25 January 2017

Jusuf Kalla Bebani Jokowi, berambisi jadi the Real President

KONFRONTASI- Makin jelas, Jusuf Kalla selaku Wapres, telah mengalahkan Presiden  Jokowi dalam soal otoritas kebijakan dan program kerja. Ketidakharmonisan antara Jokowi dan JK berawal dari pemilihan capres dan cawapres. Jokowi tidak begitu yakin JK sebagai pendampingnya. Begitu juga JK, ia tidak ada niat untuk mendampingi Jokowi sebagai cawapresnya. JK sadar betul, usia yang menjadi pertimbangannya, apalagi usia Jokowi yang terpaut jauh dengannya. JK sudah terlalu tua, berambisi jadi the real president. Celaka.

Jokowi pun sejak awal telah paham betul melihat gelagat JK yang ingin menjadi ‘The Real President’ kembali. Tapi Jokowi tak kalah cerdiknya, ia lantas membuat kebijakan pembentukan Unit Kerja Presiden dengan mengangkat Letjen (Purn) Luhut Binsar Panjaitan sebagai Kepala Staf Kepresidenan.

Tak berhenti sampai di situ. Jokowi juga mengangkat Andi Widjajanto sebagai Sekretaris Kabinet dan menempatkan Rini Sumarno di kursi Menteri BUMN.

Kita tahu, Luhut Panjaitan pernah menjadi kader Partai Golkar yang tentunya dekat dengan JK. Sebelum mundur dari Golkar,  ia terakhir menjabat  anggota Dewan Pertimbangan Partai Golkar. Pada Pilpres 2014, ia mendukung pasangan Jokowi-JK yang diusung oleh PDIP, berseberangan dengan partainya yang mendukung Prabowo-Hatta. Sementara Andi Widjajanto, adalah anak dari tokoh PDIP yang disegani oleh Megawati yakni Theo Syafei, sedangkan Rini Sumarno adalah seorang yang sangat dekat dengan Megawati, bahkan sudah dianggap sebagai saudara oleh Megawati.

Peran yang diberikan Jokowi pada ketiga orang tersebut, tak lain agar kekuasaan JK dapat dibatasi. Hal ini sengaja dilakukan untuk menunjukkan kepada publik bahwa ia mampu menghadang gerak langkah JK,  yang bila dibiarkan terus dapat meruntuhkan popularitasnya. Selain itu, juga untuk menunjukkan bahwa ia mampu meredam  superioritas “KMP”,  yaitu Kalla, Mega dan Paloh.

Wacana reshuffle kabinet, bisa jadi adalah bagian dari perseteruan antara  JK dan Jokowi. JK menyatakan bahwa dalam waktu dekat akan ada reshuffle.  Tapi Jokowi menyatakan perombakan kabinet belum perlu.  Yang diperlukan sekarang, kata Jokowi,  adalah kerja. “Kita harus terus bekerja sambil juga terus melakukan evaluasi kerja,”  kata Jokowi. Jika ditanya soal reshuffle, Jokowi malah minta tanya sama JK. Aneh bukan?

Kasus pembekuan PSSI yang dilakukan Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi mungkin bisa disebut pertarungan sengit yang paling mutakhir antara JK dan Jokowi. Jokowi mendukung langkah Imam Nahrawi membekukan PSSI, tapi JK malah sebaliknya meminta Menpora mencabut pembekuan tersebut. Tapi Imam berpegang pada pernyataan Jokowi

Dan untuk kesekian kalinya, Jokowi selalu melewati pertarungannya dengan JK tanpa terluka atau bahkan membuat vakumnya pemerintahan. Apakah ini pertanda kepemimpinan Jokowi sudah dewasa tidak seperti anggapan Megawati? Atau ini hanyalah sebuah kebetulan sesuai nasib Jokowi yang, konon,  katanya serba kebetulan.

(konfrontasi/http://indonesianreview.com)

Category: 

 


loading...
loading...

BACA JUGA:      

Loading...