21 October 2019

Ahmad Sahal: Islam Nusantara itu untuk Melindungi Islam dari Arabisasi !

KONFRONTASI -- Pembelaan dan pembenaran terhadap gerakan 'Islam Nusantara' terus terjadi di bumi pertiwi. Apakah 'Islam Nusantara' ada hubungannya dengan 'Jaringan Islam Liberal' ? Inilah yang membuat publik curiga. Pasalnya ada banyak aktivis Islam liberal yang membenarkan hadirnya Islam Nusantara di tanah air.

Ada yang mengatakan bahwa hadirnya 'Islam Nusantara' merupakan respon dari upaya arabisasi atau percampuran antara budaya Arab dengan ajaran Islam.

Mereka beralasan ajaran Islam diturunkan Allah Subhanahu Wataala melalui Rasulullah Muhammad tidak hanya untuk satu bangsa saja, melainkan bersifat universal ditujukan kepada seluruh umat manusia apapun suku dan bangsanya dia berasal, rahmatan lil alamin.

Adalah Pendiri Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Amerika Serikat Ahmad Sahal yang juga aktivis Islam liberal mempunyai anggapan Islam nusantara tidak bermasalah secara akidah, menurutnya akidah Islam nusantara tetaplah Tauhid sebagaiman esensi yang ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad. Sedangkan arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam.

" Justru wacana Islam nusantara itu untuk melindungi Islam dari Arabisasi, dengan memahaminya secara kontekstual," ujar Sahal lewat alun twitter-nya @sahaL_AS, Rabu (27/5), dilansir Republika (28/5).

Kandidat PhD Universitas Pennsylvania Amerika Serikat ini juga menjelaskan bahwa Islam nusantara merupakan bagian dari aspek muamalah dalam Islam.

Sedangkan muamalah termasuk pada bagian dari ibadah ghoiru mahdloh atau ibadah yang diperbolehkan selama tidak ada dalil yang melarangnya secara jelas."Tauhid aqidahnya ya Islam. Nusantara itu aspek muamalah dan budayanya," imbuhnya.

Berbeda dengan Sahal, salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) KH Hasyim Muzadi lebih memilih istilah Islam "rahmatan lil'alamin" dari pada Islam Nusantara.

" Islam 'rahmatan lil'alamin' (rahmat bagi seluruh alam) itu lebih autentik karena tercantum dalam Alquran sehingga tidak salah lagi," kata mantan Ketua Umum PBNU itu dalam perbincangan dengan Antara di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Kamis, masih dilansir Republika.

Lanjut, Tokoh NU itu menceritakan dirinya pernah diajak oleh PM Malaysia kala itu Abdullah Badawi untuk bergabung atau mendukung dengan Islam Hadlori (berkemajuan), tapi tidak mau karena Islam sendiri memiliki istilah yang lebih pas dan tidak dibatasi oleh sekat-sekat wilayah.

" Kalau Islam Nusantara, nanti di Singapura saja sudah tidak diterima. Menggunakan nama lokal atau nasional saja nanti yang lain tidak tercakup. Nanti ada Islam Amerika, Islam Manila dan lainnya. Kalau Islam rahmatan lil'alamin paling jitu," kata pengasuh Pesantren Al Hikam itu.

Sampai tulisan ini diturunkan, perdebatan tentang 'Islam Nusantara' memang belum berakhir, pro dan kontra kerap terjadi. Bisa di bilang aliran atau paham 'Islam Nusantara' lahir pada era Jokowi menjadi Presiden. [bbcom/41]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...