25 February 2020

Tasybik atau Menjalin Jari-Jemari Saat Hendak Melaksanakan Shalat, Apa Hukumnya?

KONFRONTASI -   Salah satu etika ketika menunggu shalat di masjid, yaitu dilarang menjalin jari-jemari. Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadits Abu Hurairah  bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ ، فَلَا يَقُلْ هَكَذَا ” وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِع

“Apabila salah seorang dari kalian berwudhu di rumahnya kemudian mendatangi masjid, ia berada dalam shalat hingga ia kembali, maka jangan melakukan seperti ini, beliau menjalinkan jari-jemari beliau (satu sama lain).’” (HR. Darimi dan Al-Hakim)

Al-hakim berkata, “Hadis ini shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim.” Pernyataan Hakim ini disetujui Adz-Dzahabi. Albani menyatakan, “Pernyataan Hakim ini benar.” (Al-Irwâ`, II/102)

Dari Abu Tsumamah Al-Hannath, Ka’ab bin Ajrah berpapasan dengannya saat hendak ke masjid, ia menuturkan, “Ia melihatku tengah membelitkan jari-jemari satu sama lain, lalu ia melarangku melakukan hal itu dan berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian berwudhu dengan baik, kemudian keluar menuju masjid, maka janganlah menjalinkan kedua tangannya, karena ia tengah shalat.’” (HR. Abu Dawud)

Hadits ini dan hadits sebelumnya menunjukkan larangan menjalinkan jari-jemari saat berjalan menuju masjid untuk shalat, karena ketika sedang berjalan menuju masjid, hukumnya sama seperti orang shalat.

Al-Khathabi menjelaskan, “Tasybîkul yadd artinya menjalinkan jari-jemari satu sama lain. Ini kadang iseng yang dilakukan sebagian orang. Ada juga yang melakukan hal ini untuk membunyikan jari-jari tangan. Kadang ada juga yang membelitkan jari-jari, merangkul lutut dengan kedua tangan untuk beristirahat, dan kadang membuat orang mengantuk, sehingga bisa membatalkan wudhu. Untuk itu, siapa pun yang bersuci (baca: berwudhu) di rumah kemudian keluar menuju masjid untuk shalat, jangan menjalinkan jari-jari tangan satu sama lain, karena semua perbuatan ini sama sekali tidak  sesuai dengan shalat, dan tidak patut dengan kondisi orang shalat. (Ma’âlimus Sunan, I/295)

Secara dhahir, hadits di atas menunjukkan larangan melakukan tasybik (menjalin jari-jemari) ketika seseorang berwudlu, keluar menuju masjid, menunggu shalat ditegakkan, hingga shalat ditunaikan.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, ”Hukum Menjalin jari-jemari adalah makruh ketika ia keluar bejalan menuju masjid. Sementara Ketika ia sudah berada di dalam masjid maka hukum makruh-nya akan bertambah, sama ketika ia shalat dilaksanakan kemakruhan itu pun semakin keras.” (Syarhul-‘Umdah, hal; 601)

Namun disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu tentang kisah Dzul Yadain terkait sujud sahwi, “Lalu beliau berdiri menghampiri sebuah kayu yang terlentang di masjid, beliau bersandar padanya, sepertinya beliau marah, beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan menjalinkan jari-jari beliau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)(Jft/Kiblat)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...