25 May 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (19)

Episode 2, Bagian 2  

Inilah watak bangsa Aceh yang sesungguhnya, mampu menempatkan kata jihad secara tepat.  Di Aceh saat perang berkecamuk di zaman Belanda, jihad yang tepat adalah seperti sabda Nabi Muhammad Saw berikut:” “Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan kalian”. Nah, ada yang mempermasalahkan bahwa Nabi di zaman dahulu bukan berperang melawan kaum Nasrani atau yahudi.

Melawan hawa nafsu, adalah jihad terbesar dan paling sulit. Nafsu yang ada pada tiap diri manusia selalu mendorong pemiliknya untuk melanggar perintah-perintah Allah Swt. Dengan tetap setia menjalankan perintah-Nya, berarti umat Islam berjihad melawan hawa nafsu. Karena itu, jihad melawan nafsu dan jihad melawan kaphe-kaphe Belanda dapat berjalan sekaligus. Karena di medan perang Aceh ini ada pejuang Aceh yang mau dibujuk dengan uang, dan mengaku kalah, sebagaimana halnya Mak Itam (Habib  Abdur-Rahman) sehingga ia mengadakan perjanjian rahasia dengan kaphe-kaphe Belanda untuk dibuang ke Yaman dengan digaji 100 gulden sebulan. Tetapi alangkah menarik ketika seorang Said Muniruddin menulis “Kritislah Terhadap Sejarah yang mengeritik tulisan M.Adli Abdullah terhadap Habib Abdurrahman Azzahir. Said Munirudin mengatakan bahwa berkhianatnya Habib Itam, adalah upaya Snouck Hurgronje memecah belah ulama dan umat Islam. Satu dari golongan ulama terkenal di Aceh adalah para Habib. Wallahu’alam bishshawab.

Tetapi marilah kita kembali ke pertempuran yang terus berkecamuk, di tengah kecamuknya perang, jenderal kaphe-kaphe Belanda yang dikalungkan medali hadiah dari Raja Willem II, pembawa medalinya  yang melangkah dengan ketat beserta langkah-langkah tegap dengan penghormatan yang khusuk kepada Gubernur Jenderal kaphe Belanda di Kutaraja, ia menggunakan ikat pinggang  bertuliskan “ATJEH 1873-1874 dan di pita yang dikenakannya tertulis “Ereteken voor Belangrijke Krijgsbedrijven”  Pada medali terlihat  salib Militaire Willems-Orde & Medaille voor Moed en Trouw. Demikianlah penghormatan dan anugerah medali diberikan kepada orang-orang kotor oleh pemerintah kotor guna melakukan prohyek-proyek kotor dan busuk berupa penguasaan dan penjajahan terhadap bangsa-bangsa yang mereka pandang hina dan lemah.

 Setelah jihad yang didefiniskan melawan kaphe-kaphe di medan perang atau Jihad melawan musuh yang nyata., kini tiba pada makna jihad kedua, yaitu jihad menghadapi Iblis. Hendaknya setiap mujahidin Aceh tidak terpengaruh oleh segala bujuk rayu Iblis dan Setan  yang memerintah setiap mujahidin Aceh (atau manusia) agar  membangkang kepada Allah Swt.  Membangkang terhadap perintah”jihad” yang digerlorakan Allah Swt dalam ayat 190 surat al-Baqarah.

Maka setiap kampung di tanah Aceh mempersiapkan semangat jihad dan memasukkan niat jihad ke setiap anak-anak muda Aceh untuk maju ke jihad besar sesuai kondisi dan situasinya. Berarti, semua bentuk jihad itu akbar (besar) semuanya,menurut situasi dan kondisi.   Sebab, kaphe-kaphe Belanda itu adalah perwujudan Iblis secara nyata yang lebih berbahaya dari Iblis  yang tidak terlihat.
Tetapi ketika perang sudah usai, iblis berupa manusia kaphe-kaphe Belanda itu tak kelihatan lagi dan kita sudah ada di masa damai, kita kembali ke jihad akbar (besar). Makna ganda di saat Jihad melawan kaphe-kaphe Belanda dulu sudah hilang. Kita menuju Jihad Besar, sebesar-besar Jihad. Karena musuh sungguh tidak terlihat, sementara kita tidak melihatnya.

