, ada jugaa munculan tokoh muda Golkar Priyo Budi Santoso, Agung Laksono dan Ginandjar Kartasasmita. "Nah, inilah nanti yang akan ditawarkan dalam Rapimnas (jika Ical menjadi Cawapres)," ujarnya.

Ali mengatakan, skema memunculkan banyak nama Cawapres itu bukan karena keraguan Ical tidak mampu menjaadi Capres. Menurutnya, hal itu dilakukan karena melihat dari realitas politik yang terjadi.

"Realitas mengatakan bahwa Golkar hanya memenuhi elektabilitas 14,8 persen dan maksimal 16 persen, dan itu masih di bawah 20 persen. Nah, kalau itu ngga terpenuhi berarti kita harus koalisi. Sekarang kan pertanyaannya partai mana yang bisa kita ajak koalisi, sedangkan kita sudah tetapkan Capres," katanya. .[ach/rm/trbn/bbs]

Category: 
Loading...