14 October 2019

Kasus Kekerasan dan Pengeroyokan Wartawan di Polsek Ciracas dalam sorotan Pers

KONFRONTASI- Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo menduga pelaku pengeroyokan dua anggota TNI di kawasan Ciracas, Jakarta Timur, tengah menenggak minuman keras jenis kamput.

"Pada saat kejadian para pelaku sedang meminum minuman keras di sekitar TKP (Tempat Kejadian Perkara)," kata Dedi kepada wartawan, Kamis (13/12/2018)..

Buktinya, sambung Dedi, mereka berada di bawah sadar sehingga pun memiliki nyali dengan melakukan kekerasan terhadap Kapten Komarudin yang merupakan anggota dari TNI Angkatan Laut.

“Salah satu pelaku bernama Agus Priyantara bahkan sempat berkata 'lo kalo mau ribut, lepas baju seragam lo',” terang Dedi.

Tim gabungan Polda Metro Jaya menangkap seorang buronan pengeroyok anggota TNI di Ciracas, Jakarta Timur. Buronan itu bernama Depi.

"Ya (sudah ditangkap)," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono saat dikonfirmasi, Kamis (13/12/2018).Depi sebelumnya sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) yang dirilis Polda Metro. Dengan penangkapan Depi, total sudah lima pelaku pengeroyokan yang sudah ditangkap.

Dalam kaitan ini, Poros Wartawan Jakarta (PWJ) mengecam intimidasi dan kekerasan terhadap dua jurnalis yang meliput di Polsek Ciracas Jakarta Timur, Selasa, 11 Desember 2018 malam. Ketum PWJ, Tri Wibowo Santoso mengatakan, kekerasan terhadap wartawan tidak dapat ditoleransi, mengingat tugas jurnalis memberikan informasi kepada masyarakat.

“Tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis tak boleh dibiarkan dan harus segera diusut tuntas,” ujarnya, dikutip dalam siaran persnya, Kamis (13/12/2018).

Sosok yang akrab disapa Bowo ini juga mendesak penegak hukum segera mengungkap dan menangkap para pelaku. Pasalnya, kekerasan terhadap jurnalis yang sedang melakukan tugas merupakan perbuatan melawan hukum dan bertentangan dengan Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999.

“Ini tak boleh dibiarkan. Jurnalis dilindungi oleh Undang-Undang Pers dalam menjalankan kerja-kerja jurnalistik yang meliputi mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, hingga menyampaikan kepada publik” tegasnya.

Adapun menurutny, dalam Pasal 8 UU Pers menyatakan, bahwa dalam menjalankan kerja-kerjanya jurnalis mendapat perlindungan hukum. “Intimidasi dan tindakan kekerasan terhadap jurnalis akan menghalangi hak publik untuk memperoleh berita yang akurat dan benar. Perlu diingat, Pers merupakan pilar keempat dalam demokrasi,” tegas Bowo.

Sebagai informasi, bahwa kasus kekerasan itu bermula saat ER seorang jurnalis Transmedia yang berstatus kontributor dan RF jurnalis Kumparan.com meliput aksi sekelompok massa yang menyerang kantor Mapolsek Ciracas, Jakarta Timur, pada Selasa, sekitar pukul 23.00 malam.

Ketika itu jalan di sekitar kantor Polsek diblokade atau ditutup oleh massa yang rata-rata berbadan tegap dan rambut cepak tersebut.  

Menurut pengakuan ER dan RF, mereka sempat mengatur jarak dari massa yang sedang marah. Mereka pun merekam kejadian itu. Selang beberapa saat, tiba-tiba massa bertambah banyak dan mengamuk dengan memecahkan kaca jendela, merusak kendaraan yang terparkir.

Melihat massa yang banyak dan mengamuk, korban bersama beberapa anggota Polsek berlindung di belakang garasi mobil. Massa pun datang memecahkan kaca ruangan dekat garasi mobil tersebut. Mereka berteriak; “Keluarkan tahanan..! keluarkan tahanan..!!!” 

“Kami sempat ditanya, diinterogasi, dari mana? dari mana?” ujar ER.

Namun mereka berdua tidak mengaku jurnalis, karena massa yang bertanya sedang mengamuk. Massa ini melarang orang merekam kejadian.

“Saya dan RF mengaku sipil, kami nggak mengaku wartawan, karena kalau mengaku sebagai wartawan, kami habis di situ. Soalnya HP, kamera nggak boleh keluar, benda-benda itu nggak boleh keluar dari kantong,” kata ER.

“Mereka memukul anggota Polisi. RF kena pukul juga di bagian jidat, pelipis matanya robek dan banyak keluar darah. Saya coba rangkul RF supaya pendarahan di kepalanya itu nggak keluar lagi”.

Selain itu, jurnalis Transmedia mengalami kerugian, tasnya berisi laptop dibakar oleh massa. Setelah melobi beberapa orang diantara massa, akhirnya ER dan RF pun diizinkan keluar dari area Mapolsek Ciracas. Mereka berlindung di salah satu rumah warga sekitar. (Fel)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...