16 November 2019

Setetes Hidayah "Yang Paling Berjasa Aku Masuk Islam Adalah Injil

KONFRONTASI -  Mengelilingi wilayah bumi pertiwi Indonesia bukanlah cita-citaku sejak kecil. Tanpa dana yang memadai, aku dapat kesempatan melakukannya. Semuanya demi meraih impian sejati nan abadi.

Segala sesuatu yang berhubungan dengan keyakinan maupun prinsip hidup memang perlu kita pikirkan sebelumnya. Bukankah Allah swt. menginginkan makhluk-Nya agar berfikir sebelum memutuskan sesuatu dan berusaha meraihnya sekuat tenaga? Begitu pula dalam mencari kebenaran, apalagi kebenaran keyakinan atau agama. Wajar bila pahit dan manis turut menyertai dalam proses pencarian kita. Sebagaimana romantika hidup dan proses pencarian kebenaran yang dilakukan oleh H. Agus Slamet. Berikut pengakuannya kepada Lukman Hakim dari Majalah Hidayah

PENDETA ANAK DAN REMAJA
Sejak kecil namaku Agus Slamet. Nama Tionghoaku Na Peng An. Waktu aku masih dikandungan, orang tuaku tinggal di Jakarta. Entah kenapa, 28 Agustus 1962 aku malah menangis untuk pertama kalinya dan mengenal dunia di Jawa Tengah. Barangkali sudah jadi keputusan Yang Maha Kuasa aku lahir di Brebes. Kurang lebih 40 hari kemudian, aku dibawa kembali ke Kota Metropolitan.
Aku anak tunggal. Ayahku, Na Tju Yang, pria Tionghoa yang menjadi tokoh agama Budha dan punya toko besi. Ibuku, Suna- ri, perempuan asli Brebes yang membuka usaha cater- ing dan penganut Islam Kejawen. Memang beliau menyebut dirinya orang Islam, namun dalam pelaksanaan kesehariannya tidak menampakkan diri sebagai muslimah. Ayah tahu banyak tentang ajaran agama Budha, sementara ibu sangat minim sekali wawasan religiusnya. Ketika aku berumur 9 tahun, ayah meninggal dunia dan aku tidak sempat berdialog dengannya.

Kedua orang tuaku tidak begitu peduli dengan agama yang kupegang kelak. Me- ieka membebaskannya. Ka- rcna itulah aku mesti men- i ari keyakinan sendiri. Pendidikan TK (Taman Kanak- Kanak) aku jalani di sekolah Katolik. Karena saat itu
agama yang ditawarkan cuma Katolik, akhirnya aku masuk Katolik. Istilahnya, aku masuk agama sebab kondisi sekolah yang banyak mengajarkan mata pelajaran itu, bukan karena tuntutan orang tua, apalagi atas dasar kemauan sendiri.
Kelas satu SMP aku pindah ke sekolah Islam. Namanya Al-Huda’. Terus melanjutkan di SMEA filial. Meski belajarku dilembaga non Katolik, namun aku tetap aktif di gereja, bahkan sudah diangkat menjadi pendeta untuk kalangan anak-anak dan remaja. Aku senang menjalaninya, sebab bisa membantu membimbing rohani mereka.
Sayang sekali, dalam Kitab Injil yang menjadi pe- ganganku, banyak hal-hal yang saling bertentangan, yang menimbulkan tanda tanya bagiku, tapi tidak memiliki jalan keluar. Misal dalam Kitab Injil Perjanjian Lama ditulis, Tuhan itu satu. Saat yang bersamaan Kitab Injil Perjanjian Baru mencatatnya berlainan, Tuhan itu Trinitas. Dari sinilah tidak sedikit pertentangan doktrin yang kutemui. Jujur, batinku berkecamuk. Aku resah dan berusaha menemukan jawabannya.
Puncak kegelisahanku terjadi kala berdialog dengan pendeta senior tentang masalah ketuhanan, kenabian, hukum khitan dan babi. Dia tidak punya jawaban dan cuma bilang, “Memang seperti itu yang tertulis di Kitab Injil.”

