26 May 2019

Duet Prabowo-Rizal Ramli Mampu Kalahkan Jokowi. RR bakal jadi Penentu Prabowo Tundukkan Jokowi

KONFRONTASI- Lembaga penelitian politik, seperti Median, Poltracking dan LSI menyatakan bahwa elektabilitas petahana Jokowi belakangan ini berada di kisaran 35 persen. Artinya asal pemilu jurdil, peluang penantang Joko Widodo untuk menangi Pilpres 2019 sudah terbuka dan besar. Di sini duet Prabowo- Rizal Ramli (RR) berpeluang  kuat mengalahkan Jokowi, ketimbang Prabowo yang sudah resmi capres Gerindra itu berduet dengan sosok lain yang tidak punya visi ekonomi kerakyatan yang sekuat RR. Prabowo-RR adalah duet terbaik untuk menekuk dan menundukkan Jokowi yang gagal membangun ekonomi rakyat, dan diterjang isu agama dengan dampak memburuknya relasi Jokowi  dengan ummat Islam.

Rico Marbun, Direktur Lembaga Media Survei Nasional (Median) mengungkapkan kuatnya kecenderungan arus besar masyarakat DKI dengan semangat "Asal Bukan Ahok " (ABA) telah berubah/bertransformasi menjadi Asal Bukan Jokowi (ABJ) di dataran nasional,dan  bertemu kaos-kaos dengan spirit '' #2019 Ganti Presiden'' . dan ''2019 Presiden Baru'' sehingga citra/  kans Jokowi jatuh, rusak berkeping  terkena dampak negative yang serius, damage akibat Ahokisme yang oleh ummat Islam dicap identik penista agama. Sangat mengerikan dampak cap/stigma itu secara politik.

Hasil gambar untuk rico marbun

Rico M

Nah, pada level nasional menuju Pilpres, semangat ‘’ganti presiden 2019’’ seirama dengan semangat Asal Bukan Jokowi (ABJ) yang membuat elektabilitas Jokowi stagnan, mandeg pada level 35% akibat buruknya ekonomi dan isu agama yang menggelimang.   ''Jokowi sendiri tdak disukai Amerika Serikat (AS) dan ummat Islam karena Jokowi sangat dekat dengan China/RRC dan dinilai tidak tulus terhadap ummat Islam,'' ungkap Rico.

Dalam kaitan ini, tokoh GMNI Indonesia Timur Nehemia Lawalata, peneliti Dr Herdi Sahrasad dan analis Reinhard MSc dari New Indonesia Foundation, menilai, jika dalam Pilpres 2019 hanya terbentuk dua poros koalisi, yakni Jokowi melawan Prabowo Subianto, maka peran calon wakil presiden (Cawapres) merupakan faktor yang sangat menentukan. 

Hasil gambar untuk nehemia lawalata

herdi dan Nehemia Lawalata                       

Sejauh ini,  Nehemia Lawalata dan Herdi mengakui, para analis  dan aktivis menilai hubungan Jokowi dan ummat Islam sangat buruk dan tegang, sebab ummat Islam trauma kepada Jokowi yang dinilai  secara ekonomi buruk, penegakan hukum makin  tidak adil, represif kepada Muslim dan  menyimpang dari Trisakti/Nawa Cita serta terlalu membela Ahok selaku penista agama sehinga isu agama dan ekonomi membaur jadi problem sangat sensitive yang menjauhkan ummat  Islam dari Jokowi. Bahkan ummat Islam sudah trauma dengan Jokowi, dan situasi kondisi yang berubah ini sangat menyudutkan Jokowi sehingga isu ganti presiden tak terbendung lagi. Jokowi tanpa RR kalah, sebaliknya Prabowo-RR bisa menang atas Jokowi asal pemilu jurdil. Kalau Prabowo tidak berduet dengan RR, maka potensi menang Jokowi masih ada dan tak boleh diremehkan.

Ketiga analis itu sependapat bahwa Prabowo akan menang bila menggandeng Rizal Ramli (RR) sebagai Cawapres. Setidaknya ada tiga alasan mengapa ekonom senior itu menjadi faktor penentu kemenangan Prabowo atas Jokowi.

Pertama. RR merupakan ekonom di Indonesia yang paling paham kelemahan pembangunan ekonomi Jokowi yang Neoliberal. Ketidakpuasan publik terhadap kinerja ekonomi Neolib Jokowi, akan bermuara kepada sosok ekonom yang mereka anggap paling mampu memperbaikinya.
 
Kedua, kecewa dan tak puas dengan pembangunan infrastruktur Jokowi yang tidak berhubungan dengan membaiknya perekonomian mereka, daya beli rakyat tidak membaik, impor pangan semakin gencar, ketimpangan pendapatan tetap tinggi, dan pertumbuhan ekonomi stagnan 5 persen. Pada saat yang sama mereka melihat dan membaca RR banyak memberikan solusi-solusi terobosan untuk atasi semua masalah ekonomi tersebut.
Ketiga,  RR adalah simbol keberpihakan rakyat, hal ini dibuktikan dalam rekam jejak sebagai tokoh pergerakan selama 40 tahun, sejak 1978. Dengan menyingkirkan RR dari kabinet, sama saja Jokowi menghilangkan simbol keberpihakan rakyat dari pemerintahannya. Hal ini terutama tergambar jelas dari kasus Reklamasi Teluk Jakarta. Publik seluruh Indonesia paham benar bahwa RR direshuffle oleh Jokowi setelah berani hentikan reklamasi Pulau G milik Agung Podomoro karena alasan teknis (pipa gas dan PLN) dan kerakyatan (nelayan). Perlu diingat isu reklamasi terbukti sangat ampuh ketika diangkat oleh Anies Baswedan mengalahkan Ahok di Pilkada DKI Jakarta tahun lalu. RR adalah pemilik saham terbesar atas isu reklamasi ini, bukan Anies. Dan isu reklamasi jelas akan muncul lagi saat Pilpres 2019

Keempat, bangsa ini membutuhkan negarawan berkapasitas internasional yang mampu mengimbangi agresivitas Republik Rakyat Tiongkok (RRC/China). Apalagi setelah pemimpin RRC, Xi Jinping dimungkinkan menjabat lebih dari dua periode oleh Kongres Nasional PKC. RR dinilai dapat mengimbangi Xi, karena RR adalah penasehat ekonomi PBB bersama tiga orang peraih Nobel Ekonomi.Publik melihat Jokowi sangat lemah dalam melakukan negosiasi dengan pemerintah RRC (China). Terutama terlihat dari masih maraknya isu membanjirnya tenaga kerja asal Tiongkok di Indonesia, yang sangat meresahkan publik. Terkait kisruh Laut Cina Selatan pun, posisi pengakuan Indonesia atas Laut Natuna Utara juga masih diingat publik sebagai inisitatif RR sejak saat masih menjabat Menko Kemaritiman Jokowi.
Meski saat ini nama RR belum dimasukkan dalam kuisioner di sejumlah lembaga survei, namun Herdi, Lawalata dan Reinhard sangat yakin ke depan nama Rizal Ramli bakal terpasang dan melenggang naik. Namun demikian, duet Prabowo-RR bisa terjadi kalau Jokowi tidak ambil RR selaku cawapresnya, dan itulah kemungkinan  tragedi akibat kegagalan ekonomi  dan isu agama/SARA era Jokowi. (fg)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...