25 May 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (25

Episode 8    
Semangat Jihad Semakin Membara
Bagian Pertama
8

Kiprah Syekh  Nuruddin  Ar-Raniri, dilanjutkan  oleh Syekh Abdul Rauf As-Singkili. Nama lengkap Abdul Rauf Al-Singkili adalah Amin al-Din Abdul Rauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri As-Singkili. Ayahnya bernama Ali, adalah seorang guru,  adalah seorang mubalig yang  berasal dari Persia. Ada yang mengatakan dari Arabia.Yang mana yang benar, yang jelas Syekh Ali berasal dari timur Tengah (dulu disebut: Asia Barat). Beliau datang dan menetap di Singkil, Aceh pada akhir abad ke-15.  Demikianlah setelah sang anak belajar  agama Islam pada bapaknya, syekh Ali – Abdur-Rauf Al-Singkil merantau ke tanah Arab pada titimangsa 1642.  Menurut sebagian kalangan, Abdur Rauf berangkat ke tanah Arab disebabkan karena pertikaian  Syekh Hamzah Fansuri dan  Syekh Syamsuddin Sumatrani dengan Syekh  Nuruddin ar Raniri. Boleh jadi Abdur Rauf tahu  mengapa terjadi percekcokan di antara ulama berpengaruh di Tanah Aceh itu, hingga  terjadi tragedi pembakaran buku-buku Syekh Hamzah Fanshuri.


Abdur Rauf al-Singkili pulang   ke Aceh sekitar tahun 1662 M,  dengan berkiprah menjadi pengajar serta mursyid tarekat Syattariah. Dua muridnya yang kemudian menjadi ulama besar, adalah Syekh Burhanuddin Ulakan dan dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan. Keduanya dari barat. Syekh Burhanudin dari Sumatera barat, sedangkan Sykeh Abdul Muhyi dari Jawa barat.

 

Kemursyidan Syaikh Abdul Rauf Singkel diperolehnya dari Madinah. Satu dari, Syaikh Ahmad Al-Qusyasyi (wafat 1660M), kedua dari Syaikh Ibrahim Al-Kurani (wafat 1691). Mendengar adanya percekcokan sengit sampai membakar buku – antara ulama tarekat Syatariyah yaitu Syamsudin Al-Sumatrani (pengikut Hamzah Fanshuri) dengan  Syekh Nuruddin Ar-Raniri, Syeikh Shafiuddin Ahmad Al-Dajjani Al Qusyasyi, memerintahkan  Abdul Rauf pulang ke Aceh untuk mengembangkan tarekat Syatariyah yang bisa bisa diterima kalangan masyarakat Aceh dan Nusantara pada umumnya.  Setibanya di Yano Aceh, beberapa saat kemudian Sultanah Safiyyatudin yang saat itu menjadi Sultan perempuan di  Aceh yang tertarik  pemikirannya, Abdul Rauf  diangkat sebagai Qadi Malik al ‘Addil atau Mufti kerajaan. Ada satu tokoh yang  semasa dengan Syekh Abdul Rauf Singkili dan sama-sama berguru  kepada Syekh Ibrahim Al-Kurani. Tokoh itu adalah  Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama besar dan mujahidin (pejuang melawan Kolonial Belanda) dari Sulawesi Selatan. Syekh Yusuf Makasari sama-sama pulang ke daerah asal masing-masing.  Syekh Yusuf pulang kembali ke Sulawesi mendapat ijazah kemursyidan Thariqah Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, Syaththariyyah, Ba’alawiyyah dan Khalwatiyyah.


Para sejarawan barat mebeliti bahwa sejarah tarekat di Indonesia  sama tuanya dengan sejarah masuknya Islam ke nusantara. Bahkan Islam  sufistik itu membuat penduduk yang semula beragama Hindu dan Buddha menjadi daya tarik kuat untuk menerima agama ini bagi pribadi, keluarga dan masyarakat Nusantara. Tradisi Hindu dan Budha yang penuh  dengan dimensi metafisik dan spiritual sebelumnya, menjadi faktor utama diterimanya  Islam Sufistik yang dianggap  satu nafas dengan mistisisme Hindu - Budha.  Masuknya islam keIndonesia adalah sebuah peristiwa besar dengan memunculkan  perubahan besar, namun prosesnya tanpa meneteskan darah dan airmata, sebagaimana terjadi dalam penyebaran Islam dianak benua India, serta di sebagian benua  Eropa.


Menilik sejarahnya yang panjang, dengan semangat dzikir kaum tarekat bahu-membahu  mengislamkan Indonesia serta menjadi ujung tombak menentang masuknya  penjajahan di nusantara dan khususnya di Aceh. Kaphe-kaphe Belanda tak mampu menguasai seluruh Aceh dalam genggaman telapak tangan mereka sendiri, karena faktor begitu  mendalamnya pengaruh tasawuf dalam masyarakat  Aceh.


Kaum Tarekat tidak sibuk semata mendidik umat dengan dzikir dan keluhuran akhlak dan kedisiplinan yang ketat, kaum Tarekat menjadi faktor penting menjaga  di barisan terdepan berjuang bahkan berjibaku mempertahankan tanah air tercinta dari penjajahan kaphe-kaphe Belanda.
Dan basis kaum tarekat dengan corak tasawuf yang menentang keras penjajahan bukan hanya ciri khas  Indonesia, di berbagai belahan dunia kaum tarekat  sangat  diakui sebagai kelompok yang paling mampu menyebarkan nilai-nilai sejati Islam, dengan simbol utamanya  ‘rahmatan lil ‘alamin’.  Sampaipun dalam penyebaran Islam di Eropa dan Amerika, juga diiringi oleh berkembangnya aliran Tarekat (tasawuf) seperti Tarekat Ahmadiyah Idrisiyyah di Milan, Italia, serta tarekat Naqsyabandiyah al-Haqqani di Mountain View, California – Amerika Serikat, dengan membawa semangat nasionalisme Amerika Serikat dan membawa nilai-nilai universal. Tidaklah aneh bila  tarekat berkembang pesat dari dulu sampai sekaang dan tasawuf dan tarekat jadi salah satu khazanah umat Islam yang mendunia.