Di sisi lain, aku ingin jawaban yang logis lagi memuaskan. Aku berkata dalam hati, dimana aku mencari solusi yang sempurna agar imanku pun sempurna?
Sewaktu jadi pendeta, aku sama sekali buta informasi Islam. Malah aku lebih menguasai agama Budha dan Hindu. Aku mencari jawaban dalam Budha melalui kitab-kitab yang ditinggalkan ayah. Ternyata tidak ada. Begitu pula dalam kitab suci umat Hindu. Selain itu, aku bertanya sekaligus berdialog dengan Biksu. Hasilnya tetap nihil alias tidak memuaskan.
Dalam kondisi bingung, aku bergaul dengan orang Islam. Aku bertanya kepadanya, “Eh...di dalam kitab suci kamu ada nggak sih jawaban mengenai persoalan Tuhan, Nabi, khitan dan hukum babi?” Dia langsung membuka kitab sucinya, menjawab dan memaparkan alasan-alasannya. Aku merasa puas dan berfikir, ‘Loh... kenapa kok jawabannya justru ada di al-Qur- an? Aku semakin bimbang. Aku tak langsung memutuskan pindah agama. Akhirnya tahun 1980-an aku meninggalkan agama Katolik, lari dari gereja, tapi tetap membawa Injil

DARI ABDULLAH SYAFI’I KE BANJARMASIN
Aku minta temanku untuk menunjukkan siapa orang Islam yang mesti aku datangi yang mampu menjawab keragu-raguan terhadap isi Injil. Aku punya konsep, aku masuk Katolik bukan sebab mempelajarinya terlebih dulu, tapi karena pengaruh sekolah. Maka keyakinan yang akan kucari jua harus kudalami sebelumnya, agar aku tidak terjerembab
 
kedua kalinya. Maksudku, aku mau memeluk agama Islam, setelah aku paham apa itu konsep Islam.

Berdasarkan saran teman, aku menuju kediaman KH. Abdullah Syafi’i, tokoh agama terkemuka Jakarta waktu itu (ayah ustadzah Tuti Alawiyah, Red.). Aku bilang kepada beliau kalau aku masih menjadi pendeta, namun keimananku sedang goyah, gara-gara masalah seperti yang kujelaskan di atas. Aku mau pindah ke Islam, tapi aku tidak mengerti Islam itu apa.
 
Beliau memperjelas problem dilematisku. Singkat cerita, sebelum pamit aku bertanya, “Siapa lagi orang Islam yang harus aku datangi untuk belajar Islam?” Beliau menyebut KH. Syafi’i Ha- dzhami.
Selanjutnya aku menyambangi tempat tinggalnya. Persoalan dan materi pembicaraan yang kuajukan tidak jauh dengan sebelumnya. Perlu diketahui, kema- na pun pergi aku tetap membawa Injil sebagai bahan pertanyaan mengenai keterangan yang kurang jelas sekaligus perbandingan. Menjelang dialog berakhir, aku kembali bertanya, “Siapa lagi tokoh yang perlu saya kunjungi?" Beliau menyarankan aku supaya menemui KH. Syukron Makmun.

