25 May 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (52

Perang Batak Usai Perang Imam Bonjol

Bagian Pertama

 35

Ketika Syekh AL-Fonso akan memberikan pengajian, paginya seorang nenek-nenek tua datang ke pembantu Syekh Al-Fonso. Apa yang sudah tersedia untuk  menjamu jamaah nanti malam, tanya sang nenek.

Pembantu Syekh Al-Fonso menjawab:”Sudah ada nek, memang ada apa?” Tanya pembantu itu.

Nenek itu  menjawab:”Aku  punya  seekor kambing, satu-satunya kekayaanku, suamiku dan anak-anakku sudah syahid semua. Maka seekor kambing itu ada di bawah kolong gubukku yang kecil. Ambillah!” Ujar sang nenek.

Lalu pembantu Syekh Al-Fonso mengucapkan beribu terimakasih dan sambil melangkah dengan  seorang pembantu lainnya. Dari jauh sudah terdengar suara embek si kambing.Mungkin ia minta dipotong dan dihadiahkan dagingnya untuk pengajian para pejuang Aceh, guna mengisi ruhani mujahidin-mujahidah Aceh yang akan bertempur besok melawan Van Heutsz dan pasukannya.

Maka siang  sang nenek yang begitu gembira kambingnya diterima sebagai hadiah atau korban untuk pengajian pengisian ruhani para pejuang Aceh. Sebenarnya begitu banyak para nenek, atau kakek atau keluarga dan orang-orang muda yang mempersembahkan harta kekayaannya  guna disumbangkan kepada jalannya peperangan melawan Van Heutsz, si koboi galak dari Belanda. Kaphe Belanda yang mengilhami tanah Aceh untuk semakin kuat berjuang dan  bangkit melawan kekejaman kaphe-kaphe Belanda yang dilaknat Allah di dunia maupun di akhirat nanti.

Di sisi lain,  sore pada titimangsa 19 Maret 1895,  penjara tempat orang tahanan terasa hening mencekam. Jenderal Van Heutsz yang sangat bengis , melihat-lihat isi penjara dan juga  memeriksa setiap kamar tahanan. Ketika Van Hetusz mendapat seorang pemuda kekar dan berjenggot tebal, lalu Van Heutsz menginjakkan sepatunya ke atas  empu jari kakinya. Pemuda itu kesakitan tapi tidak menjerit. Hanya terdengar desah zikir dari mulutnya yang kering.

“Apa yang kauucapkan!” Tanya van heutsz.

Lelaki itu diam dan tidak berkata apapun. Dia berdoa, semoga orang gila dan zalim yang ruhaniny sangat kotor ini berlalu darinya.

Maka tak lama Van Heutsz berlalu dan pergi dari penjara itu.

Menjelang malam beberapa jam setelah maghrib, para pejuang mujahidin Aceh berkumpul di sebuah Dayah atau Zawiyah. Jamaah dengan pakaian putih-putih sementara di depan tak terlihat Syekh Al-Fonso. Para mujahidin bertanya-tanya, kemana Syekh Al-Fonso?  Namun pertanyaan itu dibiarkan menguap begitu saja. Tak lama azan Isya berkumandang dan tanda pengajian pengisian ruhani ‘perang sabil’  akan digelar tak lama lagi. Seusai shalat isya, dan usai berdoa, maka tampillah ke depan seorang syekh berbadan lebar. Jenggotnya tebal dan panjang sampai ke dagu. Wajahnya juga lebar dan ini tentu wajah baru. Bukan Syekh Mujab, bukan Syekh Al-Fonso atau syekh yang biasa dikenal di Tanah Aceh.   

Tak lama bergaunglah suasana Dayah itu dengan suara baritone sang Syekh. Dia memperkenalkan diri.

Nama saya , Muhammad al-Jabbar. Asal India dan lama di pulau Penang. Kehadiran saya di sini ingin bergabung dengan para pejuang dan gerilyawan Aceh dan ikut menjadi prajurit alias jundullah (tentara Allah) agar negeri Aceh yang makmur,indah dan kita cintai ini segera bebas dari kaphe-kaphe Belanda. Maka kemudian, Syekh Al-Jabbar memberikan judul ceramahnya dengan dua kalimat saja: “Penyakit Ruhani”

Penyakit ruhani adalah penyakit yang paling berbahaya  dari segala penyakit. Coba kita perhatikan, sejak datangnya  kaphe-kaphe Belanda ke negeri yang kita cintai ini, maka mulailah menjalar penyakit-penyakit ruhani yang berasal dari para pemimpin juga para tentara kaphe-kaphe Belanda itu.  Adanya sifat dan sikap (budi pekerti) yang buruk di dalam ruhani seorang manusia, itulah yang selalu mendorongnya untuk berbuat buruk dan merusak, seperti menjajah,memerangi negeri berdaulat dan merampok hak-hak milik bangsa lain sesuai hukum nafsu mereka. Penyakit ruhani ini  menyebabkan terganggunya kebahagiaan yang ada pada dirinya, serta  terhalanglah dia dari medapatkan  keridhaan Allah Swt.