Langit terasa rendah dan hujan disertai badai rasanya akan menghantam Aceh dari lautan samudera India. Langit hitam dan awan bergumpal-gumpal serasa tidak jauh dari kepala atau pohon kelapa. Hentakan kaki  prajurit-prajurit kaphe-kaphe Belanda yang berlatih baris berbaris di halaman gubernemen Aceh tak terdengar lagi di kuping Nadzilla. Sewaktu kecil, Nadzilla sering memperhatikan tentara kaphe-kaphe Belanda berlatih baris berbaris di halaman kantor gubernemen yang luas dan bersih itu.

Tak lama hujan geriimis begitu cepat berubah menjadi hujan besar disertai hempasan angin yang melempar pepohonan ke kiri dan ke kanan, seperti orang yang sedang berzikir membaca Lailaaha ilallah, laailaaha illallah, laailaaha illallah berulang-ulang dan terus menerus. Kepalanya dilemparkan ke arah kiri ketika ia membaca Laailaaha, dan  melemparkan ke kanan ketika membaca  Illallah.     Apakah alam sedang berzikir seperti seorang manusia yang sedang asyik berlatih mengingat Allah dengan mujahadah yang luarbiasa dan rutin dilakukannnya, agar kalimat-kalimat tinggi dan suci itu terus melekat di dalam hatinya. Laailaaha illallah, Muhammadurrasulullah fi kullilamhatin wanafasin ‘adada mawasi’ahu ilmullah. Begitulah seorang murid Tarekat Suluk itu mengulang-ulang bacaannya. Sudah puas ia baca 300 kali kalimat   :” Laailaaha illallah, Muhammadurrasulullah fi kullilamhatin wanafasin ‘adada mawasi’ahu ilmullah” , ia kini hanya membaca Laailaaha illallah, Laailaaha illallah, Laailaaha illallah, Laailaaha illallah, Laailaaha illallah.

Dan lama kelamaan ia hanya mengucap Allah, Allah , Allah ,Allah Allah, Allah , Allah. Lalu kata Allah itu tenggelam ke dalam hati. Itu namanya zikir Sir. Hanya si murid dan Allah saja yang tahu apa yang dibaca dalam hati, dalam zikirnya. Allah, Allah, Allah, Allah , Allah, hingga ia tenggelam ke dalam maujud Allah. Tidak ada yang lain, kecuali Allah. Tak ada yang maujud kecuali hanya Allah. Sedang dirinya, sedang alam semesta beserta isinya adalah bayang-bayang Allah.

Karena itu berjihadlah kita dari bayang-bayang Allah ke hakikat Allah. Sebuah perjuangan yang terasa pahit dan menyesakkan.Tetapi Allah Swt selalu menyertai para hambaNya yang berjuang di jalan jihad, akan dimudahkan “jihad”nya. Orang yang berkhianat, akan dipersulit Allah langkah-langkahnya. Dalam ayat 260 surat Al-Baqarah, Allah menyinggung rahasia-rahasia yang terkandung dalam hati manusia, terkait dengan bergejolaknya perang. Kata Allah Swt: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Jihad  dalam pengertian yang benar menurut agama Islam bukan satu upaya memamerkan kekejaman untuk melumpuhkan  orang bukan Islam. Jihad  adalah nama yang teramat agung yang diberikan kepada satu perjuangan yang membuat yang seorang Muslim harus melancarkan terhadap Kejahatan  dalam bentuk dan  rupa apa pun. Perintah Jihad buanlah perintah yang tergesa-gesa, terburu-buru sehingga akal,kesabaran,ketabahan, dan tawakal kepada Allah dikesampingkan. Nabi Muhammad Saw dizlaimi selama 13 tahun di Mekah,apapun penderitaan diterima oleh Nabi dengan sabar, tawakal dan tabah.

