24 February 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (41

Episode 24       

Perang Batak Usai Perang Imam Bonjol
 

Bagian Pertama

 24

Awalnya Van Heutsz dikirim ke Aceh sebagai subaltern (bawahan) pada tahun 1873. Karena takdir dan prestasinya yang bagus - karirnya naik begitu cepat. Lelaki sangar dan sangat penngecut, bersikap berani dalam ketidakbenaran (memperjuangkan penjajahan dan penindasan) dan sangat tidak fair pula dalam konsistensi sikap tidak  kesatria ini, dilahirkan di Coevorden, Belanda pada titimangsa 3 Februari 1851. Dua puluh dua tahun sebelum meletusnya Perang Aceh. Pada titimangsa 1887, dia mendapatkan  kenaikan pangkat menjadi kepala staf, dan titimangsa 1899, Van Heutsz diangkat sebagai gubernur militer dan sipil Aceh yang harus menghadapi perang Aceh (1898-1903). Van Heutsz  sudah merencanakan untuk  menaklukan kerajaan Aceh dengan tangan besi, kalau perlu pukul mati seluruh rakyat Aceh,biar kekuasaan dapat digenggamanya sendirian bersama para jenderal bawahannya, bersama kapten, bersama seluruh kopral beserta para pelayan-pelayan seksnya yang sangat bersemangat mendukung untuk Aceh segera takluk di bawah kekuasaan kaphe-kaphe Belanda.
Karena itu, dari selatan perlu secepatnya Aceh dijepit dengan ketat mdelewati perang dengan mengalahkan Tuanku Imam Bonjol dan Sisingamangaraja XII.
Begitu Van heutsz diangkat jadi Gubernur militer dan sipil di Aceh, dia adalah manifestasi dari segala hal yang buruk untuk bangsa Aceh. Van Heutsz adalah sosok yang kejam,  maniak jabatan , tidak berperikemanusiaan, gila kekuasaan, tak segan-segan membunuh rakyat Aceh yang lemah tak berdaya, apalagi yang sudah ada didalam penjara kaphe-kaphe Belanda, disiksa dengan hebatnya agar memberi informasi dimana keberadaan tokoh Aceh yang dianggap berbahaya.  Namun siapakah sosok Van Heutsz yang sesungguhnya? Apa tujuannya memerintah tanoAceh? Bagaimana orang seperti van Heutsz  bisa diangkat menjadi pemimpin tertinggi di Kutaraja, nangroe Aceh Darussalam  yang merupakan negara terkuat di Asia Tenggara? Bagaimana dan apa  saja  serpak terjang  Van hewutsz  sehingga banyak orang berkesimpulan bahwa Van Heutsz  adalah sosok yang binal, kejam dan berkepala dingin dalam upaya membunuh setiap pejuang (mujahidin) Aceh?
Van Heutsz yang lahir di Coevorden, Belanda   3 Februari 1851 Kota Gori adalah sebuah daerah terpencil yang sangaat jauuh dari pusat kekuasaan di Nederland. Sebagaimana keluarga Snouck Hurgronje, keluarVan heutsz juga tak lebih sama. Ayah Van Heutsz  seorang pemabuk yang biasa melakukan kekerasan fisik terhadap anak-anak dan istrinya. Kekerasan itu sangat membekas pada diri C=van heutsz dan menjadi trauma yang sulit dilupakan oleh dirinya. Latarbelakang Van Heutsz yang kacaubalau ini memberi tipekepemimpinan dan pengaruh bagaimana menangani masalah Aceh yang demikian sulit diatasi olehgubernur militer dan sipil sebelumnya.Van Heutsz juga memiliki  latar belakang pendidikan yang cuku mengekang dirinya untuk bersikap dan b erpikir bebas. Akhirnya ia mengalami trauma dan rasa dendam yang hebatdalam dirinya. Dengan latar belakang demikian Van Heutsz tumbuh menjadi pribadi yang sangat tertutup, pelit berbicara, dan memendam rasa  paranoid dan ketakutan –  karena pengaruh tekanan psikologis di masa kecil dan remajanya.
