19 February 2020

Sungguh Luar Biasa Kekuatan Zikir.

KONFRONTASI - SAUDARAKU. Suatu waktu ditakdirkan berangkat umrah, saya mencoba menafakuri amalan tawaf. Tawaf merupakan ibadah yang paling bercampur antara laki-laki dan perempuan.

Kalau salat masih ada hijab serta lelaki di depan dan wanita di belakang, tetapi tawaf tidak bisa. Terlebih ketika jamaahnya sedang padat. Lawan jenis bisa berada di depan, di belakang, di samping kiri dan kanan.

Apalagi saat sedang mengenakkan pakaian ihram yang serba terbatas itu, laki-laki hanya bermodal dua helai kain. Tapi mengapa tetap aman-aman saja? Tidak terjadi pelecehan seksual. Juga tidak ada pertengkaran dan perkelahian, padahal terdapat aneka suku bangsa yang berbeda adat istiadat dan latar balakang.

Kata kuncinya adalah semuanya berzikir kepada Allah. Jadi, dalam tawaf itu semuanya berkonsentrasi mengingat Allah. Ada yang berdoa, berzikir, bertasbih, bertahmid, bermunajat, dan tilawah al-Quran. Semua fokus hanya kepada Allah.

Sehingga tidak tergoda walaupun lawan jenis yang bukan muhrim begitu dekat. Tertabrak atau tersikut tidak jengkel, kaki terinjak tidak membalas menendang. Sungguh luar biasa kekuatan zikir. Kadang semakin kencang terjepit di antara kepadatan itu, malah semakin kuat pula berzikirnya.

Seperti buah terpenting dari ramadhan adalah hati yang tidak lepas dari Allah. Karena selama ramadhan kita dilatih untuk terus-menerus ingat kepada Allah. Misalnya saat hendak berbuka kita disiplin luar biasa. Kita tetap tidak mau berbuka meski satu menit sebelum azan. Ingat kepada Allah itu kekuatan yang dahsyat.

Nah, saudaraku. Jadi, zikirlah sebetulnya yang harus kita kuatkan. Ketika kita berdoa minta diberi istiqamah, maka istiqamah pertama yang mesti kita mohonkan adalah istiqamah zikrullah.Dan"ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. ar-Rad [13]: 28).

Ketenangan hati merupakan kekuatan dahsyat untuk menjalani hidup yang padat, pengap dan hiruk-pikuk ini. Dengan ingat kepada Allah kita menjadi tidak tergoda pada gemerlap dunia yang sangat sementara. Terhadap aneka perbedaan kita tidak mudah tersinggung, bertengkar, berkelahi, atau balas-balasan menginjak kaki.

Dengan hati tersambung kepada Allah, kita tidak gelisah terhadap urusan dunia. (Bukan terhadap urusan akhirat, karena gelisah untuk urusan akhirat itu baik). Entah karena melihat makhluk maupun merasakan suatu kejadian, tidak ada galau, resah atau waswas. Takut dan harap kita hanya kepada Allah SWT.

Jadi, ayo saudaraku! Kita mohonkan istiqamah zikrullah, dan kita ikhtiarkan. Sekeras apa pun ujian hidup yang dirasakan, tetap hanya kepada Allah kita mengadukan kepahitan atau kesusahan. Semoga kita selalu diberi-Nya hati yang tenteram di tempat singgah ini.(Juft/Inilah)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...