Maka untuk  kaphe-kaphe Belanda, penyakit  ruhani itu bersumber dari dua akar yang sulit dihilangkan dari dalam dirinya. Sebuah hadits Rasulullah Saw mengatakan :Tidak ada tandingan keburukannya kecuali 1. Syirik (mensyirikkan) Allah Swt. 2.Menzalimi Umat Islam. Dan tidak ada tandingan bagi keutamaannya, kecuali 1. Meng-Esakan Allah Swt dan memberi manfaat kepada kaum Muslimin.

Mengapa daerah mereka yang sangat  jauh di dusun Eropa sana, sampai ke tanah Aceh hanya untuk menzalimi kita (sebagai umat Islam),  kata Syekh Al-Jabbar. Itu disebabkan karena ada akar tunggang yang sulit dicabut dari ruhani mereka.

Suasana sedikit serius karena Syekh Abdul Jabbar membawakannya dengan serius dan suara baritonnya bergetar memasuki  relung-relung nurani setiap pejuang Aceh.

“Akar dari kezaliman mereka adalah karena Mensyirik (mendua)kan Allah.!”

Dalam al-Quran surah Luqman disebutkan bahwa sifat syirik (menduakan atau mentigakan) Allah adalah sezalim-zalim manusia dalam kotoran ruhaninya. Karena itu, sebelum kaphe-kaphe Belanda itu bertobat dari syiriknya, sulit mereka meninggalkan sifatm zalim berupa keinginan menjajah,  menghisap darah, membunuh dan memerangi bangsa lain yang merdeka di seluruh dunia. Ujar Syekh Al-Jabbar. Ada suasana lain dari pengajian-pengajian sebelumnya, karena suara syekh-syekh sebelumnya sudah dikenal dan hafal oleh para santri dan pejuang Tanah Perlawanan. Tapi untuk Syekh yang baru datang dan dikenal  ini, terasa suasana menyegarkan dan lebih berbobot karena disampaikan dengan serius dan sikapnya yang lebih tenang dan mungkin juga lebih profesional. Hanya saja, logat Melayu Semenanjungnya, belum hilang total dari lidah Syekh Muhammad Al-Jabbar.

Syekh al-Jabbar kemudian menjelaskan lebih rinci:

Mengapa kaphe-kaphe Belanda itu bisa menjadi singa buas yang datang ke tanah kita, lalu dengan seenak pusernya membunuh sebagian bangsa kita, menghisap darah kita, mengeksploitasi hasil kekayaan alam kita. Segala sesuatu tak  mungkin terjadi begitu saja. Sebab dalam alam ini pasti  ada hukum  sebab dan  akibat. Demikian pun dengan penyakit ruhani. Beberapa hal  yang  menyebabkan penyakit ruhani adalah antara lain :

  1. Nafsu

Allah SWT berfirman, yang artinya :

“Sesungguhnya nafsu itu hendak mendorong (manusia) kepada kejahatan.” (QS.Yusuf :53)

Ini tentu telah kita ketahui semua, bahwa, nafsu selalu mendorong kita pada perbuatan buruk dan sulit sekali untuk mengendalikannya. Nafsu yang dapat menyebabkan penyakit ruhani ialah nafsu amarah, sedangkan nafsu lain yang mendorong kita untuk berbuat kebaikan tak termasuk kedalamnya.

  1. Syetan

Ini juga telah kita ketahui bersama,  bahwa syetan dan induk angkangnya Iblis selalu ingin seluruh manusia itu melakukan keburukan. Iblis dan seluruh pasukannya sertrilyun-trilyun Syetan selalu  mendorong manusia untuk mendekati perbuatan keji dan munkar sebagaimana sumpah Iblis nenekmoyangnya syetan yang terdapat dalam Al-Qur’an :

“Berkata Iblis (syetan) : Ya Tuhanku ! lantaran Engkau telah menyesatkan aaku (tersebab manusia itu) , maka aku akan menghiaskan kejahatan kepada mereka di dunia dan akan menyesatkan mereka semuanya” (QS.Al-Hijr : 39)

Itulah  yang menjadi dasar mengapa Iblis  dianggap sebagai penyebab kedua yang dapat menyebabkan penyakit hati (ruhani) ada pada diri manusia. Penyebab ketiga adalah:

  1. Ruhani yang lapar karena tak diberi makan

Ruhani adalah bagian jiwa manusia yang dapat berhubungan langsung dengan Allah. Demikian mulianya ruhani itu karena ia berasal dari Allah. Ruhani diberi potensi mengenal siapa Allah dan meng-EsakanNya. Orang yang sudah mengenal akan Allah lalu membersihkan ruhaninya dan memberi makan ruhaninya setiaphari dengan perintah-perintah Tuhan. “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56).Itulah makanan ruhani manusia. Karena manusia berasal dari Allah karena itulah makanannya pun harus dari Allah pula.