Dengan semangat fleksiel dari Tarekat (Tasawuf) inilah bangsa Aceh mempertahankan nasionalismenya tanpa mengorbankan pula semangat islam yang mendunia. Bila mencintai  Tano Aceh sebagai pengejawanahan dari hadits “Mencintai Tanah Air, separuh dari Iman”. Sedangkan dengan semangat Islam sesuai dengan ayat 107 surah al-Anbiya mengatakan: Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Ternyata semangat kaum sufi bisa selembut salju ketika menyebarkan Islam di Indonesia pada zaman wali-wali, terutama wali songodi Jawa, dan bisa pula sekeras batu, ketika para penjajah datang ke Indonesia dan di Aceh, mereka menemukan sekeras-kerasnya kaum sufi. Kaum sufi Aceh, bahkan lebih keras dari batu karang di lautan.


Itulah yang menyebabkan Nadzilah dan Khadijah Zakia selalu bergerilya mencari kaphe-kaphe Belanda untuk dibunuh dan dihabisi nyawa mereka, karena sangat berbahaya bagi kemerdekaan tano Aceh. Begitu pula Mukaram, Ahmad Ceubeh, Sidi Mahmud, Teungku Hanifah, Banta Sakim dan Razali, yang bersama-sama menyergap kaphe-kaphe Belanda di bivak mereka tatkala malam di kampung Blang Beurandang, sejumlah bivak kaphe-kaphe Belanda dihantam dengan lemparan dinamit oleh mujahidin-mujahidin Aceh. Sebentar saja, bivak-biva kyang terdiri dari kain terpal tebal itu terbakar dan orang yang di dalamnya berhamburan keluar. Begitu kaphe-kaphe itu keluar dengan lari kencang, tembakan dari seberang dari hutan-hutan sekunder sudah menyalak. Lalu, menyasar kaphe-kaphe Belanda yang setengah telanjang yang lalu berguguran seperti jatuhnya serangga-serangga yang berterbangan di tengah terang lampu lilin yang menyala. Dalam sekejap kaphe-kaphe Belanda di Blang Beurandang musnah dan hanya tersisa beberapa orang yang kemudian ditawan dan ditahan di tengah hutan di sekitar daerah Balang Beurandang.


Seperti Aceh tak pernah tenteram bagi tentara kaphe-kaphe Belanda, sama halnya bagi para maling, atau pezina, atau juga penjudi dan perampok, sering para ulama berkata kepada golongan seperti ini:”Sesungguhnya, hidup kalian tak akan pernah tenang, selama kalian menjalani hidup sia-sia seperti itu. Ketenangan akan datang, setelah kalian bertobat, lalu berjanji meninggalkan segala bentuk pekerjaan keji yang menjadi sumber dosa-dosa bagi diri kalian!”


Tapi kaphe-kaphe Belanda itu semua sebenarnya sedang mabuk, bagaimana bisa mengingatkan orang tengah mabuk? Orang mabuk, mana sadar bahwa dia berdosa? Menjajah, mabuk, sementara ajaran agamanya diletakkan di bawah telapak kakinya, itulah gambaran kaum kaphe-kaphe Belanda di tano Aceh . Sementara pemikirnya seperti Snouck Hurgronje, Schmist, mencoba mengotak-atik dengan mengotak-kotakkan umat islam sebagai Islam fundamentalis, Islam Arab, Islam Nusantara, Islam radikal, Islam teroris,Islam ekstrim. Dengan cara memberi stigma terpecah dan buruk seperti itu, mereka mencoba membenturkan umat islam satu sama lain dengan stigma-stigma yang buruk tersebut.Bagi umat Islam yang lemah dan mudah terpancing, stigma seperti itu menjadi faktor terpecah-belahnya umat dan ulama, serta aliran-aliran yang seakan disengaja disebarkan di tengah umat Islam Aceh.

 

Untuk kemudian masing-masing aliran dan kelompok-kelompok dengan stigma-stigma negatif itu dibenturkan antara satu dengan yang lain, pemerintah kaphe-kaphe Belanda berada di tengah-tengah sebagai wasit. Setelah mereka hancur karena perpecahan dan perseteruan yang sengit, kaphe-kaphe Belanda tinggal mengultimatum mereka yang berada dalam sakratul maut itu, untuk menyerahkan tanah, bangsa dan Negara kepada penguasa kaphe-kaphe Belanda.Dan ternyata polaitu masih terus dilakukan oleh penjajah lain yang rambut dan mata mereka boleh berbeda, tapi kandungan yang terdapat dalam otak dan hati mereka sama, yaitu penjajahan,  penindasan serta penghisapan. (Bersambung)  
 

 

Category: 
Loading...
Jumat, 25 May 2018 - 02:12
Jumat, 25 May 2018 - 01:55
Jumat, 25 May 2018 - 01:45
Jumat, 25 May 2018 - 01:36
Jumat, 25 May 2018 - 01:30
Jumat, 25 May 2018 - 01:24
Kamis, 24 May 2018 - 23:02
Kamis, 24 May 2018 - 22:57
Kamis, 24 May 2018 - 22:46
Kamis, 24 May 2018 - 21:18
Kamis, 24 May 2018 - 21:09
Kamis, 24 May 2018 - 20:32

Pages