21 April 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (22

Episode 5

Semangat Jihad Semakin Membara 

Bagian Kedua          

5            

Pahit getirnya perang Aceh, riuh rendahnya pertempuran di seluruh negeri, kaphe-kaphe Belanda kadang ngeri berhadapan dengan sebagian mujahidin-mujahidin Aceh. Mereka mendengar ada prajurit tanah perlawanan yang memakai “Rante Bui”. Terutama kaphe-kaphe Belanda dari Ambon, jawa, manado, Madura atau dari Bugis. Seorang Letnan yang sangat  fasih berbahasa Aceh,bertugas didaerah Jeuram dan Seunagan. Letnan Schmist , sang petinggi kaphe-kaphe Belanda itu dipusingkan dengan jatuhnya anak buahnya menjadi korban pembegalan mujahidin-mujahidin Aceh setiap hari.

Di  Krueng Beutong, dua serdadu Schmist dipancung dengan pedang dari belakang,lalu di dorong ke Krueng (Sungai) Beutong), maka prajurit kaphe Belanda yang sudah sekarat dilukai pedang dengan mudah tenggelam di Krueng Beutong. Saat kedua prajurit  itu dipancung bagian lehernya dan yang lainnya ditetak kepalanya sehingga darah mengucur lalu langsung terpaksa terjun ke sungai, didorong orang-orang siluman yang tak diketahui jejaknya. Sejenak air sungai  yang bening itu menjadi merah, dan prajurit kaphe-kaphe Belanda itu kian melemah karena kehabisan darah dan  luka yang terlalu lebar tak sanggup mereka menahan sakitnya dan kian melemah.Akhirnya mereka tenggelam di Krueng Beutong, selesailah hidup dua prajurit kaphe-kaphe Belanda yang jadi marsose dari pulau Seram (Maluku) itu.

Bergidik bulukuduk  Schmist, sang Letnan yang diyakini sebagai pengganti Snouck Hurgronje yang bertugas mencari informasi  tentang budaya pedalaman Aceh, termasuk desa Jeuram, Seunagan,   sampai ke Beutong.  Ketika pecah pertempuran di Seunagan,  seratus prajurit Kaphe Belanda seperti tak mampu melumpuhkan mujahidin-mujahidin Tano Aceh.  John Boyle (prajurit kaphe dari Ambon)  menembak Abdul Aziz, tapi ia maju terus ke hadapan John Boyle dan tak sebutir peluru pun melukai tubuhnya.

Ada apa gerangan? John Boyle terheran-heran dengan kekebalan Abdul Aziz yang asli Seunagan itu. Taklama kemudian Abdul Aziz menghilang dan muncul kembali dari arah belakang. Tak lama,tiba bantuan  ratusan tentara  kaphe-kaphe  di Seunagan, maka pecah pertempuran. Kecamuk perang semakin berkobar.Schmist hamper saja tertebak dipunggungnya, karena seorang serdadu mujahidin Aceh melepaskan tembakan ke arah Schmist. Syukur,ia selamat dari tembakan itu, karena begitu cepat ia merunduk dan peluru lewat di atas kepalanya.      

Schmist akhirnya mendapat kabar tentang kalahnya seratus tentaanya yang bertempur di daerah Jeuram dan Seunagan. Dengan mengutus mata-mata,Schmist seakan mengirim banyak juru berita untuk mengorek apayang menyebabkan kemenangan mujahidin-mujahidin Aceh,dimana 50 tentara kaphe Belanda diseret ke tebing-tebing yang dari atasnya, sebagian prajurit mujahidin Aceh menggelundungkan batu-batu besar ke serdadu kaphe Belanda yang terluka dan telah melemah tubuhnya. Begitu terbentur batu yang digelundunjgkan dari atas bukit, korban-korban luka-luka kaphe Belanda itu langsung tewas karena dihantam batu gunung sebesar tubuh kerbau.

Tahulah Schmist kini, sebagian para mujahdin itu,kabarnya memakai ‘jimat’- rante bui- atau dalam bahasa Melayhunya, rantai babi. Berita itu simpang siur datangnya. Ada yang mengatakan , rantai babi itu didapat dariCOtPlieng, yang memang ahli dalam memburu babi di hutan.

Konon rantai babi itu terdapat pada taring babi siluman jantan. Dan itu milik orang siluman atau bangsa kate yang merupakan bukan manusia biasa.Tapi jenis makhluk jin yang hidup di hutan lebat didaerah Beutong yang terdiri dari gunung-gunungdan hutan primer (perawan). Agaknya kaphe-kaphe Belanda jeri (takut) tinggal   dan bertugas di daerah Nagan, terutama  di wilayah Jeuram dan Seunagan,yang sepi,sunyi dan menyeramkan. Darah kaphe-kaphe Belanda  hamper setiap hari tumpah di daerah Jeuram dan Seunagan dan juga didaerah Beutong, tepatnya di sungai Beutong.

Rantai babi, atau Rante Bui tersebut  dijaga dengan penjagaan superketat oleh orang Kate.Penjagaan yang supoer ketat ini, menjaga agar  babi jantan itu tak diincar manusia untuk diambil rantai yang terdapat pada taring di mulutnya tersebut.  Bangsa Kate atau orang Halimun itu adalah sejenis mahluk halus atau orang gaib, tingginya tak lebih setinggi pinggang manusia dewasa daribangsa manusia. Dikabarkan bahwa  yang tingginya hanya sepinggang orang dewasa pada umumnya dan dia tak memiliki garis yang membelah hidungnya. Dalam kisah perlawanan mujahidin-mujahidin Tano Aceh memanfaatkan keberadaan mereka ini untuk mengacaukan garis pertahanan  bangsa kaphe-kaphe Belanda.   

