21 August 2019

Bertahun-tahun mereka bersengketa, Akhirnya Dibawa ke Pengadilan

KONFRONTASI -   Pengadilan Negeri Sidoarjo mengadili kasus yang tidak biasa. Perkaranya perdata, yaitu sengketa antartetangga warga Kelurahan Ketegan, Kecamatan Taman. Pintu rumah Ikrima Bahmid dan Iksan Bahmid ditutup tembok oleh Akif Ismadi Jailani dan Edy Setiawan. Bertahun-tahun mereka bersengketa.

Kemarin (12/7) majelis hakim Pengadilan negeri (PN) Sidoarjo yang diketuai I Ketut Suarta memeriksa objek sengketa. Lokasi persisnya di Jalan Ketegan Barat. Di sana hakim menemukan pagar tembok setinggi 2,5 meter. Panjangnya 39 meter.

Nah, di balik tembok tinggi tersebut ada dua pintu rumah. Nyaris menempel. Dua-duanya tertutup. Penghuninya tidak bisa lewat. Mereka adalah keluarga Ikrima Bahmid dan Iksan Bahmid.

Dua bersaudara tersebut kemudian menggugat Akif Ismadi dan Edy Setiawan. Keduanya menuduh dua tetangga mereka itu telah melakukan perbuatan melawan hukum. Yaitu, membangun tembok pagar. Tembok berada di sisi gang selebar 1,24 meter. Sebelumnya, itulah akses keluarga Bahmid keluar masuk.

Apa yang disengketakan? Ketut enggan berkomentar lebih jauh. ’’Lebih jelasnya silakan bertanya pada para pihak,’’ katanya. Ketut hanya mengatakan, hakim akan memeriksa bukti-bukti yang dimiliki para pihak dalam sidang di pengadilan.

Saat pemeriksaan kemarin, para pihak bersengketa juga hadir. Iksan bersama kuasa hukumnya, Hartoyo. Akif dan Edy juga didampingi pengacara Amir Suyono. Termasuk perwakilan Kelurahan Ketegan. Semua menyaksikan pemeriksaan oleh pengadilan.

Hartoyo, kuasa hukum Ikrima dan Iksan, meminta pagar yang dibangun Akif dan Edy dibongkar. Sebab, pagar tersebut menutup pintu utama rumah kliennya. Untuk Ikrima, aktivitasnya keluar masuk rumah sekarang lewat pintu dapur. Untuk Iksan yang aksesnya jalan belakang tertutup pagar, dia hanya bisa melalui pintu depan.

Upaya perdamaian, kata Hartoyo, sudah dilakukan. Mulai tingkat kelurahan hingga pengadilan. ’’Namun, itu tidak berhasil. Akhirnya berlanjut ke persidangan,’’ ungkapnya.

Di pihak lain, Amir Suyono, kuasa hukum Akif dan Edy, menyatakan bahwa berdirinya tembok yang menutup pintu rumah Ikrima dan Iksan itu tidak lepas dari sejarah masa lalu. Tanah untuk akses tersebut bukan jalan umum. ’’Tapi jalan keluarga. Dibeli keluarga Akif dan Edy untuk jalan keluarga,’’ katanya.

Karena milik keluarga, mereka berhak membangun tembok pagar di jalan tersebut. ’’Ini dibeli dari kakek buyutnya Akif. Beli dari saudara pamannya, yaitu Haji Kurdi,’’ papar Amir. Meski mereka sebelumnya tidak melarang orang lain lewat.

Keputusan Akif dan Edy membangun tembok pada 2016 dianggap tidak menyalahi aturan. Apalagi saat Ikrima dan Iksan membangun rumah dua lantai dan menutup akses. ’’Material membahayakan keluarga di sini. Makanya ditarik garis tembok ini,’’ ucapnya. Material itu berupa bahan bangunan yang digunakan untuk membangun rumah di lantai atas milik Iksan.

Hidup Saling Membutuhkan

Sekretaris Kelurahan Ketegan Samsul Basar menyatakan, sengketa itu berlangsung sejak 3 tahun lalu. Persoalan bermula saat Iksan membangun rumah dua lantai di bagian depan. Saat itu Akif dan Edy mengingatkan dan bertanya soal batas tanah. Menurut mereka, bangunan rumah di lantai dua masuk arah jalan yang diklaim milik keluarga mereka.

Namun, peringatan itu tidak ditanggapi. Akhirnya, Akif dan Edy membangun pagar. ”Kedua pihak sudah kami panggil ke kelurahan,” ucap Samsul. Mereka juga dimediasi. Tapi, upaya perdamaian gagal. Berkali-kali tidak ada hasil.

Samsul berharap persoalan tersebut berakhir dengan solusi yang menguntungkan kedua pihak. ”Mudah-mudahan ada jalan keluar,” katanya. Dia ingin sesama tetangga itu berdamai. Sebab, hidup di masyarakat itu saling membutuhkan.(Jft/JawaPos)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...