25 March 2019

Inilah Alasan 34 DPW PPP Tarik Dukungan Jokowi di Pilpres 2019

KONFRONTASI -

34 Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Djan Faridz kompak untuk menarik dukungannya terhadap Jokowi di Pilpres 2019 mendatang.

Mereka mendesak Ketua Umum Djan Faridz agar segera menyatakan sikap untuk tidak lagi mendukung Jokowi. Penegasan ini disampaikan oleh Ketua DPW PPP Jateng, Ahmad Wafi saat peringatan hari lahir (Harlah) ke-45 PPP di GOR Manahan, Solo, Jateng, Minggu (7/1).

“Kami sebagai perwakilan dari DPW seluruh Indonesia menyatakan, mendesak DPP PPP dan Ketua Umum Djan Faridz untuk menyatakan sikap, dan menginstruksikan kepada seluruh tingkatan untuk tidak mendukung Jokowi pada Pilpres 2019,” tegasnya di hadapan ribuan kader PPP.

Ahmad Wafi melanjutkan, bahwa desakan ini wajib dilaksanakan sesuai dengan mekanisme partai yang berlaku.

Desakan serupa juga disampaikan oleh Ketua DPW dari Provinsi Papua, Indira. Selama ini Pemerintah, menurutnya telah mendzalimi Ketua Umum PPP Djan Faridz selama tiga tahun.

“Kami mendesak kepada DPP PPP Djan Faridz untuk menyatakan sikap dan menginstruksikan untuk tidak mendukung Jokowi, karena sudah mendzalimi lebih kurang tiga tahun ini,” katanya.

Pernyataan tegas juga disampaikan oleh Ketua DPW PPP dari Sumatera Utara, Aswan Jaya. Aswan menegaskan, bahwa DPW tidak akan pernah menyetujui, merestui jika PPP kembali mendukung Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.

“Di Solo, di tempat lahir dan dibesarkannya Presiden Jokowi, kami menegaskan bahwa tidak akan lagi mendukung, tidak akan menyetujui, merestui jika DPW mendukung Jokowi sebagai presiden di periode berikutnya,” kata dia.

Menanggapi desakan tersebut, Djan Faridz menilai sebagai hal yang lumrah. Desakan tersebut sebagai bentuk kekecewaan seluruh pengurus terhadap sikap pemerintah selama ini.

Hanya saja, dirinya tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan. Mengingat, Pilpres masih lama yakni masih di 2019.

“Ini sebabnya karena keputusan dari Menteri Hukum dan HAM yang mengesahkan PPP kubu Romahurmuziy yang mendzalimi keputusan dari MA. Dan kasihan keputusan MA itu hanya seperti kertas kosong. Tapi kan Pilpres masih lama dan masih ada kemungkinan untuk islah, bergabung, atau keluar SK,” katanya.(Juft/POSJAYA)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...