Pada tahun  ke-5 sejarah dakwah Rasulullah Saw, di kota Mekah, kaum Quraisy dengan segala upaya berupaya  melumpuhkan gerakan dakwah beliau. Pemboikotan itu  dibuktikan dengan pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib - dua keluarga besar  penting nabi Muhammad Saw yang dijadikan sasran boikot. Ini  beberapa poin  pemboikotan kepada dua keluarga besar nabi Muhammad Saw tersebut: 1. Memutuskan hubungan perkawinan.2. Memutuskan hubungan jual beli.3.Memutuskan hubungan ziarah-menziarahi.4. Tidak ada tolong menolong.

Demikian kejamnya sikap kaum kafir Quraisy,sehingga pemboikotan tersebut  tertulis di atas selembar sahitah (plakat) yang digantungkan di Kakbah. Plakat tersebut   tak akan dicabut sebelum Muhammad Saw. menghentikan gerakan dakwahnya.  3 tahun Bani Hasyim dan Bani Muthalib menderita kemiskinan akibat pemboikotan yang sangat tidak adil itu. Banyak pengikut – pengikut Nabi hijrah  ke luar kota (Mekah)hanya sekedar  untuk mempertahankan hidup, dan menyelamatkan akidah.  Ancaman pembunuha  terhadap nabi Muhammad juga diterima oleh Nabi.Duka Nabi diperparah dengan meninggalnya dua orang pelindung setia,yaitu Abu Thalib (paman)  dan Siti Khadijah (istri) beliau.  Namun Nabi Muhammad belum diperbolehkan membalaskan segala kezaliman dengan kekerasan (maksudnya: Perang). Allah justru menghibur nabi dengan menaikkan beliau ke langit (Israk Mi’raj).

Setelah nabi Muhammad melakukan hijrah, penindasan kafir Quraisy tak pernah berhenti. Kesabaran, sekalilagikesabaran masih diperintahkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad dan para sahabat di kota Madinah. Menjelang pecahnyaperang Badar, Allah mengabadikan sikap sombong,angkuh dan petantang-petenteng Abu Sufyan pemimpin Quraisy b=sebagai berikut:

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan…” (Qs. Al-Anfal: 47)

Ghazwāt badr, atau Perang Badar, sebuah  pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuh yang telah menindas kaum Muslim (khusunya Nabi Muhammad) sejak awal dakwah beliau. Ini terjadi pada 13 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang jumlahnya 1.000 orang (3 kalilipat jumlah kaumMuslimin). Setelah bertempur habis-habisan selama dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan kafir-kafir  Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Inilah buah kesabaran nabi Muhammad Saw bersama para pengikutnya yang telah ditindas, dizalimi, diboikot, dimiskinkan, dianiaya,bahkan disiksa da nada pula yang dibunuh. Perang Jihad, turun bukan karena nafsu nabi Muhammad Saw, karena pertimbangan akal nabi dan pertimbangan hawa nafsu nabi. Jihad, adalah perintah Allah kepada kaum Muslimin, karena setelah sabar sedemikian lama (15 tahun) disiksa, dianiaya, dizalimi, dan kemudian kaum kafir Quraisy menyerang pula ke Tanoh Madinah pada tahun ke 2 Hijrah (berarti 15 tahun sejak awalnya nabi Mmenyebarkan islam di kota Mekah).
Apakah kaum Muslimin Aceh memulai perang Jihad kepada kaphe-kaphe Belanda?

