17 September 2019

Buta Huruf, Functionally Illiterate, Mewabah di Indonesia

KONFRONTASI- Dalam laporan Bank Dunia berjudul : Indonesia Economic Quarterly, June 2018 : "Learning More, Growing Faster" ( PDF, halaman 28 ), disebutkan bahwa : "Menurut tes internasional, lebih dari 55 % orang Indonesia yg menyelesaikan pendidikan, mereka secara fungsional buta huruf ( functionally illiterate )." 

Dalam catatan kaki laporan tersebut, istilah functionally illiterate didefinisikan sebagai : "mereka bisa membaca ( sebuah teks, misalnya ) namun tidak bisa menjawab pertanyaan seputar apa yg dibacanya tersebut." Dijelaskan pula bahwa mereka "tidak dibekali kecakapan2 yg wajib dikuasai agar dapat sukses di pasar tenaga kerja."

Data tersebut diambil dari PISA ( Program for International Student Assesment ) yg disponsori oleh negara2 yg tergabung dalam OECD ( Organization of Economic Cooperation & Development ). Dalam hal ini ada 6 kategori kemampuan membaca dari level 1-6 dalam tes tersebut. Ternyata orang Indonesia yg berada di level 1 ( terendah ) ada 55 % lebih, sementara Vietnam hanya 14 % dan rata2 negara OECD sekitar 20 % saja ...

Jika berdasarkan angka "melek huruf" ( sekedar bisa  membaca ), data BPS tahun 2018 menyebutkan bahwa tingkat buta huruf di Indonesia pada usia produktif ( 15-44 tahun ) tinggal 0.94 %, sedangkan di atas 45 tahun hanya 11.08 %. Angka2 tersebut jauh lebih rendah dari angka fungsional buta huruf ( functionally illiterate ) seperti data yg dihimpun oleh PISA tersebut.

Sebenarnya kenyataan yg mendukung data tersebut memang dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari di negeri ini, meskipun kita perkirakan angkanya tidaklah sebesar hasil assesment oleh PiSA tersebut.

Seorang pakar pendidikan yg diminta memberikan pembekalan untuk 50 anak yatim-piatu di sebuah Panti Asuhan pada bulan Ramadan lalu menyatakan keheranan dan keprihatinannya, ketika mendapati kenyataan : seorang anak bisa hafal ( bahasa Arabnya ) apa yg difirmankan dalam Surat Al-Baqarah 183, tetapi tidak mengerti apa makna ayat tersebut. Mungkin guru agamanya memang menganggap arti iqra secara harfiah adalah "melek huruf"  Al-Quran semata tanpa perlu anak ajarnya mengerti maknanya, apalagi mampu menganalisis simbol2 yg tersembunyi di balik firman-NYA dan bisa mengambil hikmah untuk peningkatan kualitas diri pribadi dan lingkungannya ... 

Fakta yg lain disampaikan oleh seorang Narasumber yg sering memberikan workshop untuk para pejabat Eselon 3 & 4 di berbagai Pemerintah Daerah di  Indonesia. Tidak jarang dalam kesempatan tanya-jawab pada Sesi FGD ( Focus Group Discussion ) ia memperoleh jawaban B ( "tidak nyambung" ) dari peserta untuk sebuah pertanyaan A yg ia sampaikan.  

Banyak lagi fakta yg menunjukkan seseorang bisa "gagal paham", yg sebenarnya lebih disebabkan "malas" atau tidak mau menggunakan akalnya, bukan karena kurangnya kecerdasan yg dimilikinya. Padahal firman-NYA telah menyatakan :

"Katakanlah : 'Apakah sama orang yg berpengetahuan dan tidak berpengetahuan ?' Sesungguhnya hanya orang yg menggunakan akalnya yg dapat menerima pelajaran."
( Q.S. 39 : 9 )

Tidak sekedar berhenti pada masalah buta huruf fungsional, ternyata data tersebut kemudian dilaporkan oleh Bank Dunia terkait dengan topik ekonomi yg menyangkut masalah kualitas tenaga kerja Indonesia yg tidak siap berkompetisi di kancah global karena tidak dibekali dengan kecakapan2 yg wajib dikuasai ...

Pertanyaan yg mendasar adalah : apa yg terjadi dengan sistem pendidikan di Indonesia yg telah merdeka sejak 1945, sehingga bisa kalah dengan Vietnam yg baru bersatu dan mulai membangun setelah usai perang saudara pada 1976 ? 

Bisa jadi salah satu faktor yg mempengaruhi keputusan 33 perusahaan yg keluar dari Cina baru2 ini dan tidak satu pun mau masuk ke Indonesia tapi lebih memilih Vietnam, Malaysia, dan Kamboja untuk berinvestasi, bukanlah sekedar karena pertimbangan  perizinan yg berbelit di berbagai daerah, upah buruh yg mahal, atau peraturan yg tidak konsisten di negeri ini, namun juga mempertimbangkan tingginya angka functionally illiterate dari tenaga kerja Indonesia ...

Kenyataan pahit yg kita alami sekarang hendaknya bisa kita terima dengan sikap introspektif tanpa perlu menyalahkan masa lalu, sebab boleh jadi kita adalah salah satu Anak Bangsa yg turut berkontribusi atas terjadinya hal ini, karena tugas dan tanggung-jawab pendidikan sejatinya terletak di tangan orang-tua, sementara guru dan institusi pendidikan hanyalah sarana pendukung yg turut membantu keberhasilan pendidikan itu sendiri ...

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Senin, 16 Sep 2019 - 20:09
Senin, 16 Sep 2019 - 20:05
Senin, 16 Sep 2019 - 19:59
Senin, 16 Sep 2019 - 19:57
Senin, 16 Sep 2019 - 19:53
Senin, 16 Sep 2019 - 19:46
Senin, 16 Sep 2019 - 19:44
Senin, 16 Sep 2019 - 19:41
Senin, 16 Sep 2019 - 19:39
Senin, 16 Sep 2019 - 19:37
Senin, 16 Sep 2019 - 19:35
Senin, 16 Sep 2019 - 19:32