Makanan yang dibutuhkan ruhani talahk sama dengan makanan yang dibutuhkan oleh jasmani (tubuh) kita. Ruhani hanya bisa diberi makan dengan ibadah dan mendekatkan diri pada-Nya. Kaphe-kaphe Belanda yang telah mensyirikkan Allah itu, telah tertutup ruhaninya dari upaya ibadah dan mendekatkan diri. Apapun yang mereka upayakan dalam ibadah mereka, semua akan hablur dan sia-sia belaka.Lha kenapa? Coba kalian semua mendirikan rumah tapi fondasinya tidak kukuh, alias rapuh. Bisakah rumah itu berdiri kokoh dan kalian tinggal nyaman dan damai di dalamnya?

Nah itulah yang terjadi dalam diri setiaporang kaphe. Hati mereka gelisah, jiwa mereka kosong,ruhaninya kotor dan akhirnya membawa diri mereka yang berpenyakit ruhani itu ke negeri-negeri yang ingin mereka rampok. Tapi apakah upaya mereka akan mulus dan nyaman selamanya? Lihat saja suatu saat bangsa kaphe-kaphe Belanda ini akan terusir dari seluruh tanah Aceh ini, bahkan dari seluruh negeri Asia Tenggara yang sedang heboh dijajah oleh kaphe-kaphe Inggris, Perancis, Amerika dan bangsa-bangsa kaphe-kaphe Eropa lainnya. Poin terakhir adalah:

  1. Pengaruh lingkungan

Mengapa kaphe-kaphe Belanda sampai ke Aceh dan ingin menduduki negeri kita yang sebenarnya kalau kaphe-kaphe Belanda mengelola negerinya, akan cukup rezeki Allah yang terhidang dari Nederland itu sendiri. Mengapa mereka harus mencuri dan merampok sampai ke negeri Aceh yang sebenarnya negeri ini juga cukup untuk menghidupi bangsa kita, jikadikelola dengan baik dan hati-hati.

Nah, itu tak lebih karena kaphe-kaphe Belanda itu mempunyai lingkungan yang buruk di negeri mereka. Benua Eropa dan Amerika itu memiliki lingkungan yang buruk bagi setiap pribadi yang hidup di atas tanah-tanah yang luas bagi banyak bangsa-bangsa di sana, seperti kaphe-kaphe Belanda, kaphe-kaphe Inggris, kaphe-kaphe Spanyol, kaphje-kaphe Portugis dan masih banyak lagi kaphe-kaphe yang tak sadar bahwa mereka telah melakukan kezaliman yang besar terhadap diri mereka sendiri. Setelah diri mereka dizalimi dengan sikapsyirik(mempersektukan Allah ‘Azza wajalla, mereka ingin menebarkan sifat zalim itu ke bangsa-bangsa lain diluar diri mereka. 

Lingkungan ini lambat laun akan mempengaruhi seseorang hingga membuatnya melakukan hal yang buruk pula. Lingkungan orang yang berbuat zalim dengan menyirikkan Allah, mempersekutukan Allah, akan  menjalar ke bangsa-bangsa lain yang bergaul dengan mereka. Lingkungan yang dituju disini adalah lingkungan manusia  berupa pergaulan dengan orang-orang musyrik, bukan lingkungan alam dan sebagainya. Bahkan alam, langit, bumi, tanah,hewan dan tetumbuhan semuanya meng-Esakan Allah Swt, tapi orang-orang Musyrik tak mendengar alam, langit, tanah, hewan dan sebagainya itu selalu berzikir meng-esakan Allah di saat pagi dan petang. (Bersambung)

Category: 
Loading...
Jumat, 25 May 2018 - 02:12
Jumat, 25 May 2018 - 01:55
Jumat, 25 May 2018 - 01:45
Jumat, 25 May 2018 - 01:36
Jumat, 25 May 2018 - 01:30
Jumat, 25 May 2018 - 01:24
Kamis, 24 May 2018 - 23:02
Kamis, 24 May 2018 - 22:57
Kamis, 24 May 2018 - 22:46
Kamis, 24 May 2018 - 21:18
Kamis, 24 May 2018 - 21:09
Kamis, 24 May 2018 - 20:32

Pages