27 February 2017

Ekonomi Makin Babak Belur, citra Jokowi-JK Tersungkur

KONFRONTASI- Kenapa kaum pembeli lesu lebih enam bulan ini? Karena harga aneka kebutuhan pokok begitu tinggi. Semua ini terjadi sejak pemerintah mencabut subsidi premium dan menetapkan subsidi tetap pada solar dan minyak tanah. Alhasil, biaya transportasi naik. Ujung-ujungnya, merembet ke berbagai harga kebutuhan pokok pula.

Tak hanya pedagang kecil yang ngos-ngosan. Carrefour pun mengalami nasib sama. Menurut Head of Public Affairs Carrefour Indonesia Satria Hamid, penjualan di Carrefour mulai menurun sejak bulan Februari 2015. Pelemahan rupiah menjadi salah satu pemicu yang membuat konsumen mengerem pengeluarannya atau hanya membeli barang yang benar-benar dibutuhkan.

”Hampir semua (produk) rata-rata mengalami penurunan karena efek dari kondisi depresiasi rupiah, kenaikan tarif listrik, dan bahan pangan. Ada efek psikologis sehingga konsumen menahan uangnya atau membelanjakan sesuai kebutuhan,” katanya.

Hal senada dikatakan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman. Menurut dia, dalam tiga bulan terakhir kondisi industri makanan dan minuman memburuk, terutama pada bulan Februari. ”Kondisinya parah. Kami minta ke pemerintah untuk mengkaji kebijakan. Kenaikan harga BBM misalnya, dampaknya ke ongkos angkut naik terus sehingga memberatkan,” keluhnya.

Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI ) Alphonzus Widjaja mengatakan, akibat kenaikan harga barang dan jasa telah membuat daya beli masyarakat di mall-mall menurun. Situasi ini, katanya, menganggu bisnis mall.

"Karena kami yang memberikan sewa atau pengelolaan mall, kami memberikan kepastian usaha ke para pengguna mall. Sebab sewanya mahal. Tapi kenaikan harga BBM dan pelemahan rupiah telah berkontribusi negatif terhadap bisnis mall," ujar Widjaja.

Tahun ini memang tahun menyedihkan buat sektor ritel akibat turunnya konsumsi. Semua terjadi karena lemahnya daya beli masyarakat. Konsultan ritel dan staf ahli Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Yongky Surya Susilo mengatakan, pertumbuhan ritel tahun ini masih akan menurun. Jika pada 2013 pertumbuhan ritel di kisaran 15%-18% dan pada kuartal IV/2014 turun menjadi 12,7%, tahun ini dikhawatirkan bisa di bawah 10%. ”Padahal ritel ini kan driver pertumbuhan ekonomi. Saya yakin penurunan ini akan memengaruhi kinerja ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Menurut Yongky, penurunan itu merupakan akumulasi dari kondisi yang menekan konsumsi masyarakat di Tanah Air, yakni peningkatan harga energi (BBM, listrik, elpiji, dan air), naiknya pajak konsumen, regulasi yang kurang mendukung di industri ritel dan manufaktur, serta melemahnya nilai tukar rupiah.

Memang, hampir semua sektor pertumbuhannya begitu melambat. Hasil survei kegiatan usaha yang dilakukan Bank Indonesia juga mengindikasikan kegiatan usaha pada kuartal I 2015 melambat daripada kuartal sebelumnya.

Lihat saja angka penjualan mobil. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) menunjukkan, selama kuartal I 2015, total penjualan mobil hanya mencapai 282.569 unit, lebih rendah dibandingkan periode sama tahun lalu yang 338.500 unit. Padahal, tahun ini target penjualan mobil sebanyak 1,2 juta unit.

Bagaimana yang lain? Sami mawon. Semua ini terjadi karena salah arus kebijakan ekonomi nasional di tangan Presiden Jokowi. (Kf/http://indonesianreview.com)

Category: 

Berita Terkait

Baca juga


Loading...