27 May 2018

Berantas Terorisme di Indonesia Bukan dengan Cara-cara Amerika

KONFRONTASI - Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengatakan sebanyak r 420 ulama terkemuka di Pulau Jawa dan Sumatera akan menggelar gerakan antiterorisme. Gerakan yang akan dihelat 6 sampai 8 Desember mendatang ini dalam rangka menyoroti cara pemerintah menanggulangi aksi teror selama ini.

"Penanggulangan terorisme saat ini belum komprehensif karena hanya menggunakan pendekatan keamanan, pendekatan yang represif," katanya di Kantor International Conference of Islamic Scholar (ICIS), Jakarta Selatan, kemarin (Rabu, 3/12). 

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam ini menyebut, pemerintah belum berkoordinasi dengan baik melibatkan semua instansi untuk menanggulangi dan mencegah aksi kekerasan. "Memang aparat boleh melakukan tindakan hukum. Tapi pangkalnya belum diberantas. Yang saat ini baru menyentuh hilirnya, sementara hulunya belum. Seperti mindset dan ideologi," ujarnya. 

Sekretaris Jenderal ICIS ini mencontohkan situasi yang berkembang di perguruan tinggi di Indonesia yang sering melahirkan radikalisme. Perkembangan pemikiran radikal tumbuh di fakultas umum ketimbang di fakultas keagamaan. "Kenapa terjadi seperti ini karena mereka yang di fakultas umum haus ilmu agama, dan yang di fakultas agama justru bosan menjadi orang soleh," gurau Kiai Hasyim. 

Untuk itu, gerakan antiteror yang akan dihelat di Pondok Pesantren Al Hikam, Depok, Jawa Barat akan mendatangkan sejumlah kementerian dan lembaga terkait. Yaitu Kementerian Luar Negeri, Kementerian Agama, Badan Intelijen Negara (BIN), Pengurus Besar Nahdatul Ulama bekerjasama dnegan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Bekas teroris juga akan hadir dalam acara tersebut. "Akan mengundang saudara Ali Imron dan Ali Fauzi juga," imbuh Kiai Hasyim. 

Dia berharap, gerakan ini dapat memberi solusi mengenai penanggulangan terorisme yang selama ini tak komprehensif antara para ulama dan pemerintah. "Nanti dibahas pemikiran-pemikiran keagamaan atau kekerasan yang melahirkan terorisme. Tentu ini bukan domain aparat tapi ulama yang moderat yang tahu. Sehingga ada orientasi pikiran yang terpadu antara pemerintah dengan ulama-ulama daerah," ujarnya. 

Yang jelas, Kiai Hasyim ingin pemberantasan terorisme harus yang Indonesiawi, bukan Amerikawi dan baratisasi. Karena itu, dia menegaskan dirinya tidak pernah mau mendapat bantuan dari asing dan Amerika. "Saya tidak akan pernah mau diberi bantuan luar negeri untuk memberantas terorisme. Karena mereka ingin menumpang. Negara kita harus menyaring bantuan-bantuan dari lembaga asing soal ini," tegasnya.[ian/rm]

Category: 
Loading...