9 December 2019

Debat Capres, Suko Sudarso: Jokowi Sangat Lemah, Tak Ngerti Masalah dan Kalah Sudah. Prabowo Menang, Insya Allah, Presiden 2019 Mendatang

KONFRONTASI- Dalam Debat Capres Sabtu (30 Maret 2019), Jokowi sangat lemah, tidak ngerti masalah dan kalah sudah. Sedangkan Prabowo sangat unggul,  Prabowo menang dan paling pantas menjadi presiden 2019 mendatang, pikiran/gagasannya jauh ke depan dan sangat menguasai masalah serta berusaha tak menjatuhkan Jokowi yang sudah kalah dari segi pikiran, gagasan dan sikap kenegarawanan.

Demikian pandangan Suko Sudarso (SS),  seorang tokoh senior nasionalis dan Komandan Barisan Soekarno 1966. Menurutnya, bukan kelas  Jokowi untuk menjadi Presiden negara terbesar di Asia Tenggara ini, Jokowi bukan negarawan tapi politisi bermental pelayan.  ''Dia hanya ngerti hapalan, pikirannya sangat dangkal, dan maaf, kelihatan plonga-plongo, miskin pikiran dan bermental pelayan (Dilan, digital dan melayani), pengetahuannya normatif rendahan, kehilangan pamor, memalukanlah. Tidak pantas jadi presiden, dan kasihan rakyat  yang dulu terlanjur menaruh harapan padanya. Wajar kalau rakyat tak percaya lagi, kecuali  mereka yang mungkin kaum nasionalis gadungan,’’kata SS, pemimpin nasionalis yang juga tokoh GMNI ITB itu.

Sebaliknya, Prabowo tampil menguasai masalah, gagasannya mendasar dan mengerti hakekat kepemimpinan yang berwibawa, berwawasan keadilan sosial, mengerti tugas/kewajibannya untuk mensejahterakan dan mencerahkan/mencerdaskan rakyat . ‘’Dari debat capres-cawapres beberapa kali ini, Prabowo-Sandi  tak mungkin kalah kecuali pilpres tidak jurdil.  Rakyat melihat Prabowo pemimpin mereka, bukan Jokowi yang bermental instrumental sebagai pelayan berdigital,’’ujar SS.

Menurut Suko Sudarso (SS), civil society dan rakyat Indonesia  menghendaki dan mengharuskan Prabowo Subianto melaksanakan tiga  visi-misi dan program Soekarno dan para pendiri bangsa (Founding Fathers and Mothers) yang sangat krusial yaitu:

Pertama, Indonesia Kembali kepada UUD 1945

Kedua, Melaksanakan Reformasi Agraria,

Ketiga, Melaksanakan Trisakti ( Berdaulat di bidang politik, Berdikari di bidang Ekonomi dan Berkepribadian dalam kebudayaan). ‘”Dan semua itu siap dilaksanakan Prabowo, tapi tidak bisa Jokowi karena bukan kelasnya Jokowi yang, maaf ya, tampak plonga-plongo dan tak ngerti masalah,’’imbuh SS. Mengenai tuduhan khilafah ke kubu Prabowo, menurut SS,  itu bau fitnah dan justru jadi bumerang bagi kubu Jokowi yang hampir lima tahun ini tak bisa mengatasi kemiskinan, kebocoran ekonomi, ketimpangan dan ketidakadilan.

Suko Sudarso menekankan, ketiga visi-misi dan program Bung Karno bersama para pendiri bangsa itu disampaikan pada tahun 1945 dan bulan Mei 1948 era kemerdekaan, dan  diartikulasikan kembali oleh  civil society dan rakyat di Surabaya, Sabtu (15/3/2019) sebagai Proklamasi Kedua,   merupakan ‘’suatu  keharusan’’ yang  siap dilakukan oleh Prabowo-Sandi, untuk menyelamatkan bangsa dan negara RI yang sudah tidak dihormati bangsa-bangsa lain.

‘’Mengapa Prabowo Subianto? Karena Prabowo yang dinilai rakyat siap dan mampu  untuk membangun kembali Indonesia sesuai cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 setelah kegagalan Jokowi  dalam ekonomi, defisit gagasan, memecah belah bangsa dan menyakitkan serta membuat Indonesia tidak dihormati bangsa-bangsa lain,’’ kata Suko Sudarso, tokoh senior Nasionalis/Kebangsaan yang konsisten, konsekuen dan persisten. 

Di bawah Jokowi, Indonesia menuju jurang kehancuran, Jokowi tidak becus dan  tidak pantas memimpin lagi, sudah di bawah pengaruh elite penguasa RRC karena Jokowi ngeblok ke China, menumpuk utang lebih seribu trilyun rupiah dari asing/RRC dan kehilangan visi-misi, orientasi dan moralitas karena pembangunanisme Jokowi hanya jadi beban rakyat. Jokowi terbukti gagal mewujudkan negara yang mandiri dan kuat, gagal mewujudkan  keadilan sosial dan kesejahteraan umum, gagal mewujudkan Nawa Cita dan Trisakti, bahkan Jokowi tidak mengerti masalah dan tidak paham/tidak mengerti apa itu Reformasi Agraria, Trisakti dan substansi UUD45.

Demikian pandangan Suko Sudarso, Komandan Barisan Soekarno 1966, pemimpin nasionalis kultural dan tokoh senior  GMNI ITB.  (KF)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...