24 January 2018

Tegakkan Kepalamu! Hadapi Tantangan

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim


Tak ada alasan untuk mengeluh. Jika kamu merasa kesulitan, itu karena belum menemukan cara untuk mengerjakan apa yang menjadi tugasmu. Jika kamu merasa berat, itu karena belum terbiasa. Jika kamu menjalaninya dengan sungguh-sungguh, bersama satu kesulitan, pasti ada kemudahan-kemudahan. In every single difficulty, there are many eases.

Berat-ringannya tugas seringkali bukan dari banyaknya tugas yang harus kita selesaikan, juga bukan karena rumitnya persoalan yang mesti kita selesaikan. Tetapi ini sangat terkait dengan ada tidaknya kesungguhan dalam hati kita, semangat untuk menjalaninya dan tidak merasa lemah. Lihatlah para pendaki gunung yang ingin menaklukkan berbagai route yang sulit dan terjal, adakah mereka mengeluh meskipun tangannya sampai berdarah-darah untuk mencapai puncaknya? Tidak ada. Mengapa? Karena mereka bersemangat. Mereka juga merasa bahwa apa yang dilakukannya sangat berharga. Begitu pula tugas kalian! Apakah yang ingin engkau capai dengan perjalananmu dari rumah dan menghabiskan waktu di sekolah? Jika tidak ada tujuan yang kuat, masa-masa belajar akan terasa sangat berat. Tetapi jika engkau memiliki tujuan yang sangat besar, jelas dan engkau merasa itu sangat berharga, maka waktu di sekolah penuh makna; masa-masa di ma’had (pesantren) menjadi masa yang penuh arti.

Jika di dadamu ada semangat yang menggebu, menjalani yang berat akan terasa nikmat. Bukan tak sakit ketika orang terluka tangannya saat berusaha memanjat tebing, tetapi besarnya semagat membuat sakitnya terkalahkan. Kita menikmati jerih-payah itu. Tangan mungkin perih untuk beberapa saat, tetapi kita merasakan kebahagiaan, menemukan nikmatnya perjuangan. Padahal ini baru untuk sesuatu yang sederhana.

Di antara pengalaman hidup yang sangat berkesan bagi saya adalah masa ketika harus berjalan kaki sejauh 6 kilometer tanpa penerangan listrik, dua kali dalam seminggu. Untuk apa? Belajar bahasa Inggris. Saya mengikuti kursus bahasa Inggris yang dilaksanakan malam hari. Berangkatnya kadang membonceng teman atau orang yang lewat, tetapi pulangnya sering jalan kaki. Jika bulan sedang purnama, jalanan lumayan terang. Tetapi jika cahaya rembulan tak muncul, gelap gulita sepanjang enam kilometer jalan kaki, kadang disertai udara dingin menggigil. Sempurnalah dingin itu ketika hujan pun turun, sedangkan mantel tak ada. Tetapi apakah ini sebuah derita? Tidak. Inilah yang justru semakin mengobarkan kesungguhan.

Capek? Iya. Tetapi capek karena berusaha lebih mudah reda dengan istirahat sejenak saja. Sesungguhnya istirahat di saat kita benar-benar sangat memerlukan, akan terasa sangat nikmat. Tidak perlu waktu lama. Sangat berbeda apabila kita hanya bermalas-malasan. Berbaring lama pun tak menghilangkan penat, justru semakin membuat kita berat untuk melangkah.

Tugas kita berjuang sekuat tenaga; bersungguh-sungguh dalam urusan apa pun yang bermanfaat. Bukan hanya apa yang kita senangi. Kita memeras keringat dan menyingkirkan rasa malas. Seandainya tantangan itu seberat Jabal Uhud atau lebih besar lagi, kita tidak merasa berat dan gemetar oleh besarnya tantangan itu jika ada kesungguhan.