Setelah bertemu beliau, aku mengajukan soal yang sama. Beliau bilang, “Dari saya cukup sekian, coba kamu kesana, ke ulama ini, ke kyai itu.” Begitu seterusnya. Cara belajarku menemukan kebenaran Islam melalui referensi dan atas petunjuk mereka. Artinya aku berpindah-pindah, terus bertanya dan tak lelah mencari jalan terang. Tak terasa sudah hampir seluruh tokoh agama Islam di Jakarta yang aku gali ilmunya.
Petualangan tanpa sepengetahuan ibuku ini tak berhenti di daerah ibu kota dan sekitarnya. Pokoknya dima- na mereka punya rujukan, aku pasti berangkat. Wila
yah pulau Jawa mayoritas pernah aku injak. Papua, Ambon, Nabire, Timor Timur, Sumatera, Aceh, Medan, Palembang, Riau, Lombok, Makassar dan kota- kota besar se-nusantara telah aku singgahi demi satu tujuan, mencari kebenaran keyakinan. Perjalanan panjangku akhirnya berlabuh di Banjarmasin Kalimantan.
Semua yang ada di Injil yang aku tidak mengerti menjadi jelas, ketika aku tanyakan kepada para kyai. Sungguh sesuatu tak kuduga sebelumnya; rata-rata mereka paham isi Injil. Mereka mau membimbingku, namun tidak ada yang berani menganjurkanku masuk Islam. Biasanya aku tinggal di kediaman mereka selama seminggu, dua minggu atau paling lama sebulan. Kalau sang kyai memiliki pesantren, aku tinggal di biliknya. Jika tidak, aku tidur di rumahnya atau tidur di masjid. Jangan heran bila orang tua angkatku tersebar dimana- mana.
Aku merasa tidak terlantar walau pakaianku lusuh. Meski rupiah nggak ada di kantong, aku tak mengeluh. Padahal, seandainya aku mau minta ini itu, mereka akan memberikannya. Tapi aku tidak pernah minta. Bagiku, yang diberi mereka itulah rezekiku. Jujur, aku sendiri nggak punya biaya sama sekali selagi menjadi musafir. Kebanyakan, kyai yang aku tuju memberikan ongkos, itu pun hanya cukup untuk sampai ke tempat tujuan yang bersangkutan. Tidak lebih.
Kunci dan modalku sederhana; aku penurut dan pandai membawa diri dima- na pun singgah. Kejujuran dan ketekunan belajarku menjadi pegangan penting lainnya. Selama aku tinggal disitu, aku tidak pernah membantah. Aku kerjakan pekerjaan tanpa menunggu perintah tuan rumah, semisal mencuci piring, menyapu, menimba air atau membersihkan WC.Setelah bertemu beliau, aku mengajukan soal yang sama. Beliau bilang, “Dari saya cukup sekian, coba kamu kesana, ke ulama ini, ke kyai itu.” Begitu seterusnya. Cara belajarku menemukan kebenaran Islam melalui referensi dan atas petunjuk mereka. Artinya aku berpindah-pindah, terus bertanya dan tak lelah mencari jalan terang. Tak terasa sudah hampir seluruh tokoh agama Islam di Jakarta yang aku gali ilmunya.
Petualangan tanpa sepengetahuan ibuku ini tak berhenti di daerah ibu kota dan sekitarnya. Pokoknya dima- na mereka punya rujukan, aku pasti berangkat. Wila
yah pulau Jawa mayoritas pernah aku injak. Papua, Ambon, Nabire, Timor Timur, Sumatera, Aceh, Medan, Palembang, Riau, Lombok, Makassar dan kota- kota besar se-nusantara telah aku singgahi demi satu tujuan, mencari kebenaran keyakinan. Perjalanan panjangku akhirnya berlabuh di Banjarmasin Kalimantan.
Semua yang ada di Injil yang aku tidak mengerti menjadi jelas, ketika aku tanyakan kepada para kyai. Sungguh sesuatu tak kuduga sebelumnya; rata-rata mereka paham isi Injil. Mereka mau membimbingku, namun tidak ada yang berani menganjurkanku masuk Islam. Biasanya aku tinggal di kediaman mereka selama seminggu, dua minggu atau paling lama sebulan. Kalau sang kyai memiliki pesantren, aku tinggal di biliknya. Jika tidak, aku tidur di rumahnya atau tidur di masjid. Jangan heran bila orang tua angkatku tersebar dimana- mana.
Aku merasa tidak terlantar walau pakaianku lusuh. Meski rupiah nggak ada di kantong, aku tak mengeluh. Padahal, seandainya aku mau minta ini itu, mereka akan memberikannya. Tapi aku tidak pernah minta. Bagiku, yang diberi mereka itulah rezekiku. Jujur, aku sendiri nggak punya biaya sama sekali selagi menjadi musafir. Kebanyakan, kyai yang aku tuju memberikan ongkos, itu pun hanya cukup untuk sampai ke tempat tujuan yang bersangkutan. Tidak lebih.
Kunci dan modalku sederhana; aku penurut dan pandai membawa diri dima- na pun singgah. Kejujuran dan ketekunan belajarku menjadi pegangan penting lainnya. Selama aku tinggal disitu, aku tidak pernah membantah. Aku kerjakan pekerjaan tanpa menunggu perintah tuan rumah, semisal mencuci piring, menyapu, menimba air atau membersihkan WC.

