24 June 2019

Bantah Ishomuddin, Komisi Hukum MUI: Al Maidah 51 Tidak Ada Expired-nya

KONFRONTASI-Komisi Hukum MUI, Anton Tabah Digdoyo mengatakan, pemecatan terhadap KH Ahmad Ishomuddin dilakukan setelah dirinya mengirim pesan Whatsapp kepada Ketua Umum dan Waketum MUI Pusat setelah sidang kasus penistaan agama, Selasa (21/3), malam. Dalam pesannya, Anton menyatakan, dirinya akan keluar dari MUI jika Ishomuddin tidak dipecat.

"Jika tidak dipecat dalam waktu satu bulan ke depan, saya resign dari MUI," ujar Anton seperti dilansir Republika.co.id, Kamis (23/3).

Ishomuddin menjadi saksi ahli agama Islam yang dihadirkan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama dalam sidang tersebut. MUI menilai dalam kesaksiannya, Ishomuddin menyatakan surat Al-Maidah ayat 51 sudah tak berlaku lagi. Padahal, Alquran itu berlaku sejak kenabian Muhammad SAW 15 abad silam sampai hari kiamat.

Anton mempertanyakan dasar pernyataan Ishomuddin bahwa Alquran surat Al Maidah Aya 51 tak berlaku lagi. "Harus ada dasarnya dari Alquran atau Sunah. Semua harus dari penjelasan Nabi SAW," katanya lagi.

Anton yang juga ketua penanggulangan penodaan agama mencontohkan surat Al-Baqarah ayat 62 telah dimansukh (diubah) dengan surat Ali Imron ayat 19, ayat 85, Al Maidah ayat 3, dan Albayyinah ayat 6. Kemudian ditegaskan diberbagai Hadits a.l Hr Muslim juz 1 halaman 93 dan 134 Hadits Ahmad juz 13 halaman 522 juz 14, halaman 361 juz 22, dan halaman 468.

Menurut Anton, hal itu juga sangat jelas ada di Tafsir Ibnu Katsir juz 1 halaman 284 + 285, Ibnu Abas juz 1 halaman 113, dan Zidul Masir juz 1 halaman 74. Semua itu menegaskan surat Al-Bakarah ayat 62 telah dimansukh (mansukhot) dengan surat Ali Imron 19 dan 85 surat Maidah ayat 3 surat Bauyinah ayat 6 dan lain-lain.

Untuk itu, kata dia, ulama tidak boleh ngawur dan tidak asal ngomong dalam menafsirkan Alquran karena harus wajib ada dalil untuk rujukan dari Allah dan Rasul-Nya. Apalagi, kata Anton, Alquran harus dijelaskan Hadits. Ini sesuai wasiat Nabi di akhir hayatnya tentang dua kitab penyelamat dunia akhirat, yaitu Alquran dan Sunah.

"Ulama sekarang sehebat apapun sudah tidak punya otoritas menafsirkan Alquran dengan pendapatnya dengan pikirannya masing-masing, semua wajib merujuk ke hadits dan tafsir yang sudah disepakati," katanya.

Karena itu, Anton mengatakan, Ishomuddin atau siapapun tak boleh menafsirkan Alquran menurut pikiran dan pendapatnya sendiri. Sebab, tafsir surat Maidah 51 sudah sengat jelas dan tegas dan itu berlaku sampai hari kiamat dan tidak ada waktu expired-nya.

Anton mengatakan, apalagi menafsirkan Alquran, menafsirkan Undang-Undang yang buatan manusia saja dilarang denga pikiran masing-masing. Harus minimal dengan tiga kaidah, yaitu konsiderans, batang tubuh, dan penjelasannya. Kalau UU boleh ditafsirkan masing-masing, kata dia, yang terjadi adalah kekacauan di masyarakat.

Menafsirkan Alquran, terutama ayat-ayat krusial itu ada penjelasan dari Rasulullah SAW yang dicatat denga rapi dan rinci oleh para sahabat Nabi. Catatan itu kemudian dibukukan denga rapi pula.

Anton mengatakan, ada berjilid-jilid Hadits dan Kitab Tafsir pascaturunnya wahyu terakhir Al-Maidah ayat 3 yang artinya 'Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu dan Aku sempurnakan pula nikmatKu dan Aku ridho Islam sbgai agamamu.' Karena itu, dengan tegas Nabi berkata "Siapa yang tafsirksn Alquran denga pikirannya atau pendapatnya sendiri maka telah disiapkan tempatnya di neraka".[mr/rol]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Senin, 24 Jun 2019 - 14:22
Senin, 24 Jun 2019 - 14:12
Senin, 24 Jun 2019 - 11:56
Senin, 24 Jun 2019 - 11:49
Senin, 24 Jun 2019 - 11:46
Senin, 24 Jun 2019 - 11:40
Senin, 24 Jun 2019 - 11:33
Senin, 24 Jun 2019 - 11:29
Senin, 24 Jun 2019 - 11:19
Senin, 24 Jun 2019 - 11:16
Senin, 24 Jun 2019 - 11:08
Senin, 24 Jun 2019 - 10:58