22 August 2019

Awas, Resesi Ekonomi Jokowi Ancam Ratusan Ribu Pegawai Negeri RI. Bisa PHK Massal Pegawai Negeri di sini kayak Rusia

KONFRONTASI- Resesi ekonomi yang melanda Indonesia sudah mengkhawatirkan karena Kabinet Jokowi sangat Neoliberal dan tak kompeten. Para analis menilai, para menteri ekonomi kabinet Jokowi terkesan textbook dan kelas Teh Botol, istilah Prof Arief Budiman di era Orde Baru. Teh Botol adalah singkatan  Teknokrat Bodoh dan Tolol. Pelemahan rupiah dan ambruknya ekonomi membuat bangsa ini terpuruk. Di Rusia, resesi membuat ribuan pegawai negeri dirumahkan, di Indonesia? Bisa jadi juga. Artinya, ekonomi buruk era Jokowi bisa akibatkan PHK massal pegawai negeri di sini. Salam gigit jari.

Negeri beruang merah, Rusia, masih terus dibayang-bayangi resesi ekonomi. Karenanya, dibutuhkan sejumlah strategi agar perekonomian Rusia tidak terpuruk. Salah satu strategi yang dijalankan Presiden Rusia adalah penghematan. Yakni, dengan merumahkan sekitar 110.000 Pegawai Negeri Sipil (PNS). akankah Indonesia sperti Rusia kalau terus resesi ekonominya? ''Bisa jadi,'' kata analis ekonomi politik Frans Aba MA, malam tadi.

Pakar ekonomi Australia memperkirakan perekonomian Indonesia akan terus melambat, dari buruk menjadi sangat buruk, di tengah ketidak-percayaan pelaku bisnis terhadap kebijakan Presiden Joko Widodo.

Dalam tulisannya di situs Australian Strategic Policy Institute (ASPI) Strategist, John McBeth menulis pelambatan yang terus memburuk ditandai volume ekspor yang terus merosot dan ambruknya konsumsi domestik. Ekonomi nasionalis, menurut McBeth, adalah penghalang pertumbuhan. Kritik Presiden Joko Widodo di forum Konferensi Asia Afrika memang membuat senang kelompok nasionalis, tapi Indonesia tidak melakukan apa-apa untuk menarik invenstasi asing.

Di era Presiden SBY, pemerintah Indonesia dan Bank Dunia mencanangkan pertumbuhan 5,8 persen. Kini, proyeksi pertumbuhan ekonomi turun antara 5,2 sampai 5,3 persen, dan kemungkinan terus turun dalam beberapa bulan ke depan. Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan Indonesia 4,7 persen pada kuartal pertama, terendah sejak 2009.

Terpengaruh harga komoditas rendah dan pelambatan Tiongkok, ekspor Indonesia periode Mei 2015 turun 15,2 persen year on year, dan hampir dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya. Namun masih ada surplus untuk bulan keenam, karena impor turun 21 persen — sama dengan penurunan 22,3 persen pada April.

Bulan madu politik Presiden Joko Widodo ternyata lebih pendek dari yang diharapkan, karena keretakan hubungan dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan ketidak-mampuannya menghentikan konflik antara polisi dan Komisi anti-Korupsi (KPK).

Pada pekan lalu, Presiden Rusia menandatangani dekrit yang membatasi jumlah staf yang dipekerjakan oleh Kementrian Dalam Negeri menjadi hanya 1 juta orang. Tak ayal, kebijakan tersebut berdampak pada pemutusan kerja besar-besaran atau setara dengan 10%.

Staf administratif yang bertanggung jawab atas pemangkasan anggaran Kementrian Dalam Negeri yang mengontrol polisi Rusia, pasukan keamanan paramiliter, dan institusi keselamatan lalu lintas.

 

Rusia memang memotong anggaran belanja pemerintah sebesar 10% pada tahun ini seiring jatuhnya perekonomian mereka ke jurang krisis terburuk pada beberapa tahun terakhir.

Anjloknya harga minyak dan sanksi yang diterapkan oleh negara-negara barat menjadi pukulan ganda bagi Rusia akibat keterlibatannya dalam krisis Ukraina.

Pada kuartal pertama tahun ini, ekonomi Rusia anjlok 2,2%. Sedangkan Badan Moneter Internasional (IMF) memprediksi ekonomi Rusia akan terkontraksi sebesar 3,8% pada tahun ini dan lebih dari 1% pada 2016.

Sementara itu, pada Juni, angka pengangguran naik ke level 5,4%. Naik ketimbang tahun lalu yang mencapai 4,8%.[mr/kontan]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...