Di Banjarmasin aku mu- qim (menetap) di salah satu pondok pesantren bersama para santri. Aku nggak merasa risih, karena aku memang sudah bertekad mencari kebenaran Islam. Mereka pun menerima kehadiranku dengan penuh lapang dada. Urusan makan dan segala fasilitas lainnya dijamin kyai. Aku belum menyatakan diri sebagai muslim, namun mereka tulus menyayangiku. Buktinya, kyai yang mengurus pesantren rela membiayaiku kuliah D 3 Akuntansi hingga kelar.
Aku belajar dan mengamati kegiatan mereka sehari-hari. Ketika mereka shalat, aku tidak ikut, hanya kulihat dan kuperhatikan. Hati kecilku terusik ingin tahu, ‘Ibadah umat Islam kok kaya begini yah, banyak gerakannya? Kenapa kalau shalat harus arahnya ke barat? Kemudian tengah malam mereka bangun dan ibadah, apa rahasianya? Aku juga ikut bangun. Padahal setahuku nggak ada agama lain yang menyuruh umatnya tengah malam agar ibadah.
Semua aktivitas itu kurekam, kukonsumi dan kutela’ah secara serius. Paginya baru aku tanyakan kepada kyai. Para santri tidak mempengaruhi, cuma membantu menjelaskan ketika aku tanya. Selama tiga tahun aku mengamati fenomena yang terjadi di lingkungan pesantren. Praktis, sepanjang lima tahun ‘berjuang’ itu aku tidak beragama.
Sesungguhnya pertanyaan yang paling mengganjal adalah masalah ketuhanan atau tauhid. Untuk merubahnya tentu bukan pekerjaan mudah. Aku harus mencuci iman dan jawaban para kyai benar-benar sangat memuaskan. Begitu tahu Kitab Injil isinya tidak benar, aku menutup dan meninggalkannya.
Keyakinanku untuk membasahi jiwa raga dengan norma-norma Islam telah mantap. Aku pun kala itu sudah tahu tata cara sha- lat, membaca al-Quran, menguasai kaidah- kaidah agama plus paham disiplin ilmu Islam.

POTONG KERBAU
Yang pertama kali aku lakukan setelah selesai mengucapkan dua kalimat syahadat pada bulan Juli 1985 adalah sujud syukur. Semua do’a atau bacaan yang aku mampu, aku ungkapkan. Selepas sujud syukur, aku bangun dan seakan menyaksikan sesuatu yang sebelumnya gelap menjadi terbuka. Seolah didepan mataku tersingkap jendela begitu luas. Aku menatap cahaya yang begitu jelas. Terang benar! Luar Biasa! Plong...
Aku sungguh sangat bahagia. Anda bisa bayangkan: aku dalam kesendirian, tidak ada saudara, di daerah orang dan sedang dikejar- kejar orang hendak dibunuh, namun di saat yang lain aku menemukan jalan yang terbaik dan agama yang sesuai dengan nuraniku. Subhanallah.. .Allahu Akbar... (Wawancara terhenti sejenak. Kedua mata H. Agus terlihat berkaca-kaca. Dia mengambil tissue untuk
 
menyeka air mata yang meleleh.)
Moment pengislamanku diselenggarakan selepas shalat isya di masjid pesantren. “Ini anak saya mau masuk Islam,” begitu kata guruku pada masyarakat. Saking gembira, masyarakat tanpa dikomandoi memberikan sumbangan dan mereka memotong kerbau. Mereka mengolah dan memasaknya, lalu diantar ke pesantren. Malam itu kami mengadakan pesta dan dimeriahkan pula penampilan kasidah plus acara seru lainnya. Masyarakat yang hadir sampai memenuhi ruangan masjid. Ternyata guruku yang mengatur semua prosesi yang penuh kenangan itu.
Selang berapa lama setelah aku masuk Islam, problem besar muncul. Sang kyai hendak menjodohkanku dengan perempuan pilihannya. Aku menolaknya bukan karena dia tidak cantik, namun aku merasa diri ini belum mampu berkeluarga. Lagi pula aku masih berstatus mahasiswa. Aku dianggap anak yang nggak tahu diri. Sejak itu, hubungan kami tidak harmonis lagi. Akhirnya menjelang penutupan tahun 1988, dengan berat hati aku pamit dan hendak pulang ke Jakarta.