Di masa Van heutsz didengungkan ide tentang Pax Nerlandica atau politik etis. Politik ini timbul disebabkan kritik dari dalam negeri Belanda sendiri menyangkut  kebijakan kolonial pemerintahan Belanda yang represif, pelit kepada rakyat jajahan dan terlalu bersikap keras. Semestinya secara budaya rakyat Hindia Belanda dapat diajakuntuk berkompromi mengecap pendidikan di bangku-bangku sekolah,pendidikan non-formal dan lain sebagainya. Adapaun inti dari Politik Etis tersebut adalah trilogi untuk mensejahterakan rakyat Jajahan berupa pembangunan  irigasi (pengairan), program  emigrasi/transmigrasi (pemindahan penduduk dari satu pulau ke pulau lain) serta melaksanakan program edukasi (pendidikan).
 Akan tetapi walaupun program Trilogi politik etis, kebijakan Van Heutsz bertolak belakang dengan apa yang disuarakan oleh parlemen Belanda dari Nederland. Van Huetsz seperti seorang yang menceracau sendiri terkait kekalahan demi kekalahan pihak kaphe-kaphe Belanda dari para pejuang Aceh. Sudah 14 gubernur Jenderal yang jatuh bangun di tano Aceh, maka kaliini, gubernur Van Heutsz yang merupakan gubernur mjiliter dan sipil kaphe-kaphe Belanda yang ke 15 ingin mermpelakukan rakyat Aceh dengan sekeras-kerasnya, agar jera dan tak bangkit lagi untuk melawan pemerintahan yang sah (menurut Van heutsz dan penguasa Belanda) yang memerintah dari pusat kekuasaan di Kutaraja.
Lama kaphe-kaphe Belanda mempelajari menapa bangsa Aceh tak pernah mampu ditundukkan sampai 14 Jenderal lapangan beserta Mayor,Letnan dan kapten beserta para prajuritnya tak menyentuh sedikitpun kekuasaan orang Aceh yang sangat liat itu. Di situlah jahatnya Snouck Hurgronje yang memutar dan mengalihkan strategi pukul mundur semua pejuang yang melawan kaphew-kaphe Belanda. Snouck dengan tangkas mengatakan bahwa mengapa Aceh tak mau tunduk kepada Belanda.  Harus diperhatikan  bahwa rakyat Aceh seluruhnya menganut agama Islam secara murni. Maksudnya, bahwa Islam di Aceh tidak tercampur dengan tradisiHindu atauBudha sebagaimana terdapat di pulau Jawa. Dengan kemurnian agama Islam Aceh ini, dapat menjadi amunisi membangkitkan semangat jihad untuk seluruh bangsa Aceh. Tidak sebagaimana diJawa Tengah misalnya, yang berjihad mengangkat senjata hanya segelintir pengikut ulama yang berada disekitar Pangeran Diponegoro. Merekalah yang dipengaruhioleh Islammurni sebagaimana Islam Aceh. Tetapi Islam murni di Jawa hanya sedikit, kebanyakan masyarakat tak mengerti islam dan kalaupun mengerti tercampur dengan Islam tradisi  peninggalan kepercayaan Hindu atau Budha.
Dengan pengaruh Islam murni, rasa fanatisme ajaran Islam yang mampu membangkitkan rasa percaya  kepada kekuatan Allah yang tidak  ada lagi kekuatan selain dariNya dan menanamkan konsepjihad kepada seluruh rakyat Aceh, bahwa Jihad itu wajib. Barangsiapa yang meninggalkan Jihad, maka ia mewnjadi “kaphe” (Kafir), ucap seorang ulama di Dayah Seumeuleman. Seorang ulama berfatwa pula : perang sabil melawan kaphe-  kaphe adalah mutlak, alias Fardhu’Ain. Akibat pesan  Snouck Hoergronje kaphe-kaphe Belanda  berhasil menekan perjuangan rakyat setelah strategi itu benar-benar dilaksanakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, termasuk oleh Van Heutsz. Walaupun Van Heutsz dengan sikap kejam dan beringasnya menekan para pejuang Aceh, perlawanan tak pernah lampus. Seperti api yang ditiup bukannya api yang mati, justru peniupnya terbakar wajahnya karena upayanya meniup api menimbjulkan bencana makin terbakarnya pihak pemerintah Kolonial kaphe-kaphe Belanda. Merekapun menjadi pusing dan gusar melihat usaha mereka tak pernah menghasilkan kemenangan yang mereka impi-impikan sebagaidibanyaklain di Hindia Belanda.
