18 November 2018

Aduh, Nilai Tukar Rupiah bisa Tembus Rp15.000/Dolar AS

KONFRONTASI-Nilai tukar Rupiah bisa menembus level Rp 15.000 per Dolar AS dan bisa mengulangi krisi ekonomi 1998. Hal terjadi karena pemerintah tidak menjadi leader di bidang ekonomi.

Hal tersebut diungkapkan Pengamat Pasar Modal sekaligus Plt. Direktur Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) pada acara Jumarsip di Wedangan 200 Jl Fatmawati 200, Jakarta Selatan, Jumat (15/05/2015).

“Pertumbuhan ekonomi tidak sebaik yang kita targetkan. Problem adalah karena pemerintah tidak menjadi leader dalam bidang ekonomi,” tegas Adler.

Lebih lanjut diungkapkan Adler secara finansial, Indonesia cukup bermasalah. Lantaran, obligasi yang diterbitkan pemerintah senilai mencapai Rp 1000 triliun, sebanyak 50 persen dikuasai asing. “Ini akan menjadi bom waktu, karena semua dibiayai asing,” tambah Adler.

Selain itu, sektor impor ekspor kita juga dikuasai asing dan di pasar modal juga dikuasai asing. “Kalau semuanya keluar dari Indonesia, maka akan terjadi seperti 1998. Transaksi saham negatif karena dikuasai asing. Defisit APBN digaet utang, dengan bond yang dikuasai asing,” lanjut Adl

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis total impor April 2015 mengalami kenaikan sebesar 0,16 persen dibandingkan periode Maret 2015. Padahal, ekspor April mengalami penurunan ke USD13,08 miliar

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menyebutkan total impor April 2015 mencapai USD12,63 miliar. "Impor capai USD12,63 miliar, naik 0,16 persen dibanding Maret 2015," ungkapnya di gedung BPS, Jumat (15/5).

Dia menyebutkan, untuk periode April, impor migas mengalami kenaikan sebesar 3 persen, sementara untuk impor sektor non migas turun 0,46 persen. "Jika dibanding impor April 2014 sebesar USD16,26 miliar, impor turun 22,31 persen, ini disebabkan penurunan harga migas yang tajam," katanya.

Untuk total impor periode Januari hingga April 2015 sebesar USD49,36 miliar turun 17,02 (yoy). Impor non migas Januari hingga April 2015 mencapai USD40,92 miliar atau turun 8,64 persen (yoy). "Share terbesar impor untuk mesin dan peralatan mekanik sebesar USD7,72 miliar, mesin dan peralatan listrik USD5,27 miliar," tukasnya.(FN-04)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...