Ketika ultimatum kaum kaphe Belanda hendak menyerang Aceh pada  bulan Maret 1873, sultan Aceh selalu berendah hatidan berendah diri kepada kaphe-kaphe Belanda yang dipimpin oleh Loudhon. Dan bangsa Aceh tak pernah merangsang, memprakarsai, dan mengundang kaphe-kaphe Belanda untuk menyerang ke Aceh. Bangsa Aceh memaknaikesabaran nabiMuhammad Saw sejak awal dakwah nya di kota Mekah, sampai terjadi Perang Badar di Mekah – karena diserang kafir-kafir Quraisy. Begitu juga bangsa Aceh, dengan harap-harap cemas, dengan sabar, dan tawakl penuh kepada Allah,menunggu-nunggu kaphe-kaphe Belanda yang dengan sombongnya menyerang Aceh tepat pada 26 Maret 1873 kaphe-kaphe Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Pada 5 April 1873, kaphe-kaphe Belanda mendarat di Pante Ceureumen di bawah komando jenderal besar Johan Harmen Rudolf Köhler. Kezaliman dengan segala cara dilakukan jenderal besar Johan Harmen Rudolf Köhler dan langsung menaklukkan umat Islam di i Masjid Raya Baiturrahman. Köhler saat itu membawa 3.198 tentara. Sebanyak 168 di antaranya para perwira. Karena kesombongan, ya seperti kesombongan kafir-kafir Quraisy di padang Badar. Alhamdulillah, begitu pula dengan kemenangan bangsa Aceh di bawah banyak Panglima Perangnya dan akhirnya memenangkan peperangan jihad pertama – sebuah perang jihad terbesar selama Nangroe Aceh Darussalam berdiri, yang berakhir dengan kekalahan kaphe-kaphe Belanda.

Dalam Perang Badar, ‘Abdurrahman bin ‘Auf bercerita tentang kematian Abu Jahal.

“Ketika Perang Badar aku benar-benar berada di tengah barisan. Tiba-tiba saja dari sisi kanan dan kiriku muncul dua orang pemuda yang masih sangat belia sekali. Seakan-akan aku tidak yakin akan keberadaan mereka. Aku berharap seandainya saat itu aku berada di antara tulang-tulang rusuk mereka. Salah seorang dari mereka berkata kepadaku sambil berbisik, ‘Paman, tunjukkan kepadaku mana Abu Jahal.’ Kukatakan kepadanya, ‘Anakku, apa yang akan kau perbuat dengannya?’ Pemuda itu kembali berkata, ‘Aku mendengar bahwa ia telah mencela Rasulullah. Aku pun berjanji kepada Allah seandainya aku melihatnya niscaya aku akan membunuhnya atau aku yang akan mati di tangannya.’ Aku pun tercengang kaget dibuatnya. Lalu yang lainnya langsung memelukku dan mengatakan hal yang sama kepadaku. Seketika itu aku melihat Abu Jahal berjalan di tengah kerumunan orang. Aku berkata, ‘Tidakkah kalian lihat? Itulah orang yang kalian tanyakan tadi.’ Mereka pun saling berlomba menghayunkan pedangnya hingga keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.”

Apa dan bagaimana cerita orang Aceh tentang kematian Jenderal besar kaphe-kaphe Belanda, Johan Harmen Rudolf Köhler? Allahu Akbar, perang Jihad bukan perang yang murah dan gampang dilelang. Seperti melelang barang dagangan yang sangat murah harganya. Perang Jihad adalah Perintah Allah, dan perintah Allah kepada umat islam (kaum Muslimin) setelah melakukan kesabaran dan ketabahan yang sedemikian lama   karena dizalimi. Di puncak kesabaran dan penderiaan mereka  lalu diserang oleh kaum kafir (bahasa Aceh: Kaom Kaphe), barulah umat islam dibolehkan berjihad. Bukan jihad ala teroris yang diprakarsai oleh Agen-agen rahasia dari Negara-negara Adikuasa, dan memberi sejumlah uang (yang dari ukuran agama tidak seberapa) sebagai imbalan bagi teroris yang nekat.(Bersambung)

Category: 
Loading...
Jumat, 25 May 2018 - 02:12
Jumat, 25 May 2018 - 01:55
Jumat, 25 May 2018 - 01:45
Jumat, 25 May 2018 - 01:36
Jumat, 25 May 2018 - 01:30
Jumat, 25 May 2018 - 01:24
Kamis, 24 May 2018 - 23:02
Kamis, 24 May 2018 - 22:57
Kamis, 24 May 2018 - 22:46
Kamis, 24 May 2018 - 21:18
Kamis, 24 May 2018 - 21:09
Kamis, 24 May 2018 - 20:32

Pages