21 February 2019

"Hoax Propaganda Rusia dan Kualitas Politik Petahana''

Pernyataan Presiden Joko Widodo terkait ada tim sukses yang menggunakan "propaganda Rusia" hanya memiliki dampak elektoral negatif . Dampak lain misalnya hubungan bilateral, sepertinya tidak ada karena Rusia tidak menanggapi serius pernyataan tersebut.

Demikian disampaikan pakar politik internasional Teguh Santosa dalam diskusi publik bertajuk "Hoax Propaganda Rusia: Kualitas Politik Internasional Indonesia Hari Ini di Mata Dunia" di Tebet Barat Dalam IV, Jakarta, Sabtu (9/2).


"Dunia internasional sedang memotret kita bukan tentang benar atau salah. Tetapi persoalan kita dalam mengambil kebijakan luar negeri yang substansial," ujar Teguh yang juga wartawan senior ini.

Selang beberapa hari Presiden Jokowi megeluarkan statement itu, Teguh sempat melakukan interaksi dengan Dutabesar Federasi Rusia Lyudmila Georgievna Vorobieva. Namun, respons yang didapat hanya senyum.

"Saya bertemu ibu Dubes Rusia beberapa hari lalu, dia tertawa, dan saya tanya gimana soal propaganda Rusia, mereka tertawa, ya nggak perlu dijelaskan lagi bahwa tertawa miris. Tentu tidak ada tindakan yang lebih dari sekedar twitnya itu," tutur Teguh.

Baca: Klarifikasi Soal "Propaganda Rusia", Kedutaan: Kami Tidak Ikut Campur Urusan Dalam Negeri Indonesia

Sebab, lanjut Teguh, hingga saat ini pun Presiden Rusia Vladimir Putin belum mengeluarkan pernyataan apa pun terkait ucapan Presiden Jokowi terkait propaganda Rusia.

"Kalau negara itu merasa terganggu biasanya dubes akan dipanggil ke negara asal. Dipanggil dimintai penjelasan. Tetapi permintaan penjelasan itu juga bermakna kritik keras dari negara tertentu karena dianggap mengganggu," kata Teguh.

"Sampai sejauh ini Putin belum punya rencana untuk memanggil dubes. Tidak ada rencana itu kenapa karena tidak dianggap penting," sebutnya menambahkan.

Ditegaskan Teguh, dunia internasional hanya akan mempersoalkan kebijakan internasional Indonesia yang inkonsisten. Sebagai contoh kebijakan eksekusi mati dan penenggelaman kapal.

"Misalnya meneggelamkan kapal, benar bahwa illegal fishing itu persoalan, tapi menenggelamkan kapal itu juga persoalan. Kemudian eksekusi mati, nah sempat eksekusi mati itu sering frekuensinya," jelas Teguh.

Kembali ditekankan Teguh, di dunia internasional itu tidak lagi persoalan pernyataan benar atau salah, tapi persoalan keseriusan.

"Jika sesaat saja tidak ada inkosistensi terhadap tindakan itu. Nah, di dunia internasional lebih mempersoalkan itu," tutupnya. [rus]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...