Di Cengkareng aku diterima oleh salah satu keluarga Muhammadiyah dan menetap di masjid. Di sini aku mengajar al-Quran. Sementara ibu belum tahu berita kedatanganku. Menurut warga setempat, ibu menganggap aku sudah mati, mengingat selama lima tahun aku pergi tidak ada kabar. Bagaimana pun, ibu adalah orang yang melahirkanku dan aku wajib menghormatinya. Aku menemuinya. Aku sadar, aku mesti menyelamatkannya. Sempat ada penolakan darinya ketika kuajak masuk Islam. Alhamdulillah, ibu mau memenuhi harapanku.
Seminggu setelah menetap di kampung sendiri, kebetulan ada kegiatan Musabaqah Tilawafil Quran tingkat kecamatan untuk kalangan dewasa. Aku mengikutinya dan ternyata berhasil meraih gelar juara. Dari situlah aku mulai dikenal orang dan diminta mengisi pengajian sampai mengajar ilmu fiqih. Sejujurnya, jalan baruku ini tak pernah terlintas dalam angan-angan.

BERMULA DARI PANGGUNG
Aku termasuk orang yang percaya jodoh di tangan Allah swt. Maksudku, kalau memang sudah saatnya, pasti akan datang dengan sendirinya. Jadi, aku nggak terlalu ngoyo mencari perempuan sebagai pendamping hidupku. Mengalir begitu saja. Jodohku pun datang juga.
Ceritanya, aku membantu mengajar di sebuah madrasah. Kepala madrasah punya keponakan perempuan yang sering datang kesana. Secara kebetulan hobi kita sejalan, yakni berhubungan dengan tarik suara: aku senang menyanyi dan mengaji, dia suka musik kasidah bersama groupnya.
Tempat tinggal kami berlainan daerah. Jika ada acara di kampungku, aku manggil mereka. Begitu pula sebaliknya. Karena seringnya bertemu dan berkomunikasi, pertama kali aku jatuh cinta saat di atas panggung. Lalu aku memberanikan diri bersilaturrahmi pada keluarganya yang terkenal jago main musik gambus. Mereka tahu aku muallaf. Bagi mereka hal itu bukanlah perkara serius. Akhirnya aku diterima sebagai calon menantu dan kami sepakat menuju pelaminan akhir 1990.
Rumah tangga yang kujalani bersama istri tercinta, Marotah, teramat bahagia. Selain dia bisa menjadi istri sholehah, wanita kelahiran Betawi yang pernah menjadi juara Mu- sabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat DKI Jakarta itu mampu mendidik buah hati kami, yakni Siti Khoirunnisa, Fauziah Arbi, Ahya Shofa Tartila, M. Rizqi Mabrur dan Abu Dzar Al-Ghifari dengan nilai-nilai agama.
Untuk kesuksesan perjuangan syiarku, sekarang aku bernaung di bawah payung Korps Mubaligh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Aku juga mengelola pendidikan al-Quran dari tingkat TPA sampai SMU dan mengurus panti jompo yang bekerja sama dengan jamaah ta’limku. Secara singkat, ak- tifitas keseharianku tidak jauh dari mengajar, ceramah dan urusan pengajian yang bersinggungan langsung dengan kaum muslimin.
Jika aku diberi kesempatan untuk mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah berjasa dalam hidupku, maka almarhum kyai di Kalimantan -seperti yang kuceritakan di atas- dan kakak seperguruanku dipesantren Serang yang tinggal di Balaraja Tangerang, H. Hasun Ma’ruf, yang pantas kusebut sekaligus akan tetap kukenang sepanjang masa. Bersama H. Hasan, saat ini aku sedang berjuang membangun pondok pesantren.
Sebagai penutup catatan lembaran hi- dupku aku ingin berpesan kepada pembaca Majalah Hidayah. Sebagai orang Islam, kita harus menjadi teladan yang baik bagi nonmuslim, misalnya menyangkut akhlak yang baik dan bicara yang santun. Tujuannya agar orang lain bisa menaruh simpati, mengingat tidak mudah dakwah terhadap mereka. Kalau umat Islam saja tidak sanggup menjadi contoh, bagaimana mungkin mereka mengikuti agama dan keyakinan kita? (Jft/Hujroh)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...