19 November 2019

Beda Kasus dan Beda Masalah, antara Jokowi-Prabowo dan Mega-SBY

JAKARTA- Pertemuan Prabowo Subianto dan Joko Widodo menjadi tontotan/tuntunan politik paling menarik jelang pelantikan Presiden 20 Oktober 2014 mendatang. Respons positif muncul dari pertemuan tersebut. NAmun untuk kasus SBY- Megawati jelas beda, sebab masalahnya juga beda. Megawati tersakiti SBY sedemikian rupa karena perilaku dan perbuatan SBY, sementara Prabowo dan Jokowi lebih pada persaingan untuk berlomba kebajikan dan kebaikan bagi bangsa dan negara. Jadi sulit jadi tuntunan politik dalam kasus Mega dan SBY, mungkin sekedar tontonan.

Publik boleh saja bertanya, kapan Megawati Soekarnoputri-Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meniru langkah serupa? Sulit rasanya.

Pertemuan dua puluh menit lamanya antara Prabowo Subianto dan Joko Widodo menjadi antiklimaks dari relasi yang sempat memanas dari dua tokoh ini. Sejak proses Pilpres 2014 lalu, hubungan Prabowo-Jokowi mengalami tensi yang meninggi.

Pernyataan pasemon, sindiran bahkan sarkasme satu sama lain sulit dihindari. Itu dapat dimahfumi, kontestasi pilpres 2014 lalu bisa disebut pilpres paling panas sejak perebutan kursi RI 1 dilakukan secara langsung pada 2004.

Perbedaan politik Prabowo-Jokowi juga termanifestasikan para pendukung di bawahnya baik di kelompok menengah hingga akar rumput. Para pendukung juga meluapkan pilihan politiknya dengan sikap antipati terhadap satu dengan yang lainnya. Kini, setelah pertemuan Prabowo-Jokowi, tak ubahnya pertemuan yang memecahkan kebekuan satu sama lain, tak terkecuali para pendukung fanatik kedua tokoh tersebut.

Pertemuan dua rival politik dalam Pilpres 2014 lalu, mengingatkan kondisi serupa yang menimpa SBY dan Megawati. Bedanya, bekas bos dan anak buah di Kabinet Gotong Royong ini diketahui publik belum melakukan pertemuan secara personal dalam kurun 10 tahun lamanya. Pilpres 2004 lalu. Bila pun ada pertemuan, kedua tokoh tersebut dalam forum besar dan formal.

Upaya untuk menjalin pertemuan kedua tokoh bukan tidak pernah dilakukan. Serangkaian upaya untuk mempertemukan kedua tokoh tersebut terus dijalan. Hingga tokoh seperti Taufiq Kiemas yang juga suami Megawati Soekanroputri juga melakukan upaya yang sama. Namun, 10 tahun lamanya, upaya tersebut belum berhasil.

Pemilihan Pimpinan DPR awal Oktober lalu menjadi momentum mutakhir upaya mempertemukan antara SBY dan Megawati. Namun, lagi-lagi upaya tersebut gagal. Kala itu, SBY mengaku sejak awal menginginkan adanya pertemuan dengan pihak Megawati. "Tetapi memang Tuhan belum mengizinkan," kata SBY pada 1 Oktober 2014 lalu.

Menurut SBY, pertemuan antartokoh penting dilakukan. Menurut dia, pertemuan antarpemimpin penting dilakukan agar suasana politik tidak menjadi gaduh. “Sebenarnya baik, kalau kita saling menyapa. Supaya negara ini tidak gaduh secara politik, tapi itu tidak terjadi, karena satu dan lain hal yang melatarbelakanginya,” kata SBY.

Seperti diketahui, selama pelantikan SBY sebagai presiden selama dua kali pada tahun 2004 dan 2009, Megawati tidak pernah menghadiri pelantikan di Gedung MPR. Sikap keras Megawati ini menjadi pemicu belum terjalinnya komunikasi yang cair antara SBY dan Megawati. [mdr]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...