Kata sebagian cerita, Cik DiTiro memakai “rante Bui” untuk melawan kaphe-kaphe Belanda. Bila dilihat dari integritas keulamaan dan  ketauhidan Cik Ditiro, sebenarnya hal tersebut tidaklah benar. Karena memakai jasa Jin atau makhluk halus untuk berjuang,  adalah terbilang syirik, atau menyekutukan Allah ‘Azza wajalla. Apalagi, sebenarnya pada masa Belanda merangsek Aceh,  orang-orang Aceh bukanlah dipimpin oleh para ulama yang dukun. Maksudnya ulama yang tingkat ketauhidannya diragukan kemurniannya kepada Allah Swt. Orang Aceh zaman dulu,  selalu dipimpin oleh para ulama yang merapalkan wirid-wirid yang diambil dari al-Quran dan hadits nabi.

Ada kalimat tauhid  "Laailaaha-illalah, Muhammadurrasulullah fikullilamhatin wanafasin ‘adadamwasi’ahu ilmullah", yang dibaca oleh setiap orang Aceh 300 kali sehari semalam. Ada lagi, wirid berikutnya membaca al-Quran satu juz sehari semalam.Ada lagi  kewajiban membaca shalawat nabi minimal 100 kali sehari semalam. Ada lagi membaca Ya hayyu ya qayyum, seribu kali sehari semalam. Sebenarnya setiap bacaan wirid tersebnut tidaklah dibatasi, harus dibaca sebanyak-banyaknya. Tetapi dalam praktek zikir itu ada 3 tingkatan. Pertama zikirjahar (zikir keras) yang dilaksanakan secara berjamaah, atau munfarid (sendiri) juga boleh. Kedua zikir khafiy (tersembunyi) di dalam hati. Dan ketiga ada zikir sir (zikirrahasia) yang lebih dalam lagi dan lebih tersembunyi dibanding zikir khafiy.Nah, wirid yang dibatasi hanyalah pada wirid zikirjagar(keras) secara berjama'ah atau sendiri. Pada zikir khafiy dan sir, dilaksanakan tanpa batas. Di sinilah poin penting dari zikiryang tak dibatasi. Sat zikirrutin (pembacaan wirid-wirid) biasanya sehabis shalat tahajud atau usai shalat subuh. Nah,ketika bekerja di sawah, ketika bergerilya di medan perang, zikir khafiy dan zikir sir itulah yang digunakan.  Sehingga waktu 24 jam tidak waktu yang terluang tanpa digunakan untuk berzikir kepada Allah.

Maka inilah warisan orang-orang Tarekat yang dulu merajalela dianut oleh masyarakat Aceh, di antaranya Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naqsyabandiyan, Tarekat Samaniyah ,Tarekat Sanusiyyah,Tarekat Muhammadiyah dan masih banak lagi. Dengan mengamalkan Tarekat itulah setiaporang Aceh melawan kaphe-kaphe Belanda yang mencuri masuk ke Negara dan kampung halaman mereka tanpa ada undangan resmi dari rakyat Aceh.   Begitu saja mereka masuk kampung –kampung orang Aceh tanpoa permisi dan mengucapkan salam. Maka terhadap perbuatan seperti ini, Orang Aceh langsung mengayunkan kelewang mereka dan menebaskannya keleher mereka, atau menusukkan rencong ke dada mereka, hingga kaphe-kaphe Belanda itu terluka atau tewas karenanya.

Jika ada yang mengatakan sebagianulama Aceh menggunakan rane bui, itu sesungguhnya merendahkan martabat dan kemuliaan ulama Aceh itu sendiri. Seakan-akan pada masa lalu,para ulama Aceh  terdiri dari orang-orang yang tak percaya kepadaNya, tapi percaya kepada Iblis atau Syetan. Sehingga ilmu ‘Rante Bui” itu adalah ilmu sihir yang berasal dari Jin.  Setiap Muslim, apalagi ulama, haram menggunakan ilmu sihir. Pada akhirnya menyamarkan ulama Aceh dengan dukun,sebagaimana banyak kita temui sekarang. Katanya kiyai, tapi orang pintar. Kalau kiyai ya kiyai, mereka selalu berwudhu untuk selalu mensucikan tubuh dan jiwa mereka. Sementara orang pintar adalah dukun, yang selalu dekat dengan api dan perapian, agar usahanya tetap jalan guna menyhihir atau menyakitiorang lain lewat ilmu sihirnya. Dan itu lebih dianut (dipakai) oleh dukun dibanding para ulama.

Oleh karena itu, ketika Sykeh Mujab memberikan tausiyah pada pengisian ruhaniyang ke 402, mengatakan:”Barangsiapa dari setiap mujahidin Aceh pergi ke dukun, maka tak akan diterima amal shalatnya selama 40 hari, sampai ia bertobat kembali. Itu dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw lewat hadits ini diriwayatkan oleh  Ahmad dan Ashabus Sunan.

Walau pun kaphe-kaphe Belanda mempunyai bukti bahwa ada ‘rante bui’ yang tersimpan di Museum kota  Amsterdam,  dalam etnografia Aceh. Dan juga bukan milik ulama Cot Plieng,sebagaimana disebutkan oleh paraahli sejarah kaphe Belanda semacam Zentraaff. Kalau pun ada yang memakai ilmu-ilmu seperti, pastilah rakyat biasa yang tak memiliiki ketauhidan yang kuat. Percumalah Aceh disebut dengan “serambi Mekah”.(Bersambung)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...