24 February 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (17

Episode  17

Aceh – Dunia Yang Sedang Dicari Kaphe Belanda 

Bagian Pertama

17

 

Berbicara tentang Sultanat Safiatuddin Syah atau lengkapnya Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah bukanlah hebat dalam medan perang seperti Ratu Jihad yang keras dan tak kenal kompromi terhadap kaphe-kaphe Belanda, Cut Nyak Dien. Sultanat Safiatuddin Syah juga bukan seperti perempuan Admiral Laut kesultanan Aceh, Admiral Malahayati yang sangat temperamen dan ditakuti kafir-kafir Portugis  dan kaphe Belanda. Dia juga bukan Ratu dalam masalah agama seperti Pocut Baren atau  guru yang tak pernah kenal lelah di depan murid-muridnya seperti Cut Meutia yang ingin memajukan bangsanya dari jenjang bangku pendidikan.

 Sultanat Safiatuddin Syah adalah Ratu dalam bidang peradaban,kebudsayaan, ratu penulis Aceh yang belum pernah tertandingi oleh perempuan Aceh lainnya.Perempuan cerdas, cekatan, ramah  dan murah senyum kepada rakyatnya. Sultan perempuan ini walaupun kurang hirau terhadap kekuatan militer,  namun sangat peduli dan perhatian penuhnya terhadap  urusan  pemerintahan, sastra , pendidikan,  penulisan buku, masalah keagamaan dan perekonomian. Pada titimangsa  1668, ia sangat memperhatikan masalah dakwah. Karena itu pada tahun tersebut ia utus para ulama Aceh ke negeri Thailand (Saat itu Thailand disebut negeri Siam) guna menyebarkan agama Islam di negeri utara tersebut.

Tradisi kepenulisan  ratu Safiatud-din Syah ini merupakan estafet peradaban dan kebudayaan Aceh yang dibangun oleh Sultan (Raja)sebelumnya, seperti ayahnya, Sultan Iskandar Muda. Namun di tangan Ratu Safiatuddin inilah perkembangan peradaban dan kebudayaan Aceh yang tertinggi ada pada masanya.  Perpustakaan untuk rakyat didirikan pada masa pemerintahannya.  Dengan pesatnya perkembangan kebudayaan dan Peradaban islam diAceh itulah, maka Aceh dikenal sebagai pusat perkmbangan sain, ilmu pengetahuan, , pemikiran keagamaan, pusat pengajaran serta  pusat perdagangan internasional yang pengaruhnya  tidak hanya di Nusantara, namun juga sampai ke Negara-negara Asia, Eropa dan Afrika. Lebih kurang empat   4 abad lamanya (antara 1514  sampai 1903) terdapat 35  Sultan (Raja) pernah memerintah kesultanan  Aceh  di antara  35  itu ada  4  sultan perempuan (Ratu) yang mencatat prestasi gilang gemilang.

Agaknya, mendapat pengaruh dari Sultan Iskandar Muda ayahnya, ia juga mensponsori yang  mendorong ulama-ulama  dan cerdik pandai Aceh  mengembangkan sains dan  ilmu pengetahuan. Dan ini ternyata pengaruh nyata dari  tradisi para khalifah Arab di kekhalifahan Umayah,atau Khalifah Abbasiyah di era sebelumnya. Dimana ia memberikan imbalan yang besar kepada para ulama atau para sarjana Aceh yang mampu menulis (menghasilkan)  buku-buku ilmu, sains  pengetahuan , filsafat, tasawuf, ekonomi dan buku-buku tentang fikih dan buku keagamaan lainnya.

Banyak ide-ide jenial yang telah ia cetuskan selama ia memerintah, di antaranya,  ia menerbitkan mata uang emas ,  membentuk lembaga ekonomi Negara dan mengeluarkan kebijakan cukai untuk para  pedagang asing.  

Sultanah Safiatuddin juga menciptakan sebuah  bermusyawarah, dan juga rumahnya (sekarang gedungnya) sekalian yang bernama  Balai Rungsari. Sultanah Safiatuddin juga melahirkan Balai Gadeng, Balai MMMR (DPR) zaman Aceh klasik.Sulatanah Safiatuddin adalah pendiri dan penegak yang meninggalkan jejak besar bagi martabat dan muru’ah  perempuan Aceh. Walaupun jauh sebelum kerajaan Aceh Darussalam, beberapa perempuan Aceh juga pernah menjadi Suulatanah, yaitu Ratu Ilah Nur, Ratu yang memerintah Kerajaan Pasai yang wafat pada titimangsa 1365 . Satu lagi Ratu Nahrasiyah, jjuga Ratu kerajaan Pasai.

