20 November 2018

Amien Rais, Prabowo dan SBY Harus Ngukur dan Realistis: Siapa yang Bisa Menggilas Jokowi?

KONFRONTASI- Umat Islam pecah belah, tak solid. Zamannya zaman besar, dengan masalah dan tantangan besar bagi NKRI yang dirundung krisis ekonomi dan kemiskinan massal era Jokowi-JK.  Dan di antara Jokowi vs Prabowo, muncul kuda hitam Rizal Ramli (RR) yang dalam debat capres pasti menggilas habis Presiden Jokowi, si petahana. Prabowo, Amien Rais dan SBY harus menimbang kuda hitam Rizal Ramli yang mudah menggilas Jokowi dalam debat Pilpres, karena Prabowo sendiri dalam debat capres mudah terpancing emosi menghadapi Jokowi dan mudah terpelanting keteteran di hadapan Jokowi dengan menuding kekayaan Indonesia dibawa asing dan aseng, bocor sana-bocor sini, yang diulang-ulang dan tidak ada terobosan solusi persoalan. Yang bisa mengalahkan Jokowi itu Rizal Ramli (bukan Anis Baswedan yang prestasiny di DKI masih diuji rakyat) dalam debat Pilpres menyangkut isu ekonomi, politik dan strategis lainnya, sehingga swing voters  30%  lari memihak ke RR, nah kalau Jokowi sampai menggandeng RR sebagai cawapres di Pilpres 2019, maka   tamatlah kubu Prabowo-SBY.

Demikian pandangan Deputi Direktur Freedom Foundation Muhamad Muntasir Alwy (alumnus Fisipol UGM) dan  Reinhard MSc, analis politik-ekonomi  dari the New Indonesia Foundation yang juga peneliti independen di Bung Karno Institute

Hasil gambar untuk sby pks

Terkait pilpres 2019, PKS (Partai Keadilan Sejahtera) harus sadar diri bahwa dia  jadi beban dan masalah besar bagi partai nasionalis (kebangsaan) seperti Gerindra  Prabowo dan Demokrat SBY, oleh karena itu cawapres Gerindra tidak usah dari PKS agar bisa menang.  Cawapres dari PKS akan membuat Koalisi Gerindra-Demokrat kalah dan hancur karena pasti ditinggal  warga NU dan Muhammadiyah. Ancaman PKS agar Prabowo memilih cawapres dari PKS itu tidak masuk akal, buruk,  fait accompli dan  hanya mendulang kekalahan di Pilpres 2019.  PKS itu liabity  alias beban hutang, bukan asset bagi partai nasionalis  (kebangsaan) seperti Gerindra dan Demokrat dalam melawan kubu Jokowi.

''PKS itu mau mengabdi pada bangsa dan negara atau sekedar merebut kekuasaan dan uang semata dengan meminta cawapres dari PKS atau capres dari PKS? Itu konyol, sebab nyaris  tak ada yang mau memilih capres/cawapres PKS dari warga NU dan Muhammadiyah,'' kata kedua analis itu secara terpisah.

Hasil gambar untuk PKS, prabowo, sby

 

‘’Tidak ada sejarah partai Islam menang di negeri ini, kecuali Masyumi, dan itupun di masa lalu ketika era Perang Dingin 1950-an. Kini dunia sudah berubah dan Partai Islam model PKS sudah dijauhi rakyat dan kaum Muslim inklusif  maupun Islam pluralis,’’ ujar Reinhard.

Menurutnya, PKS dan Gerindra Prabowo masih berunding model ‘’inch by inch negotiation’’, juga PKS dan Demokrat  SBY masih  berunding ‘ ’inch by inch negotiation’’ karena mereka itu hanya  mengutamakan kepentingan sempit, pragmatisme-oportunisme, mementingkan uang dan kekuasaan, bukan komitmen bagi bangsa dan negara untuk memperbaiki sosial- ekonomi dan kondisi bangsa yang dicabik-dirobek isu  SARA dan ketidakadilan serta ketimpangan.

Bagi PKS, Cawapres Harga Mati untuk Prabowo

Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria menyatakan, partainya belum bisa menentukan calon wakil presiden (cawapres) pendamping ketua umumnya, Prabowo Subianto, pada Pemilu 2019. Hal itu disampaikan Riza menanggapi permintaan PKS yang mensyaratkan kadernya dipilih menjadi cawapres dalam koalisi untuk mengusung Prabowo sebagai calon presiden (capres). Ia mengatakan, Gerindra belum bisa memastikan soal cawapres karena akan dibicarakan terlebih dahulu dengan partai lain yang nantinya akan berkoalisi.

"Kami pahami, mengerti dan menghormati apa yang jadi permintaan dan harapan PKS. Pasti kami perhatikan. Tapi juga harus hargai partai lain agar koalisi lebih besar," kata Riza.

Hasil gambar untuk muhammad muntasir

Muhamad Muntasir Alwy

''Sejauh ini nama Prabowo, Rizal Ramli  (kuda hitam) dan Jokowi  masih  tokoh utama pilpres yang harus diperhitungkan rakyat. Kubu Jokowi maupun Prabowo-SBY menang kalahnya tergantung sosok Rizal Ramli masuk kubu siapa, jadi capres atau cawapres siapa sebab masalah ekonomi sudah meresahkan rakyat banyak dan RR adalah tokoh yang mampu mengatasi problem ekonomi kronis dewasa ini, '' kata analis Muntasir Alwy dan Reinhard

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan kembali menggelar pertemuan. Namun Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan menegaskan, pertemuan ketiga SBY-Prabowo sepanjang Juli itu tak akan sampai ke pengumuman koalisi. "Enggak ada, tidak ada pengumuman koalisi (Gerindra-Demokrat)," ujarnya kepada Kompas.com, Jakarta, Minggu (29/7/2018). Syarief juga mengatakan, karena belum ada pengumuman koalisi bersama pada Pilpres 2019, maka Demokrat-Gerindra belum akan sampai ke penentuan capres dan cawapres. "Itu juga belum, belum sampai kesitu," kata dia.

 

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto akan kembali menggelar pertemuan. Namun Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan menegaskan, pertemuan ketiga SBY-Prabowo sepanjang Juli itu tak akan sampai ke pengumuman koalisi. "Enggak ada, tidak ada pengumuman koalisi (Gerindra-Demokrat)," ujarnya kepada Kompas.com, Jakarta, Minggu (29/7/2018). Syarief juga mengatakan, karena belum ada pengumuman koalisi bersama pada Pilpres 2019, maka Demokrat-Gerindra belum akan sampai ke penentuan capres dan cawapres. "Itu juga belum, belum sampai kesitu," kata dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "SBY-Prabowo Bertemu, Demokrat Pastikan Tak Ada Pengumuman Koalisi ", https://nasional.kompas.com/read/2018/07/29/11081741/sby-prabowo-bertemu-demokrat-pastikan-tak-ada-pengumuman-koalisi.
Penulis : Yoga Sukmana
Editor : Sabrina Asril

.(KF/sumber2)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...