20 January 2019

Duet Jokowi (UGM)-Rizal Ramli (ITB): 'The Kids Zaman Now' untuk Pilpres 2019

KONFRONTASI-  Duet  Jokowi (UGM) dan Rizal Ramli (ITB) dalam bahasa kaum remaja dan pemuda masa kini sebagai duet  ‘’the kids zaman now’’ karena perpaduan kultur Jawa dan luar Jawa, sosok yang lugas dan reformis , kesantunan-kesahajaan (Jokowi)  dan kecerdasan- keberanian (RR) untuk  memperbaiki ekonomi dan kondisi bangsa akibat kegagalan Neoliberalisme  tim ekonomi  (Sri Mulyani dkk) Kabinet Kerja dewasa ini.  Hal itu disampaikan  akademisi  Frans Aba PhD  (Universitas Atmajaya)  dan Dr Herdi Sahrasad dari Universitas Paramadina.

 ‘’Jokowi-RR ibaratnya secara simbolik  merujuk  Soekarno-Hatta  dari  ‘’the kids zaman now’’  di kalangan kaum remaja dan muda kini. Jokowi itu solidarity maker dan Rizal Ramli itu  teknokrat senior/administrator,’’ ujar Herdi dan Frans secara terpisah meminjam wacana  mahaguru/Indonesianis  Prof Herbert Feith (almarhum).

Jokowi alumnus UGM, berbasis nasionalisme Jawa, sementara RR  berbasis nasionalisme luar Jawa, berbasis NU dan Muhammadiyah  dimana RR  tumbuh dan menjadi  anak kandung perubahan dalam proses  studinya sebagai  alumnus  ITB, Sophia University Tokyo dan Boston University, AS.  Dan, karena semangat pencarian dan pergulatannya di dunia sosial  dan pergerakan, Rizal Ramli  pun sempat nyanteri di Pondok Gontor dan dia adalah anggota keluarga besar Pondok Modern Gontor dan Tebu Ireng Gus Dur di Jawa Timur.

‘’Kalau Presiden Jokowi merekrut kembali Rizal Ramli (RR) ke Kabinet dalam resufel nanti, atau Presiden mengajukan Rizal Ramli sebagai Gubernur BI pada 2018 ini, maka  itulah sinyal kuat Jokowi untuk  kemungkinan merekrut RR dalam duet Jokowi-Rizal Ramli pada Pilpres 2019 . Tidak sulit buat saya memprediksinya, kalau Presiden melakukan resufel dan menarik RR masuk kabinet, atau Presiden ajukan RR jadi calon Gubernur BI setelah Agus Marto berakhir 2018 nanti,  maka itu jelas sinyal kuat Jokowi untuk kemungkinan berduet  dengan RR mengatasi masalah ekonomi, kondisi bangsa dan negara yang harus diperbaiki. Sebelum itu terjadi, mari kita lihat saja segala kemungkinan yang terbuka ke depan.''  Demikian  pandangan Suko Sudarso, tokoh senior GMNI ITB yang juga sesepuh nasionalis kultural. Pekan lalu Sultan Tidore Husain Syah mengajukan gagasan duet Jokowi-Rizal Ramli  dalam dialog di Maluku Utara bersama rakyat setempat, guna perbaiki ekonomi  rakyat dan kondisi bangsa dewasa ini yang muram dan murung.

Suko Sudarso melihat, masyarakat atau publik  bersuara mempertimbangkan duet Jokowi- Rizal Ramli  karena ingin mengatasi kesuraman ekonomi setelah kegagalan Neoliberalisme  Sri Mulyani cs dewasa ini dengan stagnasi ekonomi dan merosotnya daya beli rakyat.

‘’Jokowi masih popular, meski elektabilitas cenderung merosot akibat  stagnasi ekonomi Neolib, namun rakyat kecil atau masyarakat cilik  diprediksi masih memilih Jokowi, sehingga duet Jokowi- Rizal Ramli, jadi asa  memperbaiki keadaan bangsa dan ekonomi nasional yang merosot . Kini memburuknya ekonomi sudah mengancam demokrasi dan bangsa ini ,’’ kata Suko Sudarso, tokoh senior  GMNI ITB, sesepuh nasionalis kultural dan mantan Komandan Barisan Soekarno  di Bandung pertengahan 1960-an.

Foto Herdi Sahrasad.

Suko Sudarso, Adi Sasono, Herdi Sahrasad, Arif Budiyono ITS

‘’Problem ekonomi sangat mengancam bangsa dan demokrasi kita sehingga  RR yang mampu memberi harapan bagi pertumbuhan ekonomi 6% ke atas akan jadi pilihan rakyat, ujarnya.

Sekjen Seknas Jokowi yakni Osmar Tanjung mengungkapkan, pertumbuhan yang stagnan di angka 5 persen dianggap sebuah kegagalan pemerintahan Jokowi-JK yang berjanji meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen dalam 5 tahun pemerintahannya. Bagi Rizal Ramli kegagalan ini karena kebijakan ekonomi neoliberalisme yang diterapkan Sri Mulyani dan Menko Perekonomian. Kebijakan neolib Menteri Keuangan ini semakin memperlemah daya beli rakyat. Pemerintahan Jokowi-JK pantas melakukan reshuffle seiring disetujuinya Marsekal Hadi Tjahjanto menjadi Panglima TNI oleh DPR RI pada Sidang Paripurna DPR, Kamis 7 Desember 2017.

Osmar Tanjung menilai, Apa yang menjadi usulan Sultan Tidore menggandengkan Jokowi dengan Rizal Ramli sebagai Capres dan Cawapres pada Pilpres tahun 2019, disambut hangat oleh Suko Sudarso, seorang senior GMNI alumni ITB yang adalah juga sesepuh nasionalis kultural. DR. Rizal Ramli bukan hanya milik masyarakat Minangkabau namun juga milik masyarakat nusantara dan dunia sebagaimana Bung Hatta, Proklamator Bangsa Indonesia.

Ditawarkannya Rizal Ramli sebagai Gubernur BI tahun 2018 oleh Presiden Jokowi menunjukan bahwa hubungan dan komunikasi Jokowi dengan Rizal Ramli dapat dikatakan baik-baik saja dan semakin lancar serta harmonis manakala Rizal Ramli keluar dari Kabinet Kerja. Pendapat miring yang selama ini terjadi tentang Rajawali Ngepret ternyata tidak benar. Justru keributan di Kabinet Kerja semakin sulit dikendalikan. Saling intip dan tingginya ego masing-masing kementrian tetap saja  terungkap di media. Faksi di Kabinet Kerja tetap ada karena adanya "perbedaan kepentingan" pada masing-masing menteri, baik menteri yang berasal dari partai maupun yang profesional yang punya ambisi jadi calon wakil presiden atau dalam rangka kepentingan Pilpres tahun 2019. Demikian Osmar Tanjung..

Masa pemerintahan Jokowi-JK efektif tinggal 1,5 tahun lagi. Tahun 2018 adalah tahun politik dan setapak lagi tiba dipelupuk mata. Tahun 2018 adalah tahun Pilkada dan tahun pencalonan presiden dan wakilnya. Sebagai Presiden, pantasnya Jokowi membersihkan benalu di Kabinet Kerja, tidak terkecuali di barisan TNI yang belakangan terkontaminasi dengan kaum "intoleran" yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia.  Demikian imbuhnya. (kf)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...