Namun Sultanah Safiatuddin Syah adalah Ratu atau Sultanah peletak dasar-dasar pemikiran bagi kemajuan bangsa Aceh, tertauama bagi kaum perempuan. Dia bukan saja dijuluki Ratu (Sultanah), bukan pula seorang Politikus, tapi negarawan yang memilikibanyak jasa atas bangsa Aceh. Sulatanah Safiatuddin wafat pada titimangsa 3 Oktober 1675. Sepeninggal beliau, kursi kosong Sultan  Aceh  masih diisi oleh raja perempuan, yakni, Sultanah  Naqiatuddin dengan gelar Sri Sultan Nurul-Alam Naqiatuddin Syah.

Perempuan Aceh memang bukan perempuan biasa.  Jabatan yang biasa dipegang laki-laki, perempuan Aceh juga bisa memegngnya, seperti kepala Negara. Mereka bisa memerankan diri sebagai apa saja, selain kepala negara, juga panglima perang, Menteri Pertahanan, menjadi guru , menjadi penyair dan penulis handal. Bukan hanya laki-laki yang mampu menulis syair Perang Sabil, perempuan Aceh pun sangat terampil memimpin peleton perang, memobilisir mujahdin-mujahidin Aceh melakukan perang gerilya, atau perang terbuka.    Bila perempuan Aceh mengetahui dengan pasti bahwa suami mengkhianati perjuangan bangsanya  tak segan-segan ia mengajukan  perceraian dengan suaminya. Sebuah ketegasan dan karakter yang jarang dimiliki perempuan di luar Tano Aceh.

****************

 Rupanya, dalam pengajian terakhir di musim Perang Sabil ditahun `1893, Syekh Mujab  mengetahui tentang diskusi panjang Teungku Hanifah dengan Batan Sakim dan Razali. Dalam pengisian ruhani malam ke   402. Mula-mula Syekh Mujab menerangkan dengan kedalaman hati. Pertama sekali Syekh Mujab menerangkan tentang hati yang terdapat di dalam dada.  Di dalam dada ada Qalb. Di dalam Qalb  itu ada Fuad. Di dalam Fuad ada Sirrun. Nah di dalam Sirrun (rahasia) itu ada Sirrun Asrrar. Tempat dimana tersembunyi Rahasia dari segala Rahasia. Bila Sirrun Asrar ini diisi oleh dzikir (ingat) kepada Dzat Allah yang tinggi, hebat, dan tak diragukan oleh hatinya, maka hati itu akan menjadi tenang.

Syekh menerangkan satu persatu tentang Shadr (Dada)., Qalb, Fuad, Sirrun dan Sirrun al-Asrar.

Shadr adalah bermakna  hati bagian luar, istilah ini lazim  diartikan sebagai dada. Namun  dada  ada dada yang bersifat fisik da nada dada dalam pengertian non-fisik. Amir An-Najr, mengatakan:  shadr adalah  pintu masuk segala macam godaan dari nafsu, penyakit hati dan tentu pula tempat masuknya  petunjuk dari Tuhan. Shadr juga menjadi  tempat masuknya ilmu pengetahuan ke dalam dirinya manusia. Shadr atau dada adalah wilayah pertempuran utama di antara kekuatan jahat dan kekuatan baik dalam diri  manusia. Inilah tempat dimana manusia di uji dengan kecendrungan-kecendrungan negatif nafsu. Termasuk kecenderungan menyenangi “rook” (air kencing Iblib), daripada menyenangi Allah dengan selalu ingat (dzikir) kepadaNya.

Kata “shadr” ( dada ) di dalam bahasa Arab seakar dengan “akal”. Dialah  tempat seluruh pengetahuan yang dapat dipelajari dengan dikaji dihafalkan dan usaha individual serta dapat didiskusikan, ditulis atau diajarkan kepada orang lain, atau Ilmu Burhani.

Kemudian Syekh Mujab menerangkan: Qalb, apa itu Qalb? Inilah lapisan hati yang kedua dari hati manusia. Bahasa  Indonesia mengartikannya menjadi  kalbu atau hati. Sebagian paraahli mengumpamakan  Qalb dengan Shadr. Keduanya bagaikan  sumber mata air dan danau.  Shadr adalah  danaunya,  sedangkan  Qalb mata air tempat air mincrat pertama kali.

 

Terhadap dua hal ini, Nabi Muhammad Saw mengatakan terdapat 2 jenis pengetahuan.  1. Pengetahuan lidah (Shadr). 2. Pengetahuan hati (Qalb).   

Hati memuat prinsip-prinsip pengetahuan yang mendasar. Hati itulah  akar dari pebngtahuan  dan dada adalah pohon dan cabang serta daunnya. Orang-orang Barat atauorang-orang modern, selalu bepegang kepada pengetahuan  yang berasal dari pohon, dahan, cabgnserta daun ini.

