20 March 2019

Ibu Nirma Yuliansyah kepada Rizal Ramli: Daya Beli Rakyat Anjlok, Income Seret, Mau bayar Pajak Pakai Apa?

KONFRONTASI- Teknokrat senior Rizal Ramli menanggapi dan merespon keluhan Nirma Yuliansyah,seorang netizen (warga) tentang makin sulitnya ekonomi era Jokowi-JK ini. ''Iya Pak Rizal Ramli  gimana gak turun terus Tax Rationya, daya beli rakyat anjlok, income seret, mau bayar pajak pakai apa?  Boro-boro bayar Pajak, buat belanja bulanan saja gak cukup. Alhasil para pengusaha besar itu pun juga berkurang income & bayar pajaknya. Gitu kan ya, Pak RR?.'' tanya Nirma.

Rizal Ramli, Menko Ekuin era Presiden Gus Dur, menanggapi demikian: Nirma sangat jelas dan mudah dipahami  Salut .. Lha kok banyak pejabat gini aja ndak paham ? Perlu kursus sama Nirma tuh,'' ungkap RR.

Rizal Ramli, ekonom senior sekaligus mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, menyatakan ekonomi terus merosot dan daya beli rakyat makin melemah, sehingga pengurangan kemiskinan di Zaman Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tergolong paling kecil disbanding 3 pemerintahan sebelumnya.

“Saya kaget dengan pernyataan Darmawan Prasodjo (Deputi I Kantor Staf Presiden/KSP) yang mengatakan pengurangan kemiskinan besar selama ini. Tapi faktanya pengurangan kemiskinan (zaman Jokowi) per tahun paling kecil hanya 480 ribu,” ujarnya dalam diskusi di salah satu saluran televisi swasta di Jakarta, kemarin malam.

Rizal pun menguraikan kemiskinan pada zaman kepemimpinan Gus Dur berkurang rata-rata 5,05 juta per tahun, era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebanyak 570 ribu per tahun, Megawati 550 ribu per tahun. “Zaman Jokowi hanya 480 (ribu),” tegasnya.

Asal tahu saja,  Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto menyebut terjadinya defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,16 miliar alias yang terdalam pada periode Presiden Joko Widodo disebabkan oleh berbagai kombinasi, yaitu melesunya perekonomian global dan anjloknya harga komoditas.

Sedangkan Bank Indonesia (BI) merilis utang luar negeri Indonesia pada akhir triwulan IV-2018. Pada periode tersebut utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 376,8 miliar atau Rp 5.312,8 triliun (Asumsi Kurs US$ 1 = Rp 14.100).



"Terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$ 186,2 miliar serta utang swasta termasuk BUMN sebesar US$ 190,6 miliar," tulis BI dalam keterangannya, Jumat (15/2/2019). (berbagai sumber/KCM/CNBC)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...