19 May 2019

Analis: Masalah Ekonomi-Sosial Memburuk, Sudah Terlambat, Jokowi Minta Maaflah Pada Rakyat Indonesia

KONFRONTASI- Maukah Presiden Joko widodo minta maaf pada bangsa dan rakyat kita atas kelemahan dan kekeliruannya? Analis sosial Universitas Bung Karno, Muda Saleh menanggapi survei Litbang KOMPAS yang menunjukkan elektabilitas Prabowo-Sandi mengalami kenaikan dan Jokowi merosot terus karena rakyat ingin perubahan, dan pergantian kepemimpinan nasional.

Muda melihat, bahwa saat ini, kondisi ekonomi-sosial memburuk dan pergeseran telah terjadi, dimana masyarkat juga menginginkan adanya kejujuran dalam pemaparan yang dilakukan oleh presiden Jokowi saat debat capres beberapa waktu lalu.

“Ya, harapannya kan presiden bisa memberikan informasi yang jujur, katakan kalau ekonomi kita sedang tidak sehat, apalagi soal kebakaran hutan, itu paling fatal, jelas-jelas kebakaran hutan sedang berlangsung, bahkan darurat siaga, dan Riau itu sampai sekarang masih diselimuti asap tebal, inikan bisa dikatakan manipulatif informasi,” tegasnya.

Menurutnya, yang terjadi saat ini adalah fenomena perkembangan pola fikir masyarakat Indonesia yang mulai memahami kondisi yang terjadi saat ini.

Adapun menurutnya, saat ini masyarakat berharap dengan adanya perubahan mutlak di Indonesia , tanpa dilakukan berbagai macam rekayasa informasi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah.

“Saya sangat menyayangkan, apa yang terjadi saat inikan , dikatakan semua baik-baik saja, entah itu ekonomi, sosial, angka kemiskinan dan bahkan survei-survei yang merujuk pada penilaian Jokowi-Ma’ruf, kebanyakan bunga-bunga,” ujarnya, saat dihubungi melalui ponselnya, siang ini.

Melihat fenomena yang terjadi saat ini, Muda menilai, rakyat Indonesia sudah pintar dalam memahami sejumlah program yang diberikan oleh Jokowi. “Kartu sakti Jokowi, baik itu KIS,KIP, KKS, juga ada kartu Pra Kerja, dan Kartu Sembako Murah, ini tidak akan mempan, karena apa? Karena sifatnya sementara, justru ini akan membuat masyarkat kita kecanduan ‘bantuan’ dan ini berdampak buruk terhadap mental bangsa kita, terlebih dilakukan pada saat jelang Pilpres,” tegasnya lagi.

Muda juga menyindir petinggi partai politik yang ditangkap KPK, karena kasus suap, terlebih ketum parpol tersebut merupakan koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. “Di Sektor yang sudah saya jabarkan di atas jelas, banyak terjadi kesalahan, ini ditambah lagi ketum parpol yang ditangkap, kondisi ini menunjukkan bahwa siapa dan kelompok mana yang sebetulnya menebar kesalahan informasi tentunya menambah masalah bagi Jokowi. Ketum Parpolnya, menterinya, kepala daerah yang dicokok KPK, ini kan memperlihatkan bahwa segitu buruknya pemerintah di era kepemimpinan Jokowi,” sambungnya.

Jika dalam waktu dekat Jokowi ingin memperbaiki sistem dan penyampaian informasi kepada masyarkat tentang kebenaran yang terjadi di Indonesia saat ini, Muda menegaskan, hal tersebut akan sia-sia, karena menurutnya yang terjadi hari ini adalah ‘bola salju’ yang bergulir dari tahun ke tahun yang disimpan oleh masyarakat.

“Sudah terlambat, Pak Jokowi senang dengan laporan bunga-bunga, masyarakat kita sudah bergeser, tak lagi suka dengan ‘ketokohan’ melainkan visi dan misi yang membangun peradaban, ekonomi dan sistem yang juga membangun Indonesia lebih baik, satu saja yang paling pas dilakukan oleh Jokowi.. yaitu meminta maaf kepada bangsa Indonesia,” tutupnya.

Sebagai informasi, dimana hari ini survei terbaru Litbang Kompas pada 22 Februari 2019-5 Maret 2019 menunjukkan penurunan elektabilitas pasangan calon Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Sebaliknya, elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengalami kenaikan.

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dalam survei terakhir Litbang Kompas berada di angka 49,2 persen, Prabowo-Sandiaga 37,4 persen, dan 13,4 persen responden lainnya menyatakan rahasia. Selisih suara di antara kedua pasangan menyempit menjadi 11,8 persen.

Pada survei Litbang Kompas sebelumnya, Oktober 2018, perolehan suara keduanya masih berjarak 19,9 persen dengan keunggulan suara di pihak Jokowi-Ma’ruf. Saat itu, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 52,6 persen, Prabowo-Sandiaga 32,7 persen, dan 14,7 responden menyatakan rahasia. “Bersandar pada kedua periode hasil survei itu, dapat dikatakan momentum penguasaan politik enam bulan terakhir cenderung mengarah pada Prabowo-Sandi,” tulis peneliti Litbang Kompas, Bestian Nainggolan, seperti dikutip dari harian Kompas, Selasa (20/3/2019). (ham)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...