Tugas kita berusaha dengan sungguh-sungguh, meminta pertolongan hanya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, memperbaiki cara kita dan tidak membiarkan diri kita sibuk berandai-andai tentang apa yang sudah terjadi karena ini merupakan pintu masuknya setan. Meratapi masa lalu dengan sibuk berandai-andai akan membuat kita lemah dan putus asa. Padahal tugas kita adalah berusaha, semaksimal mungkin, sekuat yang kita sanggup melaksanakannya. Adapun hasil, itu sepenuhnya merupakan kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla untuk menentukan. Ada usaha yang tampaknya tidak berhasil, tetapi jika engkau bersungguh-sungguh melakukannya karena mencari ridha Allah Ta’ala, tidak surut langkah karena putus asa, maka usahamu akan bernilai sangat tinggi di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Ingatlah ketika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ ﺍﻟْﻘَﻮِﻯُّ ﺧَﻴْﺮٌ ﻭَﺃَﺣَﺐُّ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﺍﻟﻀَّﻌِﻴﻒِ ﻭَﻓِﻰ ﻛُﻞٍّ ﺧَﻴْﺮٌ ﺍﺣْﺮِﺹْ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻚَ ﻭَﺍﺳْﺘَﻌِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻌْﺠِﺰْ ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﻚَ ﺷَﻰْﺀٌ ﻓَﻼَ ﺗَﻘُﻞْ ﻟَﻮْ ﺃَﻧِّﻰ ﻓَﻌَﻠْﺖُ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ . ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻗُﻞْ ﻗَﺪَﺭُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﻓَﻌَﻞَ ﻓَﺈِﻥَّ ﻟَﻮْ ﺗَﻔْﺘَﺢُ

ﻋَﻤَﻞَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing berada dalam kebaikan.
Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu merasa lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah: ‘QadaruLlah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan ini dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Ahmad, Muslim, dan yang lainnya).

Apa pelajaran yang dapat kita ambil? Bersungguh-sungguhlah. Hirsh itu ada di dada kita. Penuh semangat kita melakukan untuk urusan apa pun yang bermanfaat. Bukan hanya yang kita menyukainya. Sungguh, kesibukan kita dengan hal-hal yang bermanfaat dan bersungguh-sungguh terhadapnya akan menjauhkan kita dari urusan yang sia-sia dan membinasakan.

Kemudian, mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala; hanya kepada Allah Ta’ala. Kita meminta pertolongan agar urusan kita dimudahkan. Kita mengharap pertolongan agar yang kita kerjakan membawa kebaikan, sebab ada kalanya sesuatu yang tampak baik di dalamnya terkandung keburukan. Kita meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala juga agar kita terselamatkan dari menyombongkan diri kepada-Nya karena merasa diri cukup sehingga (seolah) tak memerlukan pertolongan.

Adakah orang yang menyombongkan diri kepada Allah Ta'ala? Ada, yakni mereka yang tidak mau berdo'a, memohon kepada-Nya.
Kita juga menjauhi berandai-andai atas apa yang sudah berlalu. Ini merupakan pengandaian yang tercela. Adapun pengandaian yang baik kita jumpai, misalnya dalam sabda Nabi shallaLllahu ‘alaihi wa sallam mengenai shiddiqun niyah; seorang berandai-andai dengan kekayaan yang ia sangat berkeinginan kuat untuk mengerjakan amal shalih dengan kekayaannya.

Sesungguhnya tidak ada usaha yang sia-sia jika kita melakukannya dengan niat yang ikhlas, cara yang benar dan penuh kesungguhan. Jika kita menjumpai kesulitan, sesungguhnya bersama satu kesulitan ada berbagai kemudahan. Hanya dengan menghadapi kesulitan itu, menempuhnya, maka kita akan menemukan berbagai kemudahan. Tetapi menghindarinya akan membuat kesulitan semakin bertumpuk, sehingga ketika orang lain seusia kita telah menganggapnya mudah, kita masih kesulitan atau bahkan semakin sulit mengerjakannya. Karena itu, tak ada pilihan lain kecuali bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu. Inilah yang akan membawa kebaikan bagimu dan membahagiakanmu.
Sungguh, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau telah mengajarkan kepada kita agar bersungguh-sungguh.

Jadi, tunggu apalagi? Singkirkan malasmu! Singkirkan sekarang juga.

Penerbangan Garuda Indonesia, Balikpapan - Jakarta, 18 November 2017 seusai membaca canda tentang ketegaran tiang listrik. Dan sungguh yang kita perlukan adalah generasi muda yang tangguh. Bukan sekedar canda.⁠⁠⁠⁠

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...