24 July 2019

"Full Day School" Bisa Merampas Hak Bermain Anak

KONFRONTASI- Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy soal sekolah sehari penuh atau full day school (FDS) untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), menuai pro dan kontra. Gelombang penolakan datang dari berbagai kalangan, termasuk Wakil Ketua Komisi X DPR RI Sutan Adil Hendra.

 

"Belum selesai kita membenahi masalah kurikulum yang kerap kali di acak-acak, sekarang muncul gagasan untuk anak sekolah sehari penuh, hanya dengan alasan pendidikan dasar saat ini tidak siap menghadapi perubahan zaman," ucap Sutan, ketika dihubungi via telepon, Rabu (10/08/2016).

Politikus Gerindra itu mengingatkan Mendikbud untuk mengkaji ulang ide sekolah sehari penuh ini. Dia meminta, perlu ada pertimbangan terhadap hak bermain anak-anak, agar jangan dirampas oleh kebijakan yang prematur.

"Saya minta implementasi sistem ini harus didahului kajian yang utuh, jangan parsial dan prematur seperti sekarang. Pikirkan juga peran orang tua jika kebijakan ini diterapkan. Termasuk masalah dukungan anggaran dan sarana prasarana dari perubahan ini,” ucap Sutan, kritis.

Sutan menambahkan, jika kebijakan ini diterapkan, akan mengurangi interaksi anak dengan orang tua, termasuk waktu untuk mengaji yang biasanya dilaksanakan pada sore hari. Sutan juga khawatir, kebijakan tersebut akan membebani orang tua karena harus memberi uang saku lebih kepada anak. Mengingat, tidak semua orang tua dikategorikan mampu.

“Bagaimana dengankonsumsi anak saat siang atau sore hari, apakah orang tua bisa selalu memberikan uang saku lebih atau bekal. Mengingat kita juga tahu, banyak anaksekarang yang tidaksarapan pagi karena orang tuanyakurang mampu,” kata Sutan, prihatin.

Politikus asal dapil ini pun memberi contoh, sistem pendidikan di negara maju justru memberi ruang bagi anak-anak untuk bermain mengembangkan kreativitas dan imajinasi masa kecilnya.

“Finlandia saja yang di anggap memiliki sistem pendidikan dasar terbaik di dunia jam sekolah saja hanya sekitar 5 jam tanpa harus di bebani tugas yang menyiksa peserta didik,” imbuhnya.

Untuk itu, sebagai mitra kerja Kemendikbud, Sutan meminta agar Mendikbud mengkaji secara mendalam dan menyeluruh mengenai gagasan ini. Apalagi, Sutan juga mendapat aspirasi dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan di Jambi terkait gagasan yang sudah disampaikan Mendikbud kepadaWakil Presiden ini.

“Pada intinya mereka meminta pemerintah memikirkan lagi rencana ini secara utuh dan mendalam. Suara dariakademisi dan praktisi ini  pada dasarnyaingin melindungi hak anak untuk bermain di usia perkembangan mereka,” kata politikus yang akrab dipanggil SAH ini.

Mendikbud Muhadjir Effendy sebelumnya menyampaikan gagasan full day school untuk pendidikan dasar yaitu SD dan SMP untuk sekolah negeri dan swasta. Gagasan ini diajukan agar anak memiliki kegiatan di sekolah dibanding berada sendirian di rumah ketika orang tua masih bekerja
.
“Dengan sistem full day school ini secara perlahan anak didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi 'liar' di luar sekolah ketika orang tua mereka masih belum pulang dari kerja,” kata Muhadjir.

Menurut Muhadjir, menambah waktu anak di sekolah membuat siswa bisa menyelesaikan tugas dan mengaji hingga dijemput orang tua usai jam kerja.
[mr/mtv]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...