22 January 2017

Demo Mahasiswa Makassar soal BBM, Empat Mahasiswa Dipecat, Aduh !

MAKASSAR-Sebagai buntut bentrokan antara mahasiswa dan polisi yang berakibat menewaskan seorang warga, Rektorat Universitas Muslim Indonesia (UMI) memecat empat mahasiswanya dan memberikan skors kepada empat mahasiswa lainnya.

Keempat mahasiswa ini dinilai kerap berperan sebagai provokator dan sering bertindak anarkistis ketika berunjuk rasa.

"Empat di antaranya sudah dipulangkan ke orangtuanya, alias dipecat, dan empat mahasiswa lainnya diskors. Tindakan yang dilakukan itu setelah dilakukan rapat senat," kata Rektor UMI Prof Dr Masrura, didampingi Wakil Rektor UMI Prof Dr Achmad Gani, dalam konferensi pers, Jumat (28/11/2014) petang.

Masrura menuturkan, pihaknya sudah berusaha mengantisipasi aksi unjuk rasa dengan cara meliburkan aktivitas perkuliahan jauh hari sebelumnya.

"Kami sudah liburkan jauh hari sebelumnya dan kami akan liburkan kembali perkuliahan sampai hari Senin. Kami sebenarnya menginginkan agar menyampaikan aspirasi jangan anarkistis dan menutup jalan, apalagi sampai melibatkan warga. Ini kemungkinan besar ada skenario," katanya.

Saat ini, lanjut Masrura, pihaknya sudah melakukan diskusi dengan pihak kepolisian mengenai cara menangani aksi mahasiswa. Dalam diskusi itu, kepolisian menemukan cara untuk menangani mahasiswa yang demo dengan menutup jalan.

"Jika kepolisian menangani aksi mahasiswa dengan cara bertindak anarkistis, pastinya mahasiswa yang lain ikut terpancing, utamanya jika mahasiswa brutal dan memukul mundur mahasiswa masuk kampus sampai terjadi penembakan gas air mata masuk ke masjid. Penanganan seperti ini seharusnya perlu diperbaiki dan diubah," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ary (17), warga Jalan Pampang 1 yang biasa membantu polisi dalam mengatur lalu lintas atau biasa disebut "Pak Ogah" di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI), tewas dalam bentrokan antara mahasiswa dan polisi di depan kantor Gubernur Sulawesi Selatan di Jalan Urip Sumoharjo, Kamis (27/11/2014) petang.

Bentrokan berawal ketika mahasiswa UMI bersama warga Jalan Pampang keluar dari kampus dan menyerang kantor Gubernur Sulsel yang hanya berjarak sekitar 200 meter.

Tidak lama kemudian, aparat dari Polsekta Panakukang dan Polrestabes Makassar memukul mundur pendemo. Polisi yang menerjunkan kendaraan taktis dan water cannon kemudian dilempari mahasiswa. Ary yang ikut berada di dalam kerumunan pendemo ini terjatuh dan kepala bagian belakangnya terluka parah.

TEWAS

Tim dokter RSUD Wahidin Sudirohusodo menyatakan, Ary (17), warga Jalan Pampang yang tewas di tengah aksi unjuk rasa di Kampus UMI Makassar, kemarin, mengalami pendarahan pada selaput lunak otak dan patah tulang tengkorak.

Hal ini diungkapkan Kepala Instalasi Forensik dan Medikolegal RS Wahidin Sudirohusodo, dr Jerny Dase SH SpF M Kes, Jumat (28/11/2014), seusai proses otopsi yang dilakukan atas permintaan Polsekta Panakukang.

"Kesimpulan hasil otopsi, terdapat 11 luka di bagian kepala, antara lain, bibir memar, rahang lecet, kepala belakang luka robek, tampak jaringan otak keluar. Ada pendarahan di bawah selaput lunak otak. Ditemukan resapan darah di bawah kulit kepala, patah tulang tengkorak belakang," kata Jerny.

Proses otopsi dilakukan oleh tim forensik dan mediko legal RSUD Wahidin Sudirohusodo mulai Kamis (27/11/2014) pukul 18.00 hingga Jumat (28/11/2014) pukul 05.30 Wita. 

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulselbar Komisaris Besar Pol Endi Sutendi menambahkan, otopsi sengaja dilakukan di RSUD Wahidin Sudirohusodo agar masyarakat mudah mengakses hasilnya secara transparan. Otopsi tidak dilakukan di RS Bhayangkara agar menghindari kecurigaan masyarakat terkait kesimpulan akhirnya.

Endi kembali menegaskan, semua luka tersebut diduga akibat terkena benda keras dari arah belakang. Namun, belum diketahui karena terlempar, terjatuh, atau terkena batu. Hingga kini, Endi mengaku, penyidik masih melakukan pendalaman terkait kasus meninggalnya Ary di lokasi bentrokan itu. (Baca: Polisi: Pak "Ogah" Tewas akibat Terkena Lemparan Batu Pendemo BBM)

"Kami pastikan korban tewas bukan karena tertabrak, tergilas, atau terlindas mobil rantis (kendaraan taktis) milik petugas kepolisian di lapangan. Dari hasil otopsi, tidak ada tanda korban tertabrak atau terlindas," kata Endi.

Sementara itu, ayah Ary, Abdul Wahab, masih menganggap anaknya tewas tertabrak mobil baja polisi jenis AVC atau water cannon yang memang berada di lokasi bentrokan untuk membubarkan massa. (Baca: "Kenapa Mesti Kau Tabrak Pakai Mobil Polisi? Kasihan Anakku")

"Kenapa mesti kau tabrak pakai mobil polisi? Kasihan itu anakku. Saya mau pelakunya yang membawa mobil polisi itu segera ditangkap dan diadili," kata Abdul Wahab di depan jenazah anaknya.

Sebelumnya diberitakan, bentrokan antara mahasiswa UMI dibantu warga Jalan Pampang menewaskan Ary. Ary ditemukan tewas di lokasi bentrokan dengan luka robek menganga di kepala bagian belakang. (Baca: Demo BBM Kian Anarkistis Pasca-kematian Pak "Ogah")

Category: 

loading...
loading...

BACA JUGA:      

Loading...