Yang ketiga, Syekh Mujab menerangkan tenang  fuad.Inilah  lapisan hati yang ketiga. Sebagian ulama mengatakan dengan istilah  “afidah”.  Bahasa Arab mendefinisikan  “fuad” atau ‘afidah, artinya  hati.Namun lebih dalam dari Qalb, Para ulama tasawuf mengatakan bahwa kata “fuad” biasa ditujukan kepada  “hati yang lebih dalam”

Yang keempat, sebut Syekh Mujab, adalah ‘Sirrun’. Rahasia, yang tempatnya lebih dalam dari ‘Fuad’. Dan yang terakhir adalah ‘Sirrun al-Asrar’. Tempat yang terdalam dari hati. Bisa jjuga ditafsirkan sebagai tempat singgasana hati. Oleh karena itu, hati-hati terhadap singgasana ini.

Bila Sirrun Al-Asrar itu diisi oleh “Keakuan manusia”, akhirnya ia mengagung-agungkan “Aku”nya. Sehingga seluruh permukaan sampai ke kedalaman hatinya itu, yang masuk  hanya kata “Aku, Aku dan Aku”. Dan itu akan tergambar dari sikap sehari-hari dari orang tersebut.Ia akan terlihat bersikap sombong,angkuh dan tak peduli kebenaran, tambah Syekh Mujab.

Karena itulah kebanyakan orang merokok itu diawali sejak usia masih muda. Ketika ia belum sadar dan menyadari bahwa di dalam hatinya ada Sirrun al-Asrar(sebuah ruang yang rahasia dari segala rahasia/ tahta diraja dari orang tersebut. . Jika ruang ini diisi oleh Nikotin, nikotin dan nikotin yang tercampur dengan Aku, aku dan aku setiaphari. Maka akhirnya ia akan terus menyebut nikotin, aku, nikotin, aku, nikotin, aku. Artinya rokok, aku, rokok,aku,rokok dan aku. Hingga sulit ia membedakan antara akunya dengan kecanduan rokoknya (baca: Kecanduan kepada air (najis) kencing Iblis).  Bukan Allah, Allah dan Allah  dan kepada Allah Sirrun al-Asrar (Tahta Mahkota hatinya) ia bergantung . Berarti dia telah menaroh benda (makhluk) paling kotor dan paling merusakkan hati nuraninya,  yaitu air (najis) kencing Iblis, Kata Syekh Mujab.Dan akhirnya, antara mengingat Allah dan mengingat Nikotin, aku (perokok) lebih banyak mengingat Nikotin dan akunya.

Orang berakal sudah terlalu mudahlah menerima paparan tentang ini, tapi karena sirrun al-Asrarnya sudah disandera dengan sangat kuat oleh “Aku, aku dan aku” yang tercampur dengan “nikotin, nikotin dan nikotin”, maka sulit seseorang itu keluar dari penjara nafsu nikotinnya,sehingga ia meremehkan hukum rokok.  Akhirnya dengan enteng dan meremehkan hukum Allah, Rokok adalah sesuatu yang makruh saja sifatnya.Padahal sudah banyak korban-korban dari zat nikotin (air Kencing Iblis) ini yang bergeletakan jadi mayat-mayat yang mati kepanasan karena paru-parunya terbakar api, maka ‘sirrun al_Asrar’nya sudah tertutup oleh kecanduan nikotin dan kecintaan kepada “Aku”nya yang fana.Dia lupa kepada Allah yang ‘baka’, kekal dan abadi.  maka ia selalu menolak apapun tentang kebenaran, rokok itu adalah sesuatu yang menjijikkan, sesuatu yang haram. Syekh Mujab mengakhiri ceramah malam itu dengan semangat berapi-api. Orang yang doyan merokok, adalah orang yang  lebih mencintai kefanaan duniawi dan segala isinya, daripada mencintai kekalan Allah yang abadi dan hebat segala-galanya. Baginya yang hebat adalah kenikmatan nikotin air kencing Iblis. Padahal ada kenikmatan yang lebih hebat dan lebih dalam, yaitu  ketergantungan dari mengingat Allah. Zat yang segala-galanya, hebat dan besar tak tertandingi oleh apapun.

Terakhir Syekh Mujab berkata:”Orang yang sedangg melawan kecanduan nikotin dalam “Sirrun al-Asrar”  (Hati nurani)nya, berarti ia berada dalam Jihad Fi Sabilillah. Sama dengan prajurit dan mujahidin Aceh yang tengah berperang melawan kaphe-kaphe Belanda.

Orang yang syahid dalam upayanya mengurangi, memerangi dan meninggalkan kecanduan terhadap “rokok”yang berasal dari air kencing Iblis ini, maka ia langsung masuk ke surganya Allah ‘Azza Wajalla. Tapi orang yang selalu takluk dan kalah oleh nafsu nikotin yang bercampur dengan akunya yang berlumur air (najis) kencing Iblis – maka neraka yang bernyala-nyala telah menantinya di saat kematiannya. Demikian Syekh Mujab. (Bersambung)    

 

 

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...