 Biaya perang yang terus naik menjadi $ 135.000.000,, tentaranya banyakyang mati, senjata yang dipakai tentara kaphe-kaphe Belanda banyak yang hilang. Agaknya kemunculan Van Heutsz dengan hadirnya Dr. Snouck Hurgronje yang jadi  penasehat Gubernur Jenderal kaphe-kaphe Belanda diKutaraja melakukan penyelidikan selama dua tahun  (1891-1892). Snouck  bergaul dengan para mujahidin Aceh, rakyat Aceh bahkan para ulama Aceh dengan menyamar sebagai Muslim dengan nama “Abdul Gaffar”. Dari hasil penyelidikannya dimana ia bebas masuk kampong keluar kampung berkata bahwa  masyarakat Aceh diliputi oleh hutan-hutan lebat yang mampu melindungi mereka dari serangan-serangan kaphe-kaphe Belanda.  Karena itu, salah satu strategi agar Aceh dapat dikalahkan, adakan penebangan hutan-hutan setahap demi setahap, sehingga tentara kaphe-kaphe Belanda dapat mengejar mereka sampai keujung pertahanan yang tidak ada hutan. Selain itu, taktik perang kaphe-kaphe Belanda harus dirubah dai pola”Wait and See” ke politik agresif sehingga seluruh rakyat Aceh bisa ditaklukkan secara mudah.
Nah dengan politik agresif itulah Van Heutsz mencoba melakukan pengepungan pusat-pusat atau rumah para pejuang Aceh seperti rumah Teuku Umar di Lampisang. Pikiran busuk Van Heutsz dengan membakar rumah Teuku Umar di Lampisang menyebabkan Teuku Umar kehilangan rumah tempat beristirahat. Teuku Umar terpaksa beristirahat di mana saja asal tempat itu tersembunyi, apakah di hutan, di pinggiran kampung, atau di atas pohon di tengah hutan sehingga strategi perangnya terus hidup dan tak pernah kehilangan taktik.
Van Heutsz dan Van Daalen yang seperti saudara kembar dalam kekejaman menindas rakyat Aceh menyetujui  pendapat Snouck Hurgronje.  Bahwa hutan-hutan di Aceh perlahan harus dibumihanguskan, kemudian setiappemimpin pejuang Aceh harus digempur habis, sehingga seluruh rakyat akan kehilangan pemimpinnya dan mereka akan menyerah kepada pihak Belanda.
Apakah upaya kaphe-kaphe Belanda ini berhasil menaklukkan rakyat Aceh?  Semua ternyata gagal total, rakyat Aceh bukanlah rakyat biasa yang takut akan ancaman serta gertak kaphe-kaphe Belanda yang telah diterapkan dibanyak derah diseluruh wilayah Indonesia. Tapi akan mendapat pengecualian yang luarbiasa di Aceh.

Walau setiap tawanan pejuang Aceh   di penjara-penjara Kaphe-kaphe Belanda, walaupun setiaprakyat diintimidasi dan digencet dengan peraturan begitu rupaagar tunduk kepadfa pemimpn darikaphe-kaphe Belanda, membuat jihad bangsa Aceh semakin membara. Mereka tak gentar dengan kehilangan harta,  kehilangan keluarga bahkan kehilangan nyawa sekalipun.  Walaupun berkali-kali hadits Nabi mengatakan: Umat islam diakhir zaman akan dihinggapi sifat “Hubbuddunya dan Karahiyatul Maut” (Cinta Dunai dan Takut Mati), akan jadi pengecualian untuk  Aceh.   (